"Chika, apa yang kau lakukan?!" Lera berseru, dia memutar bola mata ketika melihat apa yang akan dilakukan sahabatnya. "Sudah berapa kali aku bilang jangan lepas sepatu, anggap saja rumah sendiri, tidak perlu sungkan." omelnya kemudian.
"Tapi Le ...."
"Ssst ... cepat pakai kembali sepatumu dan jangan membantah!" omel Lera kembali. "Ayo, ke kamarku." ucapnya kemudian memandu jalan menuju sebuah ruangan dengan pintu yang cukup besar.
Sekarang Chika benar-benar yakin kalau ini memang dibuat dengan permintaan khusus karena ... memangnya ada apartemen dua lantai?
Chika menjinjing kopernya susah payah menuju lantai dua. Salahkan saja Lera yang mendekor tangga dengan pembatas berbahan kaca. Kalau terpeleset bagaimana? Daripada patah tulang, dia lebih ngeri dengan kepalanya yang mungkin bisa pecah kalau terjatuh dari atas.
"What the h3ll, Lera!" Chika memekik ketika pintu besar di depan terayun terbuka.
Lera mengerling, "Apa?" suaranya terdengar penuh kesombongan.
Oh, Tuhan ... itu adalah kamar yang diimpikan oleh sejuta umat gadis. Chika hanya bisa berdecak sambil menatap Lera penuh ketidak percayaan.
Bagaimana bisa gadis itu mendekor ruang kamarnya seperti sebuah salon dengan jejeran make up dari beberapa brand ternama dan seperti sebuah toko gaun dengan lemari-lemari besar hampir mengelilingi kamarnya?
"Hey, hentikan tatapan menyebalkan itu, Chika!" protes Lera. "Dengar, aku hanya tidak mau dicap tidak pernah ganti pakaian karena selalu memakai yang itu-itu saja saat ke kampus." Dia sedang membela harga dirinya. "Dan ... make up itu penting untuk membuatku terlihat mengagumkan di depan Kenan." sambungnya dengan senyum cerah.
Lalu apa kabar dengan diriku yang hanya memiliki lima stel pakaian di dalam koper dan bedak tabur bayi? Chika sedang mengasihani dirinya sendiri.
Daripada memikirkan baju dan make up, dia terlalu sibuk memikirkan dimana dia akan tinggal karena tidak mungkin selamanya merepotkan Lera.
"Chika, kau mau minum apa?" Lera sudah duduk di ranjangnya yang terlihat empuk. Ranjang berukuran besar itu terlihat sangat nyaman, mungkin itulah alasan kenapa Lera sangat sulit dibangunkan di pagi hari.
"Aku butuh sesuatu yang bisa menghilangkan rasa pusing?"
Lera terlihat berpikir sejenak, ia tengah menimbang-nimbang minuman yang cocok untuk seseorang yang sedang banyak masalah. "Tunggu di sini." gadis itu berbisik sebelum berlari menuruni anak tangga menuju lantai bawah.
Sepeninggalan Lera, Chika meletakkan kopernya di dekat pintu kamar kemudian berjalan ke arah ranjang, mengistirahatkan tubuhnya di atas kasur super empuk. Menatap ke atas, pemandangan yang ia dapati adalah atap kamar Lera yang didekorasi seperti planetarium.
Gadis itu rupanya memasang stiker di sana, membuat orang yang melihatnya seperti berada di antara gugusan bintang, apalagi ketika malam hari.
Melirik ke atas nakas, Chika menemukan telepon rumah. Mungkin terlihat lancang, tapi dia memutuskan bangkit dari posisinya, berjalan ke arah nakas dan mulai menekan beberapa digit nomor yang sudah hapal di luar kepala.
Nomor yang Anda tuju sedang berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi.
Selalu seperti itu setiap kali dia mencoba menghubungi nomor Ayahnya. Awalnya ia mengira bahwa Ayahnya sengaja memblokir nomornya agar ia tidak bisa menghubunginya, namun setelah mencoba menghubungi dengan nomor lain responnya tetap sama.
Huft, Ayah, sebenarnya apa yang sedang terjadi dan di mana Ayah sekarang? Kenapa tidak ada satupun kabar yang aku dengar?
"Chikaaaa!" teriakan Lera dari lantai bawah membuat gadis itu tersentak dari lamunan. Dia lekas berlari ke sumber suara untuk memenuhi panggilan.
Chika hendak pergi ke arah pantry namun iris cokelatnya lebih dulu menangkap siluet Lera di ruang tengah. Dalam hati ia bersyukur, bayangan tentang Lera yang membuat kehebohan di dapur tidak terjadi.
"Ada apa Le?"
Lera menoleh sekilas sebelum memusatkan atensinya kembali pada sepatu yang sedang dipakainya. "Chika, aku harus pergi, kau tidak apa-apa kalau aku tinggal sendiri di sini kan?"
Keningnya berkerut dengan satu alis terangkat. "Pergi? Kemana?"
"Mr. Teddy ingin aku datang ke kampus untuk konsultasi proposal skripsi." sahut Lera sambil memanyunkan bibirnya. "Seharusnya si botak itu bilang dari pagi, kalau sudah siang begini kan agak malas jalan ke kampus, belum lagi macet." ia merutuk, namun begitu tangannya sibuk memasukkan laptop dan beberapa berkas yang sudah dijilid rapi ke dalam tas. "Sudah ya, aku harus cepat-cepat karena dia bilang hanya bisa melayani konsultasi sampai jam 2 siang saja, lebih dari jam 2 maka say goodbye for my thesis."
Aku mengangguk, "Hati-hati di jalan."
"Kalau mau makan, kau bisa memesan layanan pesan antar. Tapi kalau kau mau masak juga silakan." ujar Lera.
"Oke."
"Bye ...."
"Jangan pulang malam-malam, Le!"
Lera yang sebelumnya sudah hampir mencapai pintu ke luar, ia kemudian berbalik dan mengerling. "Hmmm ... tergantung situasi apakah Kenan akan mengajakku makan malam atau tidak."
Chika menghela napas sambil merotasikan bola mata saat mendengar ucapan Lera barusan. Gadis itu memiliki harga diri setinggi langit. Dia mencintai Kenan tapi terlalu gengsi jika menyatakan padahal kalaupun dia mengambil langkah lebih dulu, dia tidak akan ditolak karena Kenan juga memiliki perasaan yang sama dengannya.