Akhir-akhir ini hubungan Sabrina dan Hans semakin memburuk, apalagi dengan kedekatan Sabrina dengan Joe yang sempat tertangkap oleh Hans dan membuat pria itu cemburu buta hingga marah pada Sabrina untuk beberapa waktu. Sabrina sudah berusaha membujuknya, sayangnya pria itu sangat posesif dan sulit untuk memaafkan semudah itu.
Seminggu yang lalu, Joe dan Sabrina sempat ada pekerjaan untuk persiapan artis baru mereka yang akan debut untuk pertama kalinya. Ada banyak sekali keperluan dan staff yang sibuk untuk kelancaran artis baru tersebut, jadi memang membutuhkan banyak orang dan di dalamnya termasuk juga Joe dengan Sabrina.
Ketika mereka makan siang, secara kebetulan restoran di sekitar mereka cukup padat dan membuat kebanyakan staff berpencar karena waktu makan harus cepat-cepat karena memang mereka tidak memiliki banyak waktu untuk berleha-leha. Jadilah Joe dan Sabrina pergi berdua karena rekan kerja yang lain sudah memilih tempat makannya sendiri.
Saat itu Hans juga sedang makan siang dengan temannya dan memergoki mereka seolah mereka sedang kencan dan berselingkuh di belakangnya, padahal itu murni karena pekerjaan.
"Apa yang kalian lakukan berduaan seperti ini?" tanya Hans saat itu.
"Hans? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sabrina cukup panik. Ia bukan panik karena berselingkuh dengan Joe, tapi ia takut membuat kekasihnya itu cemburu padanya dab berakhir dengan tidak mempercayainya lagi.
"Jawab pertanyaan ku terlebih dahulu, Sa." desis Hans dengan tatapan yang tajam.
Sabrina menatap Joe sbentar, lalu kembali menatap kekasihnya, "Aku ada pekerjaan dari kantor bersama Joe dan rekan kerja yang lain."
"Lalu di mana rekan kerjamu yang lain itu?" tanya Hans sambil melihat sekelilingnya dan mencari tanda-tanda keberadaan rekan kerja Sabrina selain Joe. Kenyataannya Hans hanya melihat adanya Joe dan Sabrina saja di sana.
Joe masih menyantap makan siangnya tanpa terusik dengan kedatangan, pertanyaan, atau bahkan pelototan tajam dari Hans untuknya yang bisa ia rasakan sekalipun tidak melihat. Ia membiarkan saja Sabrina menjelaskan sendiri pada kekasihnya itu. Ia tidak ingin ikut campur apapun tanpa diminta.
Sabrina sangat panik ketika ia tidak menemukan teman-temannya dan harus menjawab pertanyaan Hans yang akan dibuntuti dengan perasaan curiga terus-menerus. "Ini jam makan siang Hans, jadi restoran sekitar agak ramai dan membuat kami makan secara terpisah. Pada akhirnya hanya aku dan Joe yang belum menemukan tempat, sehingga kami pergi berdua saja." Jelas Sabrina.
Hans melirik Joe dengan sinis. Tidak peduli bahwa pria itu adalah teman kuliahnya dulu dan mereka cukup akrab, tapi kalau Joe datang hendak mengusik hubungannya dan mendekati wanitanya, Hans tidak akan tinggal diam.
"Aku harap ini bukan sekadar alasan saja, Sa. Aku bisa mempercayaimu, tapi tidak bisa mempercayai orang lain dengan niat mereka." jelas Hans masih dengan tatapan tajam dan suara yang tidak bersahabat.
Sabrina mengangguk dan berusaha menyentuh lengan Hans, tapi pria itu langsung menghindarinya dan menunjukkan kecemburuan yang masih tertera jelas dari wajahnya. Sabrina menarik nafas kasar saat Hans memutuskan pergi bersama rekannya.
"Cepat selesaikan makanmu, Joe." ujar Sabrina sambil meneguk minumnya dan mengusap bibirnya dengan tisu. Ia kehilangan selera makan setelah mendapati kemarahan Hans tadi dan membuatnya jadi resah sendiri.
Joe mengangkat kepalanya saat melihat Sabrina berdiri sambil menyampirkan tas kecilnya di bahu, "Aku masih makan, Sa. Tidak bisakah kau menunggu sebentar lagi?"
Sabrina menghela nafas kasar dan berkacak pinggang, "Kau tidak melihat kecemburuan Hans tadi? Aku tidak suka bertengkar dengannya hanya karena dekat dengan orang lain, Joe, jadi aku tidak ingin memperlambat kebersamaan ini."
"Lagipula Hans sudah pergi dan tidak akan kembali. Kalau memang kau tidak berselingkuh denganku, kenapa kau harus merasa bersalah. Kita bahkan tidak melakukan perbuatan tercela di sini." jelas Joe dengan alasan yang masuk akal, tapi bagi Sabrina, kedamaian hubungannya dengan Hans adalah yang terutama.
"Itu tidak akan mengubah apa-apa walau kau pulang sekarang. Dia tetap akan cemburu untuk beberapa hari ke depan dan akan mendiamkanmu. Kenapa kau bertingakh seolah semuanya akan berubah hanya karena kita selesai makan lebih cepat?" desis Joe lagi.
"Aku tau ini tidak mengubah apa-apa, tapi suasana hatiku menjadi buruk dan ingin segera kembali ke kantor."
"Cih, dia bahkan tidak bisa mempercayaimu, lalu mengapa kau bisa bertahan dengan memaksakan apa yang ia inginkan saja. Seharusnya ia sudah mengenalmu dengan baik dan tidak perlu meragukan kesetiaanmu jika memang ia kekasih yang baik." sindir Joe sambil memutar matanya.
Sabrina menatap tajam mata Joe, "Kalau niatmu hanya untuk membuat hubunganku dengan Hans menjadi berantakan, lebih baik kita tidak usah berteman, Joe. Aku benci kalau kau terus mengatakan Hans bukan pria yang baik, bukan kekasih yang baik dan sebagainya." jelasnya, lalu sekali lagi ia menatap pria itu dengan lebih percaya diri, "Satu lagi, ucapanmu tidak akan mengubah pandanganku tentang Hans, tapi akan mengubah pandanganku terhadapmu."
Sabrina kemudian pergi dengan membawa tasnya. Kekesalan masih ada dlam hatinya dan terlihat jelas dari wajahnya. Entah itu karena kecemburuan Hans tadi atau karena ucapan Joe padanya atau malah karena keduanya.
Sabrina benar-benar tak habis pikir dengan Joe yang deting mencemooh Hans di depannya. Bukan sekali dua kali, tapi berkali-kali setiap pria itu mendengar Sabrina membahas tentang Joe dan puncaknya adalah hari ini.
Sudah lama Sabrina ingin menegur Joe karena perkataan pria itu, tapi hari ini adalah waktu yang paling tempat dari waktu sebelumnya. Ia paling tidak bisa kalau harus menahan lebih lama lagi. Kedekatannya dengan Joe, bukan berarti membuatnya bisa menerima ucapan pria itu tentang apapun, apalagi itu tentang Hans.
***
Semua itu menyebabkan hubungan pertemanan Joe dan Sabrina yang semula membaik, kini malah memburuk lagi. Meski Joe berusaha mengajak Sabrina mengobrol, tapi wanita itu mengabaikannya dan bertingkah seolah tidak mendengar apapun. Ia bahkan selalu beralasan agar tidak bertemu dengan Joe.
Joe agak sedikit menyesal dengan ucapannya tempo itu karena membuat Sabrina jadi menjauhinya, tapi karena ia tak bisa berbuat apa-apa, akhirnya ia hanya pasrah dan kembali mendekati Sabrina seperti semula.
Apa daya, jika dibandingkan dengan Hans, jelas saja Joe salah. Sabrina a pasti akan lebih memilih membenarkan kekasihnya dibandingkan orang lain sekalipun orang lain itu benar. Ya, memang posisinya di sini Joe yang salah karena ia suka sekali menghina Hans di depan Sabrina. Itu kesalahannya.
Joe menghampiri ruangan Sabrina begitu menyadari bahwa saat ini sudah jam pulang kantor. Ia berniat kembali membujuk Sabrina untuk pulang bersama demi memperbaiki pertemanan mereka.
Bukannya tidak memiliki teman di kantor, tapi Joe merasa bahwa ia harus berteman dengan Sabrina. Sudah sejak lama ia ingin dekat dengan wanita itu dan selalu ingin lebih dekat.
"Sa, pekerjaanmu sudah selesai?" tanyanya begitu tiba di sekat meja Sabrina.
Sabrina mengangkat kepalanya dan menatap Joe dengan sinis, lalu ia menoleh ke sampingnya, di mana teman kerjanya berada dan sedang memperhatikan mereka. "Li, aku menumpang padamu ya?" tanya Sabrina sambil memberikan kode agar temannya itu tidak menolak.
Joe menatap hal itu dan hanya bisa menghela nafas mendengar penolakan barusan. "Ya sudah, kalau begitu kita bisa pulang bersama lain kali." ujarnya meyakinkan bahwa ada hari lain selain hari ini.
***
Keesokannya Joe juga mengajak Sabrina untuk pulang bersama, tapi posisinya wanita itu sudah berada di halte dan sedang menunggu bus melewati jalan kantor mereka. Joe menepikan mobilnya di halte dan membujuk Sabrina.
Ketika Joe menyentuh tangan Sabrina, wanita itu segera menepisnya dengan kasar dan melotot pada Joe, "Aku sudah bilang kalau aku tidak mau, Joe. Hubunganku dengan Hans semakin berantakan karena dirimu."
"Itu bukan karena aku, Sa. Memang kalian saja yang kekanakan sampai mempermasalahkan pertemanan ini."
"Kau tidak mengerti, Joe. Kau tidak memiliki kekasih yang pencemburu atau sekarang mungkin kau belum memiliki kekasih untuk dicemburui. Wajar Hans cemburu karena memang kau sudah kelewatan. Kenapa kau sampai menyentuh tanganku hanya untuk membujuk ku, padahal kau jelas tahu kalau aku sudah memiliki kekasih dan itu temanmu sendiri."
"Kami tidak seakrab itu, Sabrina. Tidak perlu membahas Hans kalau memang kau ingin menolak ajakanku. Aku benci dengan kedekatan kalian."
"Apa maksudmu?" tanya Sabrina dengan kesal.
"Aku menyukaimu. Aku menyukaimu dan aku benci jika melihatmu dengan pria lain, meskipun itu Hans." ujar Joe dengan jujur. Tangannya bahkan terkepal erat setiap kali Sabrina membicarakan Hans dan membela pria itu di depannya.
Sabrina tersenyum sinis, "Jangan pernah membayangkan bahwa aku akan percaya ucapanmu, Joe. Kau jelas tahu siapa aku dan pengakuanmu membuatku mual sekaligus jijik." desis Sabrina.
Joe menarik tangan Sabrina saat wanita itu akan segera meninggalkannya, bahkan tarikannya terkesan kasar, "Kau boleh tidak percaya, tapi aku sungguh-sungguh. Aku menyukaimu dan itu sudah sejak kita duduk di sekolah menengah." aku Joe.
Sabrina menatap pria itu dengan lebih dalam untuk menyelami apa yang Joe katakan dan ia masih tidak bisa mempercayai hal itu, "Kau tidak mungkin memiliki perasaan itu saat di sekolah menengah. Kau pembohong, Joe. Kebohongan mu membuatku ingin muntah."
"Terserah kalau kau tidak percaya, tapi aku memang menyukaimu. Kalau kau tidak mau meninggalkan Hans, maka aku akan bertindak dengan caraku sendiri agar Hans yang melepaskanmu."
Sabrina melepas tangan Joe dan langsung berlari dengan kencang. Kali ini Joe membiarkan wanita itu kabur darinya dan hanya memandang dari kejauhan langkah Sabrina yang semakin menjauh.
Ia yakin kalau wanita itu pasti tidak bisa mempercayai ucapannya, tapi Joe tidak akan menyerah untuk membuat Sabrina percaya bahwa ia bahkan sudah menyukai wanita itu dan memperhatikan wanita itu sejak mereka duduk di bangku sekolah menengah.
Ia tidak peduli kalau ucapannya tadi terdengar lebih seperti ancaman untuk Sabrina, tapi ia sungguh-sungguh mengatakannya. Ia ingin Sabrina dan Hans tidak berlanjut karena ada dirinya yang lebih menginginkan wanita itu dan akan menerima Sabrina sebagaimana adanya wanita itu.
Andai saja Joe lebih dulu bertemu dengan Sabrina dibandingkan Hans, maka Joe tidak akan membuang kesempatan untuk menjadikan wanita itu kekasihnya dan hubungan pertama untuknya bahkan di atas tempat tidur. Sangat disayangkan karena ia bertemu dengan Sabrina setelah wanita itu memiliki hubungan spesial dengan Hans.
Joe tidak bisa mengubah waktu, jadi lebih baik baginya untuk mengubah hubungan diantara mereka. Tidak peduli jika ia harus bersaing dengan Hans yang jelas-jelas sudah memiliki hati Sabrina, sementara ua bahkan belum mendapat perhatian wanita itu.