LEMBAR 8

1027 Kata
Pagi itu sebelum Ariska galau dan takut kehilangan Raniya sebagai sosok teman dekatnya, Ariska di berikan kejutan manis lainnya oleh Raniya. Dan tentu saja, Raniya adalah sosok teman yang bahkan sepertinya tidak akan meninggalkan Ariska begitu saja. Ariska sedang di tempat tidurnya saat gedoran pintu kamar kost-nya berbunyi nyaring membangunkannya. "Ris. Lo ga kuliah ?" Teriakan itu adalah teriakan Raniya dari luar pintu kamar Ariska. Astaga, bahkan Ariska kesiangan gara - gara menangis semalaman. Dan kali ini, suaranya serak bahkan hampir tidak keluar karena hidungnya tersumbat. Dengan segera, Ariska mencuci wajahnya dan membuka pintu. "Gue boloslah sehari ini. Idung gue mampet gini. Ga ada kuis juga kan ?" Ariska menutupi mata sembabnya dengan cara menggesek – gesek matanya dengan tangan . Namun Raniya menatap Ariska penuh selidik, "lo kayak gini gara - gara makan sembilan es krim cup semalam ?" Raniya ini. Ariska memang menyetujui jika dia pintar dalam sisi akademik. Tidak terlalu pintar juga, hanya saja di atas Ariska sedikit. Namun, dalam kehidupan nyata seperti ini, Raniya rada kurang tidak peka. Pertanyaan itu membuat Ariska tertawa kecil, "mungkin aja." Ariska sebenarnya malas sekali jika Raniya bertanya kenapa nangis ? Atau kenapa mata lo sembab. Dan Ariska tidak perlu memikirkan jawabannya karena Raniya sendiri tidak sadar dengan apa yang sedang terjadi pada Ariska. Tidak sadar dan mencoba tidak mencaritahu beda tipis. Atau bahkan Raniya malas bertanya ? Entah, masalah itu hanya Raniya yang tahu. "Keterlaluan lo. Ya udah gue ngampus dulu dah. Kalo bisa gue absenin lo juga. Harus berterima kasih lo sama gue." Kata Raniya kemudian turun lagi ke lantai bawah. Ariska tersenyum lalu mengangguk kecil dan menutup pintunya setelah Raniya turun dari tangga. Ariska kembali merebahkan badannya di tempat tidur. Kejadian semalam, membuat Ariska kalap memakan eskrim dari Rendra. Bahkan Rendra sampai melongo melihat kelakuan teman dari kenalannya. Ariska tersenyum kecil. Bahkan laki - laki kenalan Raniya tidak mau melihat Ariska gila. Dan ya, Ariska tidak tau malu seperti semalam yang langsung menagih es krim ketika Rendra datang. Apalah, Ariska tidak peduli. Yang terpenting, Ariska sudah tahu. Jika Raniya bukan seperti teman – temannya saat masih sekolah menengah pertama atau bahkan di sekolah menengah atas dulu. Raniya berbeda dari mereka. Dan mungkin, Raniya membuktikan jika semua kaum hawa tidak seperti teman – temannya saat sekolah menengah. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Ariska hari ini bukan lagi Ariska kemarin yang takut kehilangan Raniya gara – gara jalan – jalan bersama Gigi dan menceritakan masalah dengan Gigi tanpa dirinya tahu apa – apa. Yang jelas, Ariska tidak akan salah memilih teman. Selain hobi menonton boyband dari korea dan juga drama korea yang ceritanya sulit di tebak, Ariska juga memiliki kemampuan melukis. Gambaran dengan pensil di atas kertas kosong tidak perlu di ragukan lagi. Raniya sendiri sering kali menjadi model dengan satu jam tanpa gerak. Selain itu, Ariska sangat suka memadupadankan warna di atas kanvas. Dan tentu saja, Ariska tidak bisa menyimpan itu sendiri. Ariska punya account ig yang bahkan isinya