Zee meringkuk di atas tempat tidur, tubuhnya meringkuk kecil seperti janin yang tengah dikandungnya. Ruangan itu gelap, hanya menyisakan bias lampu jalan yang menembus celah gorden. Di balik selimut tebal yang melilit tubuhnya, isak tangis Zee pecah—teredam namun menyayat. “Bagaimana Jonathan bisa tahu?” bisiknya parau. Suaranya hilang di antara serat kain selimut yang basah oleh air mata. Pikirannya berputar liar, mencoba merangkai kepingan teka-teki yang tidak masuk akal. “Apa dari Sifa? Tidak mungkin... Sifa bahkan belum tahu kalau aku hamil.” Zee memejamkan mata erat-erat, seolah berusaha mengusir bayangan wajah Jonathan yang menghakiminya. Bagaimana mungkin rahasia yang ia jaga seketat ini bisa bocor begitu saja ke telinga pria itu? Drtt... drtt… Getaran ponsel di samping bantalny

