Guru VS Murid

1139 Kata
Melisa terdiam di ambang pintu kelas, ia tidak menyangka akan menyaksikan momen romantis sepasang manusia. Tapi sepertinya kedatangannya merusak suasana. Alfath yang hendak mencium kening seorang siswi yang Melisa ketahui bernama Najihan terlihat mengurungkan niatnya dan bergerak menjauh. Pria itu menatap Melisa malas dan beranjak ke tempat duduknya. Melisa masuk dengan santai ke dalam kelas. Tidak ada perasaan cemburu dalam hatinya melihat kedekatan calon suaminya dengan wanita lain. Dan menurut Melisa, Alfath lebih cocok untuk bersanding dengan Najihan daripada dirinya. Mereka sebaya dan satu pergaulan. Pola pikir keduanya tidak akan jauh berbeda. Namun rasa gugup dan canggung tetap menguasainya. Ada semacam perasaan malu dan enggan untuk bertemu Alfath. Melisa berharap jika Alfath akan bolos di jam pelajarannya. Mungkin perasaannya akan lebih baik. Professional adalah salah satu tuntutan dalam bekerja, dan sekarang Melisa mencoba untuk memenuhinya. “Good afternoon!” sapanya dengan senyuman ramah. Melisa tidak tahu jika senyuman yang ditunjukkan olehnya membuat Keanu menahan napas beberapa detik. Tapi Melisa menyadari jika tatapan yang diberikan oleh Keanu berbeda dari yang lainnya. Sebenarnya ada dua tatapan yang berbeda. Pertama adalah Keanu yang menatapnya penuh rasa kagum. Bibirnya juga beberapa kali berdecak. Melisa meringis ketika sebuah pemikiran sampai di kepalanya. Apakah muridnya itu kepincut oleh pesonanya? Tatapan ke-dua yang berbeda adalah tatapan yang diberikan oleh Alfath. Berbanding terbalik dengan Keanu, calon suaminya itu menatap penuh rasa malas cenderung ke arah tidak suka terhadapnya. Pantas saja Alfath melakukan itu, perjodohan di antara mereka pasti membebani pria remaja itu. Sedangkan yang lainnya memberikan tatapan yang wajar diberikan oleh seorang murid kepada gurunya. Melisa bersyukur karena kehadirannya di sekolah ini sepertinya sudah mulai diterima. “Selamat pagi Ibu Melisa,” balas Keanu dengan keras, jawabannya berbeda dari yang lain. Melisa melihat jam tangannya, sekarang pukul satu siang. Apakah masih pantas untuk disebutkan sebagai pagi? “Sekarang sudah siang, Keanu.” “Iya Bu, tapi Ibu bagaikan mentari pagi yang menyinari hati.” Keanu tersipu oleh kalimatnya sendiri membuat Alfath yang kini duduk di sampingnya merasa jijik. Ingin rasanya Alfath menyumpal mulut Keanu agar tidak mengeluarkan kalimat-kalimat aneh kepada Melisa. Melisa mengangkat sebelah alisnya dengan senyum tipis, kalimat yang diucapkan oleh muridnya itu cukup menghibur perasaannya dan membuatnya merasa lebih rileks. “Tapi saya bukan mentari, sebaiknya sekarang kamu buka buku mata pelajaran saya. Bagi yang mempunyai kamus silakan buka.” Sebuah tangan mulus terangkat membuat Melisa menoleh. “Ada apa Najihan?” Ya, pemilik tangan mulus itu adalah Najihan. Melisa tidak dapat memastikan ada hubungan apa antara gadis pintar itu dengan calon suaminya. Tapi melihat kedekatan yang terjalin di antara mereka, Melisa menyimpulkan pasti ada hubungan spesial antara keduanya. Najihan adalah gadis yang sangat cantik tapi tidak banyak bertingkah di sekolah. Tidak memiliki popularitas tapi memiliki kepintaran di atas yang lainnya. Bahkan Melisa merasa iri dengan kemolekan yang Najihan miliki. Melisa juga mengakui bahwa dirinya cantik dan bertubuh proporsional, tapi jika dihadapkan dengan Najihan maka Melisa merasa kalah. Kepalanya menggeleng cepat ketika sadar bahwa tidak seharusnya ia membandingkan dirinya dengan Najihan. Mereka tidak mempunyai urusan dan tidak perlu bersaing untuk hal apa pun. “Kalau pakai kamus digital di ponsel boleh, Bu?” tanya Najihan. Melisa menggeleng tegas, menurut pengalamannya, murid yang menggunakan ponsel di kelas tidak pernah murni digunakan untuk kepentingan pelajaran. Mereka akan mencuri-curi waktu membuka aplikasi yang mereka senangi. “Kenapa Bu? Biasanya sama Bu Tuti boleh kok pakai kamus di ponsel,” keluh Najihan yang