“Ris, Ris. Tau ga tau ga ?” Raniya terburu – buru berbicara pada Ariska.
Ariska yang baru saja sampai di kost -annya kini di cecar cerocosan yang mungkin ga mutu dari sahabatnya itu. Ariska mendudukan dirinya di lantai teras kamar kostnya untuk membuka sepatu sambil bergumam.
“Gilang nembak gue masa,” kata Raniya cepat.
Deg.
Ariska yang sedang membuka sepatu sebelahnya lagi terdiam. Sialnya, ini bukan waktu yang tepat untuk mendengar ini setelah dia menyetujui janji yang Gilang sampaikan padanya. Ariska diam, lalu menarik nafasnya.
“Iya, selamat deh. Lo juga kayaknya cinta banget sama dia.” Ucap Ariska pada Raniya yang menutupi kecewa di hatinya.
Raniya mengangguk cepat. Lalu kemudian tersenyum - senyum saat menunjukkan isi chat dari Gilang untuknya.
Ariska mengangguk kecil. “Iya. Gue duluan ya ? Bau asem nih belum mandi,” ucap Ariska meninggalkan Raniya.
Ariska sengaja menghindar. Bukan apa - apa, tapi apa sih Gilang ini. Dia bilang suka ke Ariska dan kenapa sekarang tiba - tiba dia dapat berita kalau Gilang jadian sama Raniya. Dan seharusnya ga kayak gini. Jantungnya sakit. Serasa ada yang memukul keras jantungnya.
Sakit.
Dan sesak.
Ariska mengeluarkan handphonenya. Bukan. Ariska bukan ingin menanyakan perihal Raniya dengan Gilang. Ariska hanya mengecheck handphonenya saja.
Saat handphone Ariska berada di tangannya, benda itu bergetar. Ada pesan masuk di line miliknya. Jika bukan broadcast, hanya Gilang yang tau kontak line-nya.
‘Gue tadi liat lo bareng cowok lo. Mesra banget. Gue jadi sakit hati liatnya. Gue jadiin Raniya pacar gue tadi. Biar ada alesan bisa ketemu lo.’
Benar saja.
Dari Gilang.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Ariska berjalan santai menuju Haikal. Hari ini adalah hari terakhir pengumpulan seni lukis untuk pameran lusa nanti. Dan Haikal menunggu Ariska menyelesaikan lukisannya.
“Kal ?”
Haikal menoleh lalu tersenyum ramah, “kenapa ? Lo butuh bantuan ? Apa lo udah selesai ?”
Ariska meneguk ludahnya. Benar kata orang. Haikal ini tipe idaman banget buat jadi seorang kekasih. Haikal ramah, sopan dan tampan. Ah ya, jangan lupakan kalau dia itu pintar.
“Gue udah selesai sih, tapi ini tinggal finishing. Belum semuanya beres, tapi udah mepet banget ya waktunya ?”
Haikal tersenyum, “malam ini bisa lo selesaiin ?”
Ariska mengangguk semangat kemudian tersenyum ke arah Haikal yang menatapnya ramah. Haikal ikut tersenyum saat itu juga.
“Okay. Nanti lukisan lo gue ambil di tempat lo aja gimana ? Gue besok ga bakal pergi ke kampus. Gue sibuk di galeri seni.”
Ariska di buat takjub seklai lagi dengan keramahan Haikal.
“Okey, nanti gue kasih tau alamat gue ya ?”
Haikal mengangguk lantas meninggalkan area seni. Sebelum menutup pintu ruangan, Haikal sempat membalikkan badan menatap Ariska samba tersenyum dan mengatakan kata ‘semangat’ tanpa suara.
Sialan.
Kenapa terlalu banyak laki - laki yang membuat Ariska rasanya ingin pipis. Tidak ada hubungannya memang, namun, Ariska merasa seperti itu ketika ada seseorang yang baik pada dirinya.
Setelah mendapat kesempatan seperti itu, Ariska tidak lagi menyia - nyiakan waktunya. Dia sudah berada di depan lukisan yang hampir selesai. Entahlah, lukisannya tampak biasa saja. Tidak ada kesan romantis menurutnya. Tapi, kemarin Raniya sempat memotret lukisannya. Hanya setengah dari kanvas. Karena, Ariska ingin fullnya ia tampilkan di pameran nanti. Dan menurut Raniya, lukisannya bagus. Tidak begitu buruk. Apalagi, Ariska hanya belajar secara mandiri. Tidak mengikuti les ataupun pembelajaran untuk seni lukis.
Lagu fire dari BTS berbunyi di tepi ranjangnya. Itu dering ponsel Ariska saat seseorang meneleponnya. Tangan Ariska yang sudah di lap sedikit menggapai ponselnya.
“Hallo,” sapanya setelah ponselnya sudah berada di telinganya.
‘Gue tebak lo lupa sama janji lo.’
“Janji ?”
Ariska sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga untuk melihat siapa yang menelponnya. Mulutnya menganga lalu mengumpat ‘sial’ sebelum ia meletakkan ponselnya di telinga seperti tadi.
“Sori, Lang. Gue lupa. Malam ini ya ?”
‘Iya. Gimana lo udah siap ?’
“Duh. Malaman lagi aja lah ya ? Gue lagi beresin lukisan gue nih,” ucap Ariska sedikit menyesal.
‘Nyelesain apa emangnya ?’
Gilang tidak tau, jika Ariska punya hobi selain mengoleksi foto anak - anak boyband Korea. Gilang tidak tau jika tangannya kini kotor dengan cat yang ia pakai.
‘Jadi jam berapa pastinya ?’
Gilang bertanya lagi saat Ariska tidak memberikan jawaban untuk pertanyaan Gilang yang sebelumnya. Ariska sebenarnya ada janji dengan Haikal akan menyelesaikannya sebelum jam 8 malam. Mungkin, Gilang bisa menjemputnya sekitar jam 8 atau setengah 9. Tapi Ariska berfikir jika toko untuk kado seperti itu akan tutup sebelum Gilang menjemputnya.
“Kayaknya toko hadiahnya udah tutup kalo gue ngasih waktu buat lo jemput gue.”
‘Kerjaan lo masih banyak emang ?’
Tanpa Ariska sadari, dia mengangguk untuk menjawab pertanyaan Gilang sambil sesekali mengoleskan kembali kuas beriisikan cat ke kanvas di depannya. Dia mengejar waktu.
‘Gue liat ada toko yang tutup jam 10. Lo bisa jam segitu ?’
Ariska melirik jam dinding di kamarnya. Kenapa harus dirinya yang mengantar Gilang sementara Gilang sudah punya pacar sekarang ?
“Kenapa lo ga minta temenin sama pacar lo ? Lo udah punya Raniya sekarang,” kata Ariska sedikit kesal. Entah, kesal dari mana. Rasa itu tiba – tiba hadir di hati Ariska.
Terdengar helaan nafas dari sebrang telepon yang menempel di telinga Ariska. Ariska mengerutkan keningnya. Tangannya berhenti di udara saat ia akan memberikan sentuhan terakhir untuk lukisannya.
“Kenapa lo ?”
‘Gue ga mau bahas dia kalo lagi sama lo. Dan plis. Jangan baw a- bawa pacar lo atau pacar gue di obrolan kita.’
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Ariska menuruni tangga kamarnya dan sudah menemukan Haikal di teras kost -annya. Dia duduk di bangku yang sudah di sediakan tepat di tengah antara kamar Gigi dan Raniya. Gigi mungkin ada di kamarnya ketika Ariska melihat lampu kamarnya menyala. Tapi tidak dengan Raniya. Ariska berfikir jika Raniya pergi dengan teman laki - lakinya. Entahlah, Ariska tidak peduli.
“Kal, lo nunggu lama ?”
Sebenarnya, Haikal adalah kakak tingkatnya. Namun, Haikal keberatan dipanggil kakak oleh Ariska. Haikal tidak bisa menjelaskan kenapa, hanya saja Haikal tidak bersikap seperti itu pada yang lain. Haikal menerima dengan baik saat raniya memanggilnya kakak, tapi tidak dengan Raniya.
Haikal menggeleng lalu memasukkan ponselnya pada saku jaket jeansnya. Motor Haikal ada di depan mereka. Ariska bilang, jika Haikal hanya membawa kendaraan bermotor, Haikal boleh parkir di depan kost -annya. Namun jika Haikal memakai kendaraan beroda empat, Haikal tidak bisa berlama - lama di kosannya. Karena jalan di depan kost -an Ariska adalah jalan yang sempit. Dua mobil yang saling berhadapan cukup sih, tapi kebanyakan, sulit mengatur siapa yang duluan maju atau mundur terlebih dahulu.
“Gimana ? Udah selesai ‘kan ?”