Aditya menyambar ponsel yang disodorkan Jonathan dengan gerakan kaku. Begitu matanya menyisir baris demi baris hasil digital di layar itu, pupil matanya melebar seketika. Dadanya naik-turun dengan cepat; udara seolah mendadak hilang dari ruangan itu, meninggalkan napas yang memburu pendek dan berat. “Anak itu… bukan darah dagingku, Pa.” Suara Jonathan rendah, namun setiap katanya tajam memberi penegasan. Aditya memejamkan mata rapat-rapat, kepalanya seolah baru saja dihantam palu besar. Ia mencoba meredam dentum jantungnya yang meningkat pesat karena kaget. “Papa juga seorang dokter,” Jonathan kembali bersuara, kali ini dengan nada mendesak, mencoba menarik ayahnya kembali ke kenyataan pahit. “Papa pasti paham arti angka-angka di hasil tes itu, kan? Mustahil ada kesalahan.” Aditya memb