langsung diangguki oleh seluruh murid. Dan jujur saja Melisa tidak menyukai hal itu. Bukan sesuatu yang bijak ketika ada murid yang membandingkan seorang guru dengan guru lainnya. “Sekarang saya gurunya, jadi ikuti aturan saya.” Suasana kelas yang sebelumnya diisi beberapa suara kini senyap setelah Melisa mengeluarkan nada tegas. Matanya juga menyorot datar ke arah Najihan yang tampak kaget karena jawabannya. Mungkin Najihan tidak bermaksud untuk menyinggung perasaannya dan tidak menyangka akan mendapat respons seperti ini. Imej sebagai guru galak sudah diemban oleh Nenti. Melisa tidak ingin menjadi yang ke-dua. Tapi jika itu diperlukan maka Melisa akan melakukannya. Anak didik zaman sekarang harus ditekankan bahwa mereka harus menghormati guru mereka yang menjadi orang tua di sekolah. Ada perbedaan jelas yang ditunjukkan oleh para pelajar di SMA Bima Karya ketika berhadapan dengan Nenti. Mereka akan menundukkan kepala, berkata sopan, dan bersikap baik. Itu pasti karena ketegasan yang Nenti tunjukkan. Berbeda ketika mereka bertemu dengan guru lain, mereka bahkan berani untuk menepuk bahu sang guru tanpa perasaan hormat. Baiklah, Melisa tidak akan membangun citranya dengan sengaja. Biarkan citra mengenai dirinya terbentuk seiring dengan berjalannya waktu tanpa rekayasa. “Masih jadi guru baru aja bangga!” Suara Alfath menginterupsi Melisa dari pemikirannya. Calon suami mudanya itu menatap penuh amarah kepadanya. Mungkin pria itu marah karena tak suka akan ucapannya kepada Najihan. Sepertinya gadis cantik itu menempati posisi yang penting dalam hidup Alfath. Jika perlu dikatakan, Melisa tidak ingin bertukar suara dengan calon suaminya. Tapi jika itu diperlukan maka ia akan melakukannya. Dalam perasaan canggung, Melisa mencoba untuk memberikan tatapan tajam pada Alfath dan berseru dengan tenang. “Karena saya guru baru, tentu saja aturannya juga baru. Jika saya sudah lama mengajar di sini maka pasti aturan yang saya punya juga sudah lama.” Suasana yang tiba-tiba tegang membuat beberapa murid lain menunduk, mereka takut akan terkena dampak dari situasi ini. Melisa duduk dengan tenang di tempatnya, namun tidak dengan detak jantungnya. Ia sudah merasa canggung hanya untuk bertatap muka dengan Alfath, tapi kini mereka terlibat dalam pembicaraan yang sama sekali tidak menyenangkan. “Tapi harusnya bicara dengan sopan sama Najihan.” “Dan kamu seharusnya bicara lebih sopan pada saya.” Alfath terdiam ketika kalimatnya terpatahkan. Melisa tersenyum puas melihatnya. Rasa canggungnya mulai berkurang dan berganti menjadi sebuah perasaan tak suka pada Alfath. Ia tidak suka ketika Alfath berbicara tidak sopan padanya hanya untuk membela Najihan. “Mendingan Bu Tuti daripada Ibu,” ujar Alfath lagi, tidak peduli pada perasaan Melisa. Melisa tersenyum tipis, ia bangkit dan berjalan mendekati meja yang ditempati Alfath dan Keanu. Setelah sampai di sana, Melisa berdiri dengan angkuh menatap murid yang berstatus sebagai calon suaminya. “Kalau begitu, silahkan kamu ikuti Bu Tuti. Sekarang dia mengajar di desa terpelosok, perlu saya berikan alamat lengkapnya? Jika perlu saya buatkan petunjuk jalannya.” Kalimat yang dibalut dalam nada sinis membuat Melisa terlihat mengerikan di mata setiap murid. Tapi itu tidak berpengaruh terhadap Alfath yang malah menatapnya penuh tantangan. Melisa sekarang menyadari jika dia akan menikah dengan seorang pria yang tak sopan dan nakal. Ia harus mulai menyiapkan diri dari sekarang. “Kenapa diam? Berubah pikiran, heh?” ujar Melisa lagi. “Bu Melisa tambah cantik deh kalau dari deket gini.” Ucapan Keanu membuat mimik wajah Melisa melembut. Keanu benar-benar merusak suasana, padahal situasi menegangkan seperti ini sedang dinikmati oleh beberapa pelajar. Karena dengan situasi menegangkan yang terjadi dapat mengulur waktu belajar mereka. Melisa tersenyum tipis terhadap Keanu yang cengengesan. “Kamu sebaiknya diam.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN