#16 - Jeratan Nikmat

1373 Kata
Kirana seperti biasa berbelanja pagi ke pasar untuk keperluan sarapan dirumah sebelum berangkat bekerja. Dia membeli banyak persediaan masakan yang cukup untuk 3 hari kedepan. Dia merasa senang hanya dengan melihat kulkasnya penuh dengan persediaan masakan. Hari ini dia memasak nasi goreng saja. Lebih tepatnya karena keasyikan belanja dia lupa waktu. "Yah, Kiran makan di jalan saja ya. Kiran kesiangan. Hari ini Kiran ada pertemuan dengan rekan bisnis baru kita perusahaan Fineworld" Ucap Kirana pada ayahnya sambil menyiapkan bekal untuknya. "Kamu harus makan yang banyak, nak. Kamu akan kurus kering kalau kesibukanmu membuatmu telat makan!" Jawab Erik sambil menambah porsi nasi goreng ke tepak makan Kirana. Kirana hanya tersenyum melihat ayahnya itu. "Terimakasih, ayah. Kiran berangkat dulu" Kirana mencium punggung tangan Erik dan meninggalkannya makan sendirian. Karina dan Fella sendiri baru turun untuk sarapan 5 menit setelah Kirana pergi. "Kemana kak Kiran, pa?" Tanya Karin pada Erik. "Sudah berangkat barusan, nak" Sahut Erik sambil menutup koran yang tengah dia baca sambil menunggu istri dan anaknya itu untuk sarapan bersama. "Kak Kiran gak bicara apa-apa kan pa tentang Karin?!" "Tidak ngomong apa-apa. Apa maksud kamu bertanya seperti itu?" "Ah.. Emm.. Tidak Karin hanya gak suka kakak mencampuri urusan Karin" "Karin, Dia itu kakak kamu!" "Emm bukan begitu, pa. Cuma kemarin kakak ketemu Karin lagi hang out sama temen-temen sekolah Karin. Tapi kakak malah marah-marah menyuruh Karin segera pulang. Karin kan malu pa sama temen-temen Karin" Karin mengarang cerita untuk mengalihkan pertanyaannya tadi. "Apa-apaan si Kiran itu! Buat apa dia mencampuri urusan kamu?" Pembelaan Fella untuk sang putri tercinta "Mama tau kamu itu anak yang rajin, nak. Kamu juga kan butuh jalan-jalan juga sama temen-temen kamu" "Bener kakak kamu, Karin. Sekarang sudah waktunya kamu fokus sama sekolahmu! Jangan kebanyakan keluyuran gak jelas seperti itu. Papa tidak suka kalau nilai kamu sampai turun!" Karina cemberut mendengar ucapan Erik. 'Selalu saja nilai terus nilai terus!' Dia mendengus pelan "Iya, pa. Karin tau. Karin akan lebih fokus belajar lagi" "Suamiku. Jangan terlalu keras mendidik Karin. Dia kan juga butuh refreshing" Karina menyengir mamanya memang de best karena selalu membelanya. "Sudah jangan kamu bela terus Karin. Dia itu putri papa. Kesayangan papa juga! Jadi papa hanya mau yang terbaik untuk dia. Mama jangan terlalu manjain Karin. Dia juga harus punya tanggung jawab terhadap kewajibannya sebagai pelajar!" Erik terus mengoceh sambil sesekali menyuapi mulutnya melanjutkan sarapannya. "Lalu bagaimana keputusanmu? Univ mana yang akan kamu tuju? Papa akan segera mengurus visa untuk keberangkatan kuliahmu nanti" "Maaf, pa. Karin belum menentukannya. Secepatnya Karin putuskan akan kuliah dimana" "Hem.. Begitu lebih baik" Erik menyelesaikan sarapannya begitu juga Karina dan Fella. Erik dan Karina berpamitan dengan Fella. Karina hari ini berangkat dengan papanya karena papanya harus mengurus biaya karyawisata ke sekolah Karin. ** At James mansion. Silau cahaya matahari pagi menembus jendela kaca kamar yang sekarang ditempati Kinara. Dia membuka matanya malas. Segera dia turun dari ranjangnya dan beranjak menuju pintu kamar. "Sial! Masih dikunci!" Gerutu Kinara sambil mencoba memutar-mutar kenop pintu kamarnya. James sengaja mengunci pintu kamarnya agar Kinara tidak mencoba kabur lagi. Dia benar-benar seperti tahanan. Seperti burung, namun dalam sangkar emas. Dengan malas dia masuk ke kamar mandi yang masih terletak satu ruangan dengan kamarnya. Dia masih terus memikirkan cara dia kabur sambil menyalakan air untuk mengisi bak mandinya. Setelah 1jam berkutat dengan air. Dia keluar dari kamar mandinya hanya dengan berbalut bathrobe putih yang selalu tersedia di lemari kamar mandi. Entah milik siapa dia tidak peduli. "Pakai baju apa aku setelah ini! Dasar Rafael gila! Dia benar-benar orang gila! Berani-beraninya dia menjualku dan membawa pergi uangku! Awas saja, akan kucari dia dan membunuhnya dengan tanganku sendiri!" Geram Kinara sambil melihat dirinya yang terpantul cantik di cermin. Meski tanpa riasan wajah Kinara masih tampak fresh dan cantik. Bibirnya sedikit bengkak dan terluka bekas gigitan James. Tubuhnya penuh kissmark dan pukulan telapak tangan James. "Cih! James b******k! Dia sungguh menghancurkan tubuhku!" Gerutu Kinara atas kelakuan James. Kinara terus menggerutu meratapi nasibnya kini. Tapi dia tidak mau tinggal diam. Dia harus mengatur strategi untuk kabur dari jeratan James. Kinara keluar dari kamar mandi, matanya membelalak terkejut melihat seorang lelaki berambut pirang dan bertubuh tinggi besar dengan berbalut kemeja biru membuatnya sangat terlihat memukau. Dia duduk bersandar di sebuah sofa di dalam kamar Kinara. Dia yang menyadari kehadiran Kinara segera beranjak dan mendekatinya. "Kau sudah mandi, honey?" Pria itu mencium leher jenjang Kinara yang masih basah karena air rambutnya menetes membasahi tubuhnya yang terbalut bathrobe. "James?" James menarik segera tali bathrobe yang melingkari pinggulnya. Terpampang jelas dua gundukan kenyal dihadapannya. Dia melekatkan tubuh bagian depan Kinara yang naked dengan tubuhnya. "Kau sangat mengagumkan, Kirana!" James menatapnya dengan tatapan buas seperti binatang liar yang siap menerkam mangsanya. "James, aku baru saja mandi!" James yang tidak peduli, melumat bibir Kinara dengan rakusnya. Tangannya menelusup kedalam bathrobe yang masih menempel ditubuhnya. Dia menekan tubuh Kinara pada tubuhnya membuat jarak diantara mereka menghilang. Bibir James turun ke leher jenjang Kinara yang sangat menggairahkan. Meninggalkan banyak jejak kepemilikan disana. "Sisa kemarin belum juga hilang. Akan kubuat semakin menawan, honey." James melanjutkan aksinya. Bibirnya masih mengabsen setiap lekuk tubuh Kinara. Mengulum ujung gundukan kenyal Kinara bergantian dan sesekali meremasnya. Meninggalkan tanda kepemilikan baru pada bekas keganasan James. Tangannya meremas p****t ranum Kinara dengan kasar. Sesekali memukulnya membuat p****t putih Kinara memerah bekas telapak tangannya. "Aakh emmhh.. James" James tersenyum puas berhasil membuat Kinara mengerang. Tangan James turun menelusup ke lembah kewanitaan Kinara yang sudah lembab. Jarinya dengan fasih keluar masuk v****a Kinara yang lembut dan hangat. Menyisir seluruh pangkal paha mulusnya yang mulai basah. "Akh.. James aku lapar. Bisakah kita lanjutkan setelah sarapan?" Kinara menahan gerak tangan James karena pagi sekali dia sudah meminta jatah. 'Dasar maniak! Bahkan sarapan saja belum!' "Kau sangat menggoda, honey! Aku takkan tahan jika bersamamu" Senyum James menyeringai. Diraihnya lengan Kinara dan mengecup punggung tangannya. "Tapi, James. Aku tidak bawa baju ganti" "Disana sudah kusiapkan semuanya, honey" James menunjuk ke sebuah box besar berisi baju ganti dan seperangkatnya untuk dipakai Kinara. "Berdandanlah yang cantik. Ku tunggu sarapan dibawah" James keluar dan menutup kembali pintu kamar Kinara. Dia membuka box besar yang berada di atas ranjangnya dan segera memakai baju yang dibawakan James tadi. "Apaa???? Dia memintaku memakai ini? Dimana bra dan celana dalamannya!? Apa dia sudah gila!!!?!" ** Setelah menunggu sebentar di depan gerbang rumahnya, Kirana menemukan mobil Rey tengah mendekat ke arahnya dan berhenti tepat di depan dia berdiri. Tanpa perintah Kirana langsung memasuki mobil Rey. Mereka hari ini menghadiri rapat dengan rekan bisnis baru perusahaan Rey. Ini akan menjadi proyek pertama Rey jika berhasil. Di dalam mobil seperti biasa Rey sangat dingin pada Kirana. Meski sesekali dia menoleh ke arah Kirana tanpa Kirana sadari. "Rey??" "Ehh. Emm ada apa?" Panggilan Kirana membuyarkan lamunan Rey. "Aku belum sarapan tadi karena kesiangan habis belanja" "Terus? Kamu mau kita mampir beli sarapan dulu?" tanya Rey seraya mengernyitkan dahinya dengan harapan persetujuan. 'Wah kebetulan aku juga belum sarapan' Batin Rey dan kembali berucap "Tapi kita sudah ditunggu disana" "T-tidak. Tidak perlu mampir, Rey. Aku sudah bawa bekal. A-aku cuma mau izin boleh tidak aku makan bekalku disini?" "Kenapa tanya padaku? Makan saja!" "Ya takutnya mobilmu jadi bau makanan" "Kamu harus tanggung jawab kalau mobilku jadi bau!" Kirana menelan salivanya berat. "Ooh.. Ya sudah. Tidak usah kalau begitu" Ucap Kirana pelan. Rey menatap wajah Kirana yang tertunduk lesu. 'Dia terlihat sangat menggemaskan walaupun sedang cemberut. Jadi pengen kujadikan sarapan bibirmu itu!' Batin Rey bergejolak 's**t'. "Sudah. Makan saja sana! Aku tidak mau kamu nanti pingsan dan membuatku tambah repot!" Kirana tersenyum senang, "Makasih, Rey" Ucapnya sambil mengