Semenjak insiden menangis secara tiba-tiba tadi, Hayam Wuruk benar-benar tidak melepas tanganku barang sedikit pun. Kecuali jika aku ingin ke kamar kecil. Berani dia tidak melepas tanganku, ku botaki dia. "Kudengar, kamu berkelahi." Ucap Hayam Wuruk yang akhirnya membuka suara. Dia sedari tadi hanya menenangkanku sembari menepuk pundakku. Dan berkata, "tak apa." Kau tau betapa bermaknanya kata-kata tersebut untuk orang-orang sepertiku? "Mm." Gumamku pelan, lalu ia kembali mengeratkan pelukannya. Aku saat ini berada dalam pangkuannya. Mau menangis lagi, tapi kurasa air mataku sudah habis. Hayam Wuruk meletakkan kepalanya di bahuku. Kurasa beberapa kupu-kupu mulai beterbangan di perutku "Aku benar-benar tidak bisa meninggalkanmu barang sekali saja memejamkan mata." Hayam kembali

