Tatapan Kenzo jatuh kepada sebuah novel bersampul biru yang tengah berada di genggaman Kiara. Seulas senyuman manis pun terbit di bibir Kenzo. "Lo suka baca novel?" tanya Kenzo. Kiara mengangguk mantap. "Iya suka banget, apalagi genre fiksi remaja sama horor." "Bagus tuh! Gue juga suka, ya walaupun gak begitu suka genre fiksi remaja sih, tapi gue lebih condong ke horor gitu," balas Kenzo dengan binar mata bahagianya. "Iya sih. Tapi terkadang saat gue baca genre horor, gue suka parno sendiri," ucap Kiara seraya sedikit terkekeh. Kenzo menggelengkan kepalanya dan menatap tak percaya kepada Kiara. "Lah ternyata lo parnoan gitu? Gak nyangka gue." "Ck, bukan parno sih. Cuman sedikit terbawa alur genre horor aja," decak Kiara. "Iya deh iya, eh lo mau ikut gue gak?" tanya Kenzo seraya menatap ke arah Kiara dengan tatapan memohon. Dahi Kiara mengerut, sorot mata Kiara menunjukkan penuh tanya kepada Kenzo. "Kemana?" "Ke toko buku yang ada di ujung jalan Permai," balas Kenzo. "T-tapi....," ucap Kiara dengan terbata-bata. Dengan gerakan cepat Kenzo mulai berdiri dari duduknya, Kenzo mengulurkan tangannya kepada Kiara. "Sebentar aja kok, ayo gue bantu!" ajak Kenzo seraya tersenyum dan tetap mengulurkan tangannya kepada Kiara. Dengan sedikit keraguan, Kiara mulai menutup novelnya dan memasukkannya ke dalam tote bag miliknya lalu meraih uluran tangan Kenzo dan mulai berdiri menggunakan bantuan walkernya. Kiara mulai berjalan dengan tertatih dibantu dengan tangan Kenzo yang masih setia menuntun Kiara. "Pelan-pelan saja Kiara," ucap Kenzo seraya menuntun Kiara berjalan. Kiara hanya mengangguk singkat. "Sebentar saja ya, gue takut orang rumah nyariin gue." "Iya, lagian kan toko bukunya dekat kok dari sini," balas Kenzo. Kiara mengangguk dan mulai meneruskan langkah kakinya. Kini Kiara dan Kenzo sudah keluar dari area taman. Kiara menatap Kenzo penuh tanya kala Kenzo membawanya kedepan motor vespa putih yang terparkir tepat di depan pintu masuk taman. "Kita naik motor gak masalah kan?" tanya Kenzo seraya menatap Kiara. Kiara termenung sejenak, teringat bahwa dirinya belum pernah sama sekali menaiki motor ataupun mengendarainya karena mengingat keadaan kaki Kiara yang harus teramputasi satu dan dengan semua ke over protektif an sang Mama. "G-gue takut Ken," cicit Kiara seraya menundukkan kepalanya. "Lo belum pernah naik motor sama sekali?" tanya Kenzo. Kiara menggeleng pelan. "Belum." "Beneran?" tanya Kenzo seraya menatap tak percaya kepada Kiara. Kiara menghela napasnya berat. "Iya, Mama gue over protektif Kenzo." "Jadi? Selama ini lo selalu naik mobil gitu? Kemanapun?" tanya Kenzo seraya menggelengkan kepalanya pelan. "Iyalah mau gimana lagi," balas Kiara dengan mencebikkan bibirnya. "Ya udah, kalau begitu ini pertama kalinya gue ajak lo naik motor," ucap Kenzo seraya tersenyum. "Gue takut Ken, gue gak bisa naiknya," balas Kiara seraya menghela napasnya berat. "Ck, itu mah gampang, ayo sini gue gendong!" balas Kenzo seraya mendekat kepada Kiara dan bersiap untuk menggendong Kiara ala bridal style. Dengan spontan Kiara membulatkan kedua matanya. "Eh! Kok di gendong sih?" "Biar cepet! Udah lo tenang aja," balas Kenzo seraya mulai mengangkat tubuh mungil Kiara lalu meletakkannya di atas motor vespa kesayangannya. Kini tubuh Kiara telah terduduk di atas motor vespa milik Kenzo. Kiara menghela napasnya lega kala Kenzo segera meletakkan tubuhnya di atas motornya. Sungguh sendari tadi detak jantung Kiara sudah berdetak tidak karuan. "Nih, pegangin tongkat lo," ucap Kenzo seraya menyodorkan walker milik Kiara. Kiara pun menerima walker miliknya di tangan kirinya lalu sedikit mengangkatnya agar tidak terkena aspal jalanan. Kenzo mulai berjalan ke arah kemudi motornya. Dengan sekali tekan tombol mesin vespa itu mulai menyala. Kenzo mulai menarik gas motornya lalu melaju meninggalkan taman kompleks tadi. ◎◎◎◎◎◎ Kini, Kiara dan Kenzo telah tiba di sebuah toko buku yang berada di jalan Permai. Toko buku itu cukup ramai, tidak terlalu sepi juga. Kenzo mulai turun dari motor vespanya dan melepas helm yang dia kenakan. Kini tatapan Kenzo jatuh kepada Kiara yang masih setia terduduk di atas motor vespa miliknya. "Sini tongkat lo," ucap Kenzo seraya meraih walker Kiara yang berada di genggaman tangan Kiara. "Pegang bahu gue, gue bantu turun dari motor," lanjut Kenzo seraya memposisikan badannya untuk menggendong Kiara ala bridal style. Kiara hanya menurut saja. Tidak berselang lama, Kiara sudah berdiri tegak dengan bantuan walkernya. Tatapan mata Kiara menyapu ke seluruh lingkungan toko buku kecil di hadapannya. "Gue tau toko buku ini memang kecil, tapi jangan salah tebak dulu! Disini persediaan bukunya lengkap Kia," ucap Kenzo seraya menatap Kiara. Kiara menganggukkan kepalanya. "Oalah gitu ya? Gue baru tau loh! Kalau disini ada toko buku." "Ck, makanya sesekali keluar rumah dong! Jangan di rumah mulu, kayak hewan peliharaan aja di kandang mulu," balas Kenzo seraya berdecak dan menatap remeh kepada Kiara. Kiara menatap tajam ke arah Kenzo. "Heh! Gue juga sering keluar rumah kali! Emangnya gue kucing apa selalu di kandang?" "Wadidaww! Santai dong Bu! Main ngegas aja," balas Kenzo seraya terkekeh. Seketika mata hazel Kiara membulat sempurna, tangan kanan Kiara tergerak untuk mencubit lengan Kenzo. "Enak aja lo panggil gue 'Bu'! Nama gue Kiara!" "Hahahaha! Iya-iya deh, ampun Kia! Sakit woilah ini kenapa gue dicubit sih!" protes Kenzo. Kiara mulai melepaskan cubitan tangannya kepada lengan Kenzo. "Makanya, gak usah main-main sama gue! Gue cubit baru tau rasa lo!" "Idih! Galak banget sih lo! Pantesan jomblo," sindir Kenzo. "Apa lo bilang? Jomblo? Gak ada hubungannya kali Ken," balas Kiara seraya terkekeh. Kenzo mendengus sebal. "Ada dong! Karena lo galak, jadi gak ada yang berani jadi pacar lo dong." "Kenzo sialan!" umpat Kiara seraya menatap tajam ke arah Kenzo dengan ekspresi yang sudah memerah padam. "Lah? Kok gue sih? Gue kan ngomong sesuai fakta Kia," elak Kenzo. "Heh! Gue bukannya galak Kenzo, gue itu tegas!" balas Kiara. Kenzo memutar bola matanya malas. "Ck, iya deh iya! Kiara selalu benar, biar babang Kenzo aja yang salah." "Gak gitu konsepnya Bambang!" ucap Kiara seraya melayangkan pukulan kecil kepada lengan Kenzo. Kenzo melotot. "Nama gue Kenzo Rajendra Xaviero! Bukan Bambang." "Iya terserah gue lah! Mulut-mulut gue kok lo sewot sih Ken," balas Kiara. "Sumpah ya Kia! Gue kira lo orangnya pendiem, pemalu gitu. Eh ternyata....," Kenzo menghentikan ucapannya kala dia menatap ekspresi Kiara yang sudah berubah menjadi datar. "Apa? Lo mau ngomong apa tadi?" tanya Kiara dengan nada kesalnya. Kenzo menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. "Gak jadi, udah yuk masuk! Kelamaan di luar nanti lo di culik sama genderuwo." "Dasar korban novel horor! Semuanya aja lo sangkut pautin sama setan, padahal lo kan saudaraan sama setan dan kaumnya," Kiara mencebikkan bibirnya. "Astaghfirullah kamu berdosa banget Kiara," balas Kenzo seraya mengelus dadanya. Kiara memutar bola matanya jengah. Entah mengapa menghadapi ocehan tak berguna milik Kenzo sangat menguras tenaga Kiara. Tetapi ada hal aneh yang Kiara rasakan saat bersama Kenzo, entah mengapa ada perasaan nyaman dan bahagia saat dia berdebat dengan Kenzo. Padahal, biasanya Kiara sangat irit bicara kepada laki-laki manapun. Entahlah, Kiara segera menepis pikiran itu. Dengan perlahan, Kiara mulai melangkah ke arah pintu masuk toko buku itu tanpa menghiraukan Kenzo yang masih terdiam di tempat. "Heh! Kok gue ditinggalin sih!" tegur Kenzo kala dia melihat Kiara mulai beranjak meninggalkannya. "Lo cerewet! Ayo buruan masuk! Hati-hati kelamaan diluar bisa di culik tante girang, mampus lo!" balas Kiara seraya meneruskan langkahnya menuju pintu masuk toko buku. Kenzo hanya menggelengkan kepalanya seraya terkekeh kecil, lalu mulai menyusul Kiara untuk memasuki toko buku itu. Kamu itu unik. Tidak cantik tetapi manis. Tidak anggun tetapi cerdas. Kamu memang berbeda. Berbeda dalam arti di luar dari keterbatasanmu. Kamu berbeda dari kebanyakan perempuan diluar sana. Kamu menjadi versi terbaik dirimu sendiri. - Kenzo R. -