“Pagi Tante… Om….” Suara Sella memecah keheningan ruang makan dengan nada yang begitu ceria. Ia duduk di meja makan dengan wajah berseri-seri, seolah tidak ada beban yang menggantung di udara pagi itu. Marlina dan Aditya yang datang bersamaan hanya mampu memberikan balasan berupa senyum kecut. Itu adalah jenis senyum yang dipaksakan hingga otot wajah mereka terasa kaku, sebuah topeng untuk menutupi badai kemarahan yang sejak semalam menderu di d**a mereka. “Kau sudah bangun?” tanya Aditya. Suaranya diatur sedemikian rupa agar terdengar normal, meski di dalam benaknya, kenyataan pahit tentang "calon cucu palsu" itu terus berputar di benaknya. Ia menatap Sella, mencoba mencari sisa-sisa kejujuran yang mungkin masih tersisa di wajah gadis itu. “Iya Om, aku mau ikut Om ke rumah sakit,” uca