semua adalah lukisan – lukisannya beserta tanda tangan miliknya di ujung kanvas bagian atas. Dan Ariska sangat suka dengan komentar positif yang bahkan selalu Ariska jadikan motivasi untuk dirinya sendiri. Satu ketika , Ariska tersenyum menatap layar ponselnya. Dia sudah membayangkan bagaimana jadinya lukisan yang dia buat di pajang di salah satu pameran besar di kotanya. Baru saja Ariska mendapat kabar jika dirinya bisa memasukkan lukisan dengan tema romance di pameran bulan depan. Senang sekali rasanya memamerkan itu pada semua orang yang sering kali menilainya tidak bisa berbuat apa - apa. Di tambah lagi, Ariska biasanya tidak menunjukkan kemampuannya pada kebanyakan orang. Dan entahlah, Ariska sangat suka dengan isi dm di account penuh lukisannya. Ariska dengan cepat mengirimkan hasil screenshoot chat dm i********: dengan salah satu crew untuk pameran bulan depan di story instagramnya. Tidak, Ariska tidak berniat sombong tapi ini adalah pencapaian luar biasa utuk dirinya selama mendalami seni lukis. Dan Ariska ingin semuanya tahu dan mampir ke acara pameran bulan depan. Ah jangan tinggalkan perihal itu adalah salah satu cara untuk membungkam mulut orang - orang yang selalu meremehkan dirinya. "Ris i********: lo penuh cercaan ga ?" Raniya bertanya kepada Ariska yang masih saja diam dan tidak berbicara apapun mengenai masalah i********: storynya. Ariska mengerutkan dahinya. Cercaan apa maksudnya ? Bahkan akun sosial medianya tenang saja sedari kemarin malam dia mem-post snapgram. "Maksud gue, itu kan sg lo dm - an sama Haikal. Lo tau ga dia siapa ?" Ariska menggeleng pelan lalu selanjutnya mengangguk cepat, "setau gue dia salah satu kru-nya pameran bulan depan. Dia yang nawarin gue buat ikut acara itu. Kenapa sih emangnya ?" Raniya menepuk jidatnya pelan lalu menghembuskan nafasnya. Setidak tahu apa Ariska sampai Raniya sebegitunya dengan perkataan Ariska. "Ini Haikal loh. Dia salah satu mahasiswa jurusan komunikasi yang aktif banget di dunia begituan tuhhh. Pameran dan segala macem, terus harus lo tau dia itu ganteng banget. Dari dulu aja dm gue dia ga liat - liat." Ariska meneguk minumannya, "terus apa hubungannya sama sg gue ?" "Ya ampun nak. Masih ga ngerti juga ?" Ariska menggelengkan kepalanya cuek dan melihat screenshoot dirinya dengan Haikal itu. Tidak ada yang aneh menurutnya. Ini hanya sebatas dm yang seperlunya. Bahkan tidak ada emoji terselip di dalam dm - nya. "Haikal itu cowok yang dikejar - kejar sama anak - anak hampir di setiap jurusan kampus. Dan lo dapet dm dari dia ? Lo tau artinya ?” Tanya Raniya yang dijawab dengan gelengan polos dari Ariska,  “sebentar lagi ig lo pasti rame di tanya ini itu sama cewek - cewek jurusan mana - mana," lanjut Raniya. Raniya terengah setelah menjelaskan apa yang ada dalam pikirannya. Karena setiap perkataannya Raniya hayati dengan helaan nafas jengah karena Ariska tidak mengerti apa - apa. Ariska tertawa kemudian setelah meneliti layar ponselnya. "Tau ga Ran ? Hp gue sepi kenapa ? Data selulernya ga gue nyalain anjir dari semalem," sahut Ariska yang kemudian tertawa terbahak. Saat Ariska tertawa ngakak, Raniya mendengus sebal. Lihatlah, teman Raniya memang tidak normal.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN