LEMBAR 21

602 Kata
Ariska sudah menyelesaikan kuliahnya. Dia melirik jam di tangannya. Masih sore, kemungkinan Ariska akan menghabiskan waktunya bersama Raniya dan beberapa temannya untuk beli makan sore dan makan bersama. Namun, saat Ariska akan menyankan menu apa yang sekarang akan di makannya bersama teman – teman, Raniya mendahului mengeluarkan suaranya. “Gue di jemput Gilang, ga papa ya gue duluan ?” Ariska menatap Raniya. Benar – benar tidak bisa memarahinya. Karena di dalam fikiran Ariska bahwa semua orang di kost – an akan makan bersama gagal total. Bukan sepenuhnya kesalahan Raniya. Ariska bisa saja mengajak Camel dan Gigi untuk makan bersama tanpa Ariska, namun akan jadi apa pertemanan yang cukup dekat antara Raniya dan Ariska nantinya. “Loh, katanya lo mau mainnya nanti malam.” Ucap Ariska tanpa kekesalan sedikit pun. Raniya mengangguk, “ga tau, Gilang tiba – tiba bilang udah ada di depan kampus.” Ucap Raniya, “nanti malam gue bawain makan deh.” Ariska mengangguk kemudian tersenyum. Lantas menatap Ariska yang melambaikan tangannya sebagai bentuk perpisahan hari itu. Ariska membalas dengan senyuman kecil. Setidaknya, Ariska sudah tidak selalu merasa sakit hati ketika Raniya berbicara tentang Gilang. Iqsa mengabari jika dirinya tidak terlalu sibuk akhir – akhir ini. Dia hanya menyibukkan dirinya karena akan ada direktur pusat yang datang ke perusahaannya nanti. Setidaknya, Iqsa harus terlihat bekerja keras dalam pekerjaan ini walau sebenarnya, Iqsa selalu seperti itu. Terlihat dari mata Ariska. Ariska sekarang punya waktu luang. Dari jam tiga sore, mungkin Ariska akan menghabiskan waktunya di depan kanvas yang tadi pagi belum di selesaikannya. Lagi pula, lukisannya entah akan menjadi seperti apa. Ariska hanya menyalurkan perasaan kacaunya tadi pagi. Ketika memasuki ruang seni, semuanya gelap. Lampunya memang jarang dinyalakan. Apalagi sore ini tidak cerah, melainkan mendung dan tentu saja tidak selalu hujan. Ariska melangkahkan kakinya lebih dalam ke ruang seni dan menggapai saklar lampu yang ada di ruangan itu. Setidaknya, untuk melukis, satu lampu saja cukp. Ariska tersentak kaget saat tangannya ada yang menyentuh bersamaan saat menemukan saklar lampu. Lampu menyala dan Ariska menatap Haikal yang ada di sana. Tepat di depannya. “Ka Haikal ? Bikin gue kaget aja.” Haikal tersenyum kecil. “Sudah selesai kelas ?” Ariska mengangguk, “kakak sendiri ? Kenapa udah ada di sini ?” Hailkal masih tersenyum, “gue juga udah selesai.” Decakan dari Ariska membuat Haikal semakin menatap Ariska, “ya terus ngapain di sini? Gelap – gelapan juga ?” Haikal masuk lebih dalam ke dalam ruangan seni. Lalu membuka lokernya, “lukisan lo ada di sini.” Ariska sekarang mengangguk, “gue tau. Kakak ‘kan tadi w******p gue.” Haikal mengangguk membalas anggukkan Ariska, “gue kira lo ga baca, soalnya lo ga aktif –in ceklis birunya.” “Sengaja, gue lebih nyaman kayak gitu.” Benar. Aplikasi w******p milik Ariska memang snegaja tidak mengaktifkan centang dua bir. Ariska lebih nyaman seperti itu. Dimana ketika Ariska mengetik membalas pesan dari orang lain, Ariska tidak perlu menunggu sampai centang biru. Ariska cukup menunggu balsaannya saja. Jika tidak di balas, Ariska tidak terlalu sakit hati. “Gimana kabarnya lukisan gue di pameran kemaren ?” Tanya Ariska. Haikal duduk di samping Ariska duduk. Ariska sudah mempoisisikan dirinya untuk melukis lagi. “Katanya udah ada yang mau beli, ‘kan ? Lo udah ada infonya ?” “Oh ya ?” Tanya Ariska, “gue sih nerima info kalo ada orang yang tertarik sama lukisan gue, terus mau gue kerja di bidang design di perusahaannya.” “Bagus dong.” Kata Haikal sambil tersenyum, “lo terima ?” “Nanti gue ketemu dulu sama direkturnya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN