Tiga Puluh Dua

1735 Kata
Sudah sebulan sejak Nazeela merasakan patah hati terbesarnya, ia tak pernah lagi berkomunikasi dengan Joe dan keluarga pria itu. bahkan pesan Kay saja tidak pernah ia balas dan telpon dari gadis itu tak ia angkat sekalipun Kay mengatakan bahwa Ela yang mencarinya. Nazeela tahu bahwa dirinya sudah berbohong dengan mengatakan bahwa ia tetap akan menjalin hubungan yang baik dengan keluarga Joe sekalipun nantinya ia tidak bisa bersama dengan pria itu entah karena alasan apapun, tapi buktinya? Ia bahkan masih tidak bisa menerima kenyataan itu dan malah mengabaikan semua panggilan dari orang terdekat Joe. Terserahlah bila keluarga Joe terkhusus Ela akan menganggapnya tidak sopan karena mengabaikan panggilannya juga, tapi ia tidak akan berhubungan dengan keluarga pria itu untuk beberapa waktu, entah mungkin sampai hatinya merasa lebih baik. Tidak berbeda dengan Kay, Joe juga berusaha menghubunginya dengan segala sosial media yang pria itu miliki, tapi Nazeela tetap kekeuh untuk tidak membalasnya. Hatinya masih sangat terluka dan ternyata cukup sulit untuk bisa menerima kenyataan bahwa Joe telah mengutarakan perasaannya untuk wanita lain. Ia tidak bisa menerima semua itu. Kenapa rasanya terlalu menyakitkan sampai ia segalau ini? Kegalauan Nazeela ternyata sangat berdampak pada pekerjaannya untuk menyelesaikan wedding dress yang ia buat dan orang tuanya menyadari bahwa ada yang tidak beres dari anaknya itu sampai mereka menegurnya. Nazeela mengatakan bahwa ia berjanji akan menyelesaikan semuanya dalam waktu sebulan, tapi setelah ia berlibur dan menikmati waktunya sendiri. Awalnya ibu Nazeela merasa keberatan dengan permintaan itu, tapi dengan dukungan dari ayahnya, akhirnya Nazeela berhasil melarikan diri dari London ke Bristol. Setidaknya di kesibukan Joe, pria itu tidak akan mungkin berada di daerah yang sama dengannya sekalipun posisi mereka tidak begitu jauh. Di tempat yang dekat saja Joe jarang menemuinya, apalagi dengan jarak yang cukup jauh. Nazeela berakhir di sebuah hotel mewah Bristol dan lebih sering mengurung dirinya di kamar. Ia tidak tahu alasannya berlibur apa jika ia hanya memilih di kamar saja dan bergalau ria padahal ada banyak tempat yang bisa ia kunjungi untuk membuatnya lupa dengan patah hatinya. Bodohnya ia hanya membuang isi kartu kreditnya untuk mendengar tangisannya di dalam kamar hotel itu. Ketika merasa kepalanya semakin berat dan tubuhnya semakin lelah berada di dalam kamar yang layaknya kapal pecah, Nazeela akhirnya memilih keluar dari kamarnya dengan membawa dompet dan ponselnya. Selalu terdengar hela nafas berat dari bibirnya dan itu sungguh membuat orang lain menatapnya dengan tajam. Nazeela tidak memperhatikan apapun di sekitarnya karena tujuannya hanya mencari udara segar dan makan siang sebab perutnya mulai bosan dengan hidangan hotel selama 3 hari belakangan ini. Tidak ada yang sesuai seleranya sama sekali. Semua makanan terasa menghinanya sampai masuk ke dalam perut dan membuatnya emosi. *** Seusai membeli makan siang dengan membungkusnya, Nazeela akhirnya kembali ke hotel, tapi dengan rute perjalanan yang membingungkan. Ia sendiri tidak tahu ke mana saja ia akan melangkah, yang pasti ia hanya ingin menikmati kegilaannya. “Apa aku bunuh diri saja?” tanyanya pada diri sendiri sembari berjalan ke sana ke mari. “Atau aku perlu membunuh Sabrina? Atau harusnya aku mendukung Hans dan Sabrina supaya mereka cepat menikah?” tanyanya lagi sambil menggelengkan kepala. “Hah? Bodoh sekali dirimu Zee. Kau mau bunuh diri hanya karena pria seperti Joe? Memangnya apa hebatnya dia?” tanyanya lagi sambil mengutuk Joe tanpa ragu untuk membuat dirinya sendiri benci pada pria itu. “Memangnya Joe setampan apa sampai membuatmu segalau itu?” Nazeela menoleh ke belakangnya dan terkejut saat melihat seseorang yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Badannya menggunakan jaket tebal dan celana panjang, juga menggunakan topi, kaca mata hitam dan syal yang membuatnya lebih tampak gila karena ini adalah musim panas bukan musim dingin. Dan satu lagi, ia menggunakan masker. Seluruh tubuhnya hampir tertutup. Merasa tidak mengenali orang itu, Nazeela memilih melanjutkan perjalanannya dan mengabaikan pertanyaan dari pria itu. Pria itu tersenyum geli dan memilih berjalan mundur di depan Nazeela. “Bahkan penampilanmu yang seperti zombie ini pun aku dapat mengenalinya. Lalu apa kau tidak bisa mengenaliku hanya dari suara dan mata saja?” tanya Loy sambil membuka kaca matanya. “Kau siapa?” tanya Nazeela, lalu ia membulatkan matanya terkejut dan segera melarikan diri. Sayangnya ia terlambat karena gerakan Loy lebih dulu berhasil menarik tangannya. “Apa aku termasuk ke dalam orang yang kau hindari?” tanya Loy, “Walaupun aku tidak melakukan kesalahan?” tambahnya lagi. Nazeela menghempaskan tangan Loy dengan tenaga seadanya, “Aku tidak bertenaga untuk meladenimu, Loy. Pergi lah. Kau di sini karena sebuah pekerjaan kan? Jadi lebih baik kau tinggalkan aku dan fokus pada pekerjaanmu.” “Aku di sini karena ingin menawarkan bantuan. Kulihat kau berulang kali berada di kamar dan pintu kamarmu hanya terbuka ketika pelayan hotel mengantarkan makanan saja.” Nazeela menyipitkan matanya dengan curiga, “Kau memata-mataiku?” Loy tertawa tak menyangka mendengar dugaan bodoh itu, lalu dengan berani ia menoyor kepala Nazeela, “Memangnya kau pikir kau siapa sampai aku memata-mataimu?” Wanita itu menyadari pertanyaannya juga dan mengangguk dengan bodoh, “Benar juga ya. Memangnya aku siapa?” tanyanya. Loy benar-benar tidak dapat menahan tawanya karena menurutnya Nazeela sangat menggelikan, belum lagi ia juga tidak bisa mengalihkan fokusnya dari penampilan wanita itu yang berantakan. Entah berapa lama Nazeela tidak menyisir rambutnya sampai seberantakan itu dan yang paling membuat Loy tertarik adalah kancing piama yang terbuka dan menunjukkan sedikit saja bagian yang seharusnya wanita itu tutupi. Ya, Nazeela memang menggunakan piama dan belum menggantinya karena ia belum mandi sejak pagi tadi. Bagaimana tidak, beranjak dari ranjang pun tidak. Bahkan tadi pagi ia melewatkan sarapannya karena tidak selera makan dan malas sekali bergerak. “Pergilah membersihkan dirimu dan mempercantiknya.” Usir Loy. “Tunggu, kau belum memberitahuku, kenapa kau ada di sini dan kenapa kau bisa tahu kegiatanku selaga tiga hari belakangan ini.” “Yang pertama, aku di sini untuk keperluan pameran. Yang kedua, aku ada undangan sebagai salah satu model untuk sebuah brand. Lalu yang ketiga, untuk menyadarkanmu bahwa wanita cantik banyak yang mau.” goda Loy sambil mengedipkan sebelah matanya dan menjilat bibirnya secara sensuall. “Kau menginap di mana?” “Jarak satu kamar dengan kamarmu. Kamar di sebelahmu adalah kamar staff yang bekerja untukku.” “Sejak kapan?” “Aku sudah seminggu di sini.” “Kenapa aku baru menyadarinya. Kau tidak memberitahukan keberadaanku pada Joe kan?” tanya Nazeela. Loy membulatkan mulutnya, “Jangan kegeeran Zee. Bisa saja Joe bahkan tidak peduli padamu. Untuk apa juga aku memberitahukannya di mana posisimu padahal itu tidak menguntungkan bagiku.” “Baguslah.” Ujar Nazeela menghela nafas lega dan meninggalkan Loy untuk menuju kamar hotelnya. Loy menyusul wanita itu, berjalan sembari memasukkan tangannya di kantong celana dan memperhatikan Nazeela yang terlihat sangat buru-buru. Nazeela menoleh belakangnya begitu tiba di depan pintu kamarnya, “Untuk apa kau berdiri di belakangku?” tanyanya dengan sinis. “Aku iseng saja, memangnya salah?” tanya Loy tak kalah sinis. “Kau ini artis atau bukan? Kenapa dengan santai mengikutiku?” “Dengan santai katamu? Kau tidak melihat pakaian ini menunjukkan kewarasanku mulai hilang? Aku memakai seluruh benda untuk menutupi tubuh dan wajahku demi mengikutimu. Takut sewaktu-waktu kau melompat dari gedung paling tinggi di hotel ini atau menceburkan diri ke dalam lautan terdalam atau bahkan meminum racun.” Nazeela terkekeh sinis, “Aku tidak segila itu. Aku hanya sedang patah hati, bukan kehilangan masa depan. Tidak perlu ambil pusing untuk mematikan aku tidak bunuh diri jika kau disuruh oleh kakakmu itu.” Loy mengela nafas kasar, “Kau ini tuli atau apa? Aku sudah mengatakan, aku ada pekerjaan di sini. Kau pikir aku peduli pada hubungan kalian? Aku malah senang jika kalian tidak jadi bersama.” Nazeela memukul d**a Loy, “Siaalan. Pergilah, aku tidak ingin membahas Joe si brengsekk itu.” “Dari tadi kau yang membahasnya. Aku tidak mengungkitnya sama sekali, tapi kau terus menyebutnya seolah dia adalah nafas kehidupan bagimu.” Tidak mau mendengarkan omong kosong lagi, Nazeela menutup telinganya dan masuk ke dalam kamarnya tanpa mengatakan apa-apa pada Loy hingga yang pria itu dengar hanyalah suara pintu yang ditutup cukup kuat. Ia segera pergi ke kamarnya dan membaringkan diri, lalu meraih ponselnya dan mengirimkan pesan pada adiknya mengenai keberadaan Nazeela. Kemarin Kay menelponnya dan bertanya tentang kegiatannya, lalu bersambung ke cerita Nazeela dan Joe. Mereka memang jarang sekali bertelponan, tapi setiap kali bertelponan, maka Kay dan Loy akan menceritakan segala hal dari yang penting sampai tidak penting. Loy : Zee ada di Bristol. Kau tidak mau mengunjunginya? Tidak butuh waktu lama bagi Kay untuk membalasnya karena memang Kay selalu menempel dengan ponselnya di mana pun dan kapan pun. Kay : Benarkah? Bisakah kau mengirim uang untukku berangkat dan membayar keperluanku selama di sana? Loy memutar bola matanya setelah membaca pesan itu, lalalu memusuhi ponselnya sendiri karena pesan dari Kay. Ia sudah bisa membayangkan bagaimana Kay akan meminta hal seperti itu padanya sambil mengedipkan kelopak matanya sok imut. Meskipun memang imut, tapi tetap saja bagi Loy sangat sulit untuk memuji saudarinya itu. Loy : Maaf Kak, tapi adikmu ini juga butuh banyak biaya hidup. Kay : Pelit sekali. Kau kan artis sementara aku masih pengangguran. Aku akan membayarnya kalau nanti aku menemukan calon suami pengusaha tambang emas. Loy terkekeh, lalu segera membalasnya. Loy : Menurutmu kapan mimpimu itu akan terwujud? Kay : Semua butuh proses, jadi bersabarlah. Aku juga masih terlalu muda untuk menikah secepat ini sekalipun dia pengusaha tambang emas. Loy melemparkan ponselnya dan memilih keluar dari kamar menuju balkon kamarnya. Ia melakukan peregangan pada bagian tubuhnya yang terasa kaku. Sejak di Bristol ia tidak punya kesempatan untuk melakukan gym. Ia duduk di kursi balkon dan memandangi padatan jalanan, lalu tanpa sadar ia menemukan Nazeela keluar dari kamarnya dan berdiri di pagar balkon sambil mengusap rambutnya yang basah dan masih memakai bathrobe. “Apa tidak ada pemandangan lain selain memamerkan dirinya sendiri di balkon?” tanyanya, lalu menggelengkan kepala, tapi tidak berniat beranjak meninggalkan kursi balkon untuk masuk ke kamar. Ia malah menikmati pemandangan itu sampai Nazeela menyadari sendiri ada orang yang memperhatikannya dan menangkap basah Loy yang tidak mau repot-repot mengalihkan pandangan. “Menikmati pemandangan, bukan?” tanya Nazeela sinis. Loy menganggukkan kepalanya, “Iya, meski tidak begitu seksi, tapi itu cukup menjadi fantasi di kamar mandi.” “Siallan.” Maki Nazeela dan memilih masuk ke dalam kamar. Tiba-tiba ia merasa semakin takut dengan Loy yang bertingkah seperti itu. Entah kenapa tatapan pria itu tidak setajam sebelumnya. Hari ini ia lebih menemukan diri Loy yang bersahabat dan mau beramah tamah, meski kata-katanya agak sedikit menyebalkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN