Ciuman Paksa

1615 Kata
MALAM itu, Akari kembali bergulat dengan dirinya sendiri. Tubuhnya sudah lelah, matanya berat, tapi tidur tak kunjung datang. Berkali-kali dia menarik selimut hingga menutupi wajah, namun perasaan itu tetap menempel di dirinya. Perasaan diawasi. Sudah cukup saat mandi tadi dia merasa diawasi, tapi ternyata bayangan itu masih menempel sampai sekarang. Setiap sudut kamar seperti menyimpan mata. Tirai putih yang bergoyang diterpa angin seolah menjelma jadi bayangan pria itu. Jantung Akari berdegup semakin cepat. Nafasnya memburu. Tatapannya menoleh ke pojok gelap dekat lemari. Sejenak dia yakin ada siluet tinggi berdiri di sana. “Tuan Adrian...” bisiknya gemetar. Namun saat dia berkedip, sudut itu kosong. Hanya kegelapan. “Tidak, itu hanya bayangan.. hanya bayangan...” bisiknya, berusaha meyakinkan diri. Akari menatap ke arah pintu, tangisnya jatuh perlahan. Matanya seolah merindukan kebebasan dari balik pintu itu. “Aku ingin keluar dari tempat ini, aku pasti bisa meraihnya.” Tangannya gemetar, berusaha meraih ganggang pintu yang jauh dari tempat tidurnya. “Tidak, dia akan datang.” Akari menurunkan tangannya dengan cepat, tubuhnya bergetar hebat seakan Adrian akan datang. Meski pintu terkunci rapat, tatapan pria itu seakan menembus dinding, menempel di kulitnya. Kata-kata terakhir Adrian sebelum meninggalkannya tadi siang menggema lagi. “Sekali kau melihatku, jalan pulangmu sudah hilang.” Tatapan abu-abu kebiruan yang tadi di depan cermin, kini seakan menempel di kegelapan. Akari menutup wajah dengan kedua tangan, tubuhnya gemetar tanpa bisa dihentikan. Sampai akhirnya kantuk menyeretnya dengan paksa. Dia terlelap dalam rasa takut yang tak pernah benar-benar reda. — ✦ ✦ ✦ — Sinar matahari pagi menembus celah dedaunan tinggi lalu jatuh ke dalam kamar. Akari terbangun dengan mata sembab, rambut kusut, dan tubuh lelah. Dia bahkan tak sadar kapan akhirnya bisa tertidur. Ketukan keras terdengar di pintu. Tanpa menunggu jawaban, Julia masuk. Perempuan tua itu menaruh lipatan pakaian rapi di ujung ranjang. “Tuan menunggu. Bersiaplah.” Akari menunduk memandangi kain itu. Sebuah blus tipis berwarna gading, rok panjang sederhana, dan sepasang sepatu kulit datar. Sekilas, tidak ada yang mengancam. Hanya pakaian biasa, lebih cocok dipakai berjalan-jalan di lorong rumah besar itu. Sepertinya Adrian begitu terobsesi dengan warna putih untuknya. Atau mungkin hanya ingin melihatnya rapi seperti boneka pajangan. Tak ingin memancing masalah sejak pagi, Akari pasrah mengenakannya. Blus itu membentuk tubuh mungilnya, rok jatuh ringan hingga mata kaki. Flat shoes tipis melindungi kakinya sekadarnya. Akari menarik napas lega, setidaknya kali ini bukan rok pendek atau baju tidur tipis yang mempermalukannya. Namun lega itu terhenti ketika dia digiring keluar rumah. Adrian sudah menunggu di depan pintu utama. Sosok tinggi itu menjulang dengan pakaian berburu. Jaket kulit gelap, kemeja abu-abu terselip rapi, celana cokelat tebal, dan sepatu bot tinggi yang siap melahap lumpur. Di bahunya, senapan panjang berkilau diterpa cahaya pagi. Beberapa anak buah berdiri di kejauhan, dengan anjing pemburu di genggaman. Suara beratnya memberi perintah. “Hari ini kau ikut aku.” Langkah lebarnya mendahului, membuat para pengikutnya ikut bergerak. Akari berjalan di belakang, tangannya gemetar. Dari belakang, terdengar jelas dengusan anjing pemburu yang membuat jantungnya makin berdebar. Mereka masuk ke hutan. Udara lembap menyambut, kabut tipis masih bergelayut di sela pepohonan. Suara ranting patah menyertai langkah mereka. Pepohonan tinggi menjulang gagang dan aroma tanah basah terasa begitu hening namun menekan Akari. Dia kerap meringis perih saat ranting menusuk kakinya. Flat shoes tipis itu tak sebanding dengan sepatu bot pemburu yang lain. Rok panjangnya sering tersangkut semak hingga robek. Akari sadar, kalau pakaian ini disengaja dipakaikan padanya, meskipun sudah tahu kalau mereka akan ke hutan. Di tengah perjalanan, Akari terengah karena jalan yang sulit. Dia berhenti di atas berbatuan besar di tengah aliran kali kecil yang mereka lalui. Adrian mengulurkan tangannya. Meski ragu, Akari tetap menyambut tangan itu. Hingga tiba-tiba tubuhnya melayang dan berada dalam gendongan Adrian. Belum sempat protes, Adrian sudah berkata dingin dan penuh ancaman. “Kalau kau mau melangkah sendiri dan terlambat sedikit saja, jangan kira tidak ada buaya di sini.” Akari langsung mengalungkan tangan, menutup mata ketakutan. Begitu sampai di tepi datar, Akari diturunkan. Dia berjalan lebih dahulu karena mengira mereka akan melanjutkan perjalanan. Dor! “AKH!” Akari menjerit, tubuhnya membeku. Suara anjing pemburu yang mereka bawa saling bersahutan menggonggong. Adrian berjalan tenang melewatinya, menurunkan senapan, seakan tidak terjadi apa-apa. Diikuti anjing yang sudah dilepas anak buahnya. Dia datang dengan menyeret tubuh anak rusa dan dijatuhkan di depan Akari. Darah segar menetes di tanah. “Lihat,” suara Adrian dingin, “bahkan dia yang lincah pun mudah kutaklukkan. Apalagi tubuh rapuhmu.” Tatapan abu-abu kebiruan itu menusuknya. Akari menutup mulut, ingin muntah. Adrian berbalik, “Kita lanjutkan.” Deru air terdengar semakin keras, menelan suara langkah mereka di jalan setapak. Akari terperangah saat pepohonan terbuka, memperlihatkan sebuah air terjun menjulang dengan derasnya. Bukan biru jernih seperti yang sering dia lihat di gambar, melainkan kecokelatan pekat, seolah seluruh hutan menuangkan rahasia kelamnya ke dalam aliran itu. Cipratan halus membasahi wajahnya, dingin menusuk. Bau tanah lembap bercampur dengan aroma daun busuk khas rawa gambut, membuat perutnya mual. Namun di balik kecokelatan itu, ada keindahan yang aneh. Sinar matahari menembus kabut tipis, membuat air terjun tampak seperti tirai emas muram yang jatuh dari langit. Adrian melepas jaket, menggulung kemeja, mencuci tangan berlumur darah. Akari tidak bisa menahan diri, hingga dia berjalan mendekat ingin menyentuh air itu. Batu licin membuatnya terpeleset. Tubuh mungil itu tercebur. Suara air bergemuruh. Tubuh Akari terbawa arus deras. Kepalanya muncul sebentar lalu tenggelam lagi. Tangannya terentang, mencoba meraih apapun. Napasnya tercekat, paru-paru perih terbakar air. Adrian meloncat tanpa ragu. Anak buahnya panik, ikut ingin menolong, tapi dia lebih dulu meraih tubuh Akari. Dibawanya ke tepian. Tubuh Akari basah, paru-parunya terasa terbakar oleh air. Napasnya tersengal, hingga dadanya naik-turun dengan cepat, tapi udara seakan enggan menerimanya. Hingga pandangannya menjadi kabur. Adrian menyangga kepala Akari yang terkulai. Tatapannya dingin. Rambutnya menetes, mata abu-abu kebiruan itu berkilat. Tanpa ragu, dia menempelkan bibirnya ke bibir pucat itu. Meniupkan udara perlahan. Udara mulai memenuhi paru-paru, membuat dadanya bergerak. Tubuhnya tersentak kecil, lalu batuk pelan. Kesadarannya mulai kembali, begitu merasakan sentuhan lembut di bibirnya terasa nyata. Bibir itu tak terlepas. Gerakannya bergeser, lembut lalu menekan lebih dalam. Dari pertolongan, berubah jadi ciuman. Mereka yang ada di sana, serentak memalingkan tubuh berpura-pura tidak melihat. Memberi ruang pada sang tuan untuk mengisap candu barunya. Tangan Adrian menangkup kepala Akari, menekannya rapat. Napas buatan berubah menjadi ciuman sungguhan. Lidahnya mendesak, memaksa mulut mungil itu menerima. Dalam, penuh paksa, tanpa memberi ruang. Akari meronta, tangannya berusaha mendorong d**a bidang yang terpampang jelas di atasnya sampai akhirnya memukulnya dengan sekuat tenaga, tapi tenaga itu tidak ada artinya. Tangisnya tercekat di antara bibir yang terikat. Air mata bercampur dengan tetesan air sungai di wajahnya, membuat segalanya kabur. Adrian menahan pergelangan tangannya, genggaman kuat bagai borgol. Pandangannya berkilat puas melihat kepanikan yang memantul jelas di mata hitam itu. “Lihat, Akari...” gumamnya serak ketika akhirnya melepaskan bibirnya yang basah. “Kau bahkan tidak bisa bernapas tanpa aku.” Akari terduduk sambil memeluk tubuhnya sendiri. Wajahnya berubah menjadi merah karena marah dan malu. Adrian berdiri, memungut kemejanya yang sempat dilepasnya sebelum menceburkan diri. Dia melirik ke arah Akari yang juga ikut berdiri. Blus putih dan rok gading kini menempel basah, menonjolkan lekuk rapuh yang ingin dia miliki. Dan pemandangan itu benar-benar sebuah keberuntungan untuknya, namun tidak untuk yang lain. Tangannya segera melingkar di pinggang Akari, menariknya rapat. “Lagi-lagi kau menggodaku dengan tubuhmu yang basah itu. Aku tidak tahu apakah aku yang menolongmu atau kau yang justru menjebakku.” Dagu Akari ditahan kasar . Wajahnya dipaksa mendongak. Akari memalingkan wajahnya, namun Adrian sudah menariknya dengan kasar. Tatapannya jatuh pada bibir pink yang basah dan kenyal itu. Dia segera menelannya dengan paksa. Menikmati kembali candu baru yang ditemukannya. Akari berusaha melepaskan diri, namun kali ini Adrian tidak membiarkannya. Dia semakin memeluk tubuh Akari dengan erat dan tangannya merayap masuk lewat blus tipis basah itu. Hingga Akari semakin merasa merinding ketika tangannya yang dingin itu menyentuh langsung punggungnya. “Lepaskan aku, aku mohon. Tolong, lepaskan aku,” rengek Akari berusaha melepaskan diri. “Kau tidak akan bisa lari kemana pun, dekapanku akan membuatmu tetap hangat.” Tangan itu terus bergerak, hingga akhirnya Akari menggigit bibir Adrian. Adrian melepaskan ciuman mereka dan menjilat sisa darah di bibirnya. Dia tersenyum samar saat melihat bibir pink yang bengkak itu memperlihat warna merah. “Hhh... kupu-kupu kecilku... semakin kau meronta, semakin indah kau terlihat.” Sekujur tubuh Akari terasa tersengat. Dia buru-buru berjalan lebih dahulu mendekati para anak buah Adrian dan meninggalkan Adrian yang masih berdiri di dekat sungai. Senyum itu menghilang digantikan wajah tanpa emosi. Tatapannya menajam, mengintai punggung yang membelakanginya. Selama perjalanan pulang, Akari hanya diam di tengah para pria kekar itu dan tidak ingin berdekatan dengan pria itu. Dia memeluk jaket Adrian yang dipaksakan menutupi tubuhnya. Tubuhnya masih basah, pakaiannya menempel hingga membuatnya semakin terlihat rapuh di tengah-tengah orang lain yang bertubuh besar dan kekar. Akari mencoba menahan isak tangisnya, karena merasa kotor di tubuhnya dan tidak berdaya. Sesampainya di rumah, Akari buru-buru ingin masuk ke kamar namun diikuti dan menahan bahu sempit itu. Hingga mereka berada di kamar Akari. Adrian menangkap lehernya, tidak terlalu kencang namun mengikat. Bibirnya mendekat ke telinga, bukan sebuah kata yang keluar. Namun sebuah tiupang lembut yang membuat Akari merinding. Lalu bibir itu beralih dan semakin mendekat, membuat Akari menutup mata dan bersiap untuk mendorongnya. Akan tetapi Adrian berhenti dengan jarak sejengkal. Membuat Akari bingung dan membuka matanya perlahan. “Tak apa...” bisiknya lirih, “Nanti malam kau akan benar-benar mengetahui rasanya,” usapnya sebelum menguncinya di kamar ini. Pintu dikunci rapat. Akari menatap bayangan di cermin. Bibirnya masih bergetar, seolah sisa sentuhan itu masih tertinggal. Air mata jatuh tanpa henti. Dia tidak tahu apakah dirinya jijik, takut, atau... sesuatu yang lebih rumit yang bahkan tak bisa dia akui.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN