"KAKANDA SUDAH GILA?" Pagi hariku terisi dengan sedikit adegan dimana Nertaja memarahi Hayam Wuruk habis-habisan. Mungkin, jika memakan manusia itu tidak dosa, Hayam Wuruk sudah tinggal telinga. Sekali lagi, mungkin. "Aku hanya, mengkhawatirkannya." "Aku tau, aku tau kakanda sangat mengkhawatirkannya. Tapi apa perlu sampai menyusulnya ke Tumapel seorang diri di malam hari? Kakanda tau betapa paniknya istana tadi malam mendapati Kakanda menghilang? Apa yang akan kami lakukan jika Kakanda tidak meninggalkan surat? APA YANG AKAN KAMI LAKUKAN JIKA KAKANDA TERBUNUH DI TENGAH JALAN?!" Aku menelan salivaku dengan berat. Hayam Wuruk hanya menundukkan pandangan pasrah. Syukurnya, para peserta sudah pergi dari kemarin. Sehingga yang ada di keraton ini hanya para tetua, rakryan-rakryan, dan k

