Malam kemarin, Ariska membatalkan janji temu dengan Gilang. Ariska sebenarnya sudah ingin ijin kepada Iqsa. Namun kenyataan bahwa Iqsa masih saja sibuk, Ariska menjadi tidak bisa ijin secara resmi.
Ariska hanya membuat pesan singkat kepada Iqsa dengan ijin keluar dari kost-annya dengan alasan mencari hadiah untuk teman dari temannya. Setelah itu, Ariska tidak memeriksa lagi ponselnya.
Gilang dan Ariska sibuk dengan pilihan – pilhan yang berpotensi untuk mnejadi kado untuk adiknya Gilang. Dan Aiska sudah memilih beberapa yang menurutnya bagus, sisanya Gilang yang menentukan pilihannya.
Dan malam itu kejadian yang sama sekali tidak disangka oleh Ariska berlangsung. Kejadian dimana Gilang menjemputnya. Memilih barang untuk adiknya dan pulang. Kejadiannya begitu cepat hingga Ariska tidak bisa memikirkan lagi apapun setelah kejadian di mobil itu.
Kejadiannya begitu membuat Ariska bersalah sekaligus terkejut.
Ariska sering di perlakukan seperti itu ketika bersama Iqsa. Tapi malam itu bukan Iqsa. Yang berdiri di depannya adalah Gilang. Dia membukakan pintu mobil untuk Ariska. Lalu mengucapkan selamat malam dan mimpi indah. Itu selalu Iqsa lakukan jika Iqsa sedang sadar jika di depannya itu adalah kekasihnya. Dan sudah lama Ariska tidak mendengar itu dari Iqsa.
Tapi yang membuat Ariska masih memelototi atap kamarnya adalah kejadian setelah Gilang mengucapkan selamat malam dan mimpi indah dengan lembut. Kejadiannya tidak bisa Ariska ceritakan lebih detail. Yang pasti setelah Gilang berucap seperti itu, Ariska di buat kaget. Gilang mencium puncak kepalanya. Mengecupnya lembut dan setelahnya, Gilang mengusap puncak kepala Ariska sambil tersenyum menatap Ariska yang kaget.
“Jangan kaget. Gue bersikap manis kayak gini bisa lo itung mulai dari sekarang,” kata Gilang setelah menatap Ariska cukup dekat. n
Ariska diam.
Iqsa tidak pernah seperti ini.
Maksudnya, Ariska pernah di cium Iqsa. Tentu saja. Tapi yang seperti ini, mengusap puncak kepalanya, tersenyum padanya. Itu jarang Iqsa lakukan. Dan tentu saja Ariska tidak mengingatnya kapan terakhir kali Ariska merasakan usapan kepala seperti ini.
“Dan yang pasti, cuman lo yang bisa buat gue bilang kalo gue makin sayang sama orang di depan gue,” lanjut Gilang saat tidak mendengar apa – apa dari Ariska saat itu.
Lalu kemudian Ariska memejamkan matanya. Menggeleng kuat kepalanya.
Sayang sayang palalu.
Gumaman tidak jelas keluar begitu saja dari mulut Ariska. Tidak mungkin sayang bisa di ukur seperti itu. Lagi pula, Gilang tidak banyak bertemu dengan Ariska. Lalu kenapa dia sudah berani bilang sayang. Bahkan semalam adalah pertemuan pertama mereka. Pertemuan yang hanya ada Ariska dan Gilang di dalamnya.
Sialnya, Ariska mulai tersenyum lagi ketika mengingat Gilang.
Malam itu, mungkin Ariska tidak akan bisa tidur. Kenapa juga Gilang sangat manis di hadapannya. Setelah Gilang berpacaran dengan temannya ? Dan sial, lagi, Ariska bersalah karena ini memang salah. Ariska sudah dekat dengan pacar dari temannya sendiri.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
“Selamat atas lukisan lo, Ris,” ucap Gilang saat bertemu dengan Ariska di depan Raniya.
Ariska yang berusaha menutupi pertemuan kemarin malam dihapan Raniya. Sebenarnya tidak baik, hanya saja, waktunya belum pas dan Ariska belum mau mengungkapnya. Entah kenapa, hanya saja untuk kali ini begini saja sudah cukup.
Ariska tersenyum ketika Gilang mengucapkannya di depan matanya sendiri. Sekali lagi tidak seperti Iqsa yang mengucapkanya hanya melalui ponsel. Raniya ada di depan mereka sedang memilih - milih pakaian untuk dipakai ke persta ulang tahun temannya lusa nanti.
Siang ini memang jadwal kosong untuk kuliah Raniya dan tentu saja Ariska. Mereka memang berencana untuk berbelanja. Tidak, lebih tepatnya, Raniya yang berbelanja. Ariska tidak tertarik untuk berbelanja.
Dan di jalan, Raniya menghubungi Gilang untuk mendapat pendapat tentang baju yang dipilihnya. Menurut Raniya, Ariska tidak bisa diandalkan untuk urusan baju dan pesta. Ditambah lagi, Gilang adalah pacarnya.
Tentu saja dibantu pacar adalah hal terbaik.
Setidaknya, Ariska sudah merasakan seperti itu.
“Thanks, Lang.” Jawab Ariska untuk ucapan selamat dari Gilang.
Padahal, Gilang bisa saja mengucapkannya kemarin malam. Tapi, sepertinya Gilang sudah hilang fokus. Gilang kemarin malam hanya berfokus untuk kado dan sekarang untuk Raniya. Setidaknya, obrolan Raniya tadi tentang pameran lukisan Ariska berhasil membuat Gilang tahu jika Ariska benar – benar suka menggambar dan membaca.
“Gimana kalo yang ini guys ?” Suara Raniya membuat Gilang yang asik memandangi Ariska menoleh. Dan juga Ariska yang sedari tadi sedang menatap ponselnya.
Gilang dan Ariska menoleh kearah Raniya bebarengan. Lalu mengangguk bersamaan juga.
“Kompak banget kalian.” Cibir Raniya.
Ariksa terkekeh kecil, “kebetulan aja sih, Ran.” Kata Ariska.
“Bagus yang ini deh, Ran.” Ucap Gilang menetralkan kecanggungan yang ada diantara mereka bertiga.
Raniya tersenyum lantas berlari kearah kasir untuk membayar pakaiannya. Sebenarnya Raniya sudah memiliki gaun di kosannya. Banyak malah. Namun dia bilang jika semua gaun di kamarnya sudah pernah ia pakai. Ga enak kalau di pakai lagi.
Ariska dulu hanya menanggapi dengan anggukan. Iyalah, bapaknya pelaut. Kapten lagi, ibunya ketua arisan di kota sebelah. Pantas saja jika dengan mudahnya Raniya meminta uang untuk ini dan itu. Ariska menyadari jika dirinya berbanding jauh dengan Raniya.
Ini contohnya.
Raniya senang sekali belanja. Entah itu pakaian, sepatu ataupun make up. Bahkan Ariska sendiri tidak tau akan di pakai kemana itu semua nantinya. Ariska sendiri orangnya lebih memilih membeli yang di butuhkan daripada yang di inginkan. Sudah di katakan sebelumnya, Ariska sangat cuek dengan lingkungannya. Walaupun ia memakai baju yang sama dalam seminggu ke kampusnya, dia akan berrsikap sangat cuek. Tidak mendengarkan ocehan dari orang - orang sekitarnya.
Gengsi?
Ariska ingin tertawa mendengar kata itu.
Iya.
Mungkin zaman sekarang, jarang sekali orang yang seperti dirinya. Membeli yang di butuhkan daripada yang di inginkan. Satu - satunya yang di inginkan Ariska adalah satu, kebebasan. Dalam hidupnya dan dalam dunia melukisnya.
Setelahnya, Ariska tidak pulang bersama Raniya dan Gilang. Ariska memilih untuk pulang sendiri. Tadi, pergi ke mall ini Ariska dan Raniya menaiki mobil online. Dan sekarang Ariska sedang akan memesan mobil online lagi. Namun, matanya berhenti di pesan yang ada di bar notifikasi handphone yang sedang dipakai oleh Ariska untuk memasan mobil online.
‘Mau ketemu ga ? Ada yang perlu diobrolin.’
Ariska tersenyum kemudian dengan cepat, Ariska membalas pesan singkat tersebut. Jika orang ini menghubungi Ariska, sesuatu yang baik pasti akan hadir di harinya hari ini. Seperti awal mereka berbincang di media sosial. Dia mengabari Ariska berita baik.
Semoga saja ini berita baik lagi.
‘Gue lagi di deket situ, gue jemput.’
Ariska tidak bisa menahan senyumannya. Ketika Ariska menjelaskan dimana dirinya berada kepada orang itu, Ariska tidak berharap untuk dijemput. Hanya saja, Ariska mencoba membuat dia menunggu.
“Gue tunggu.”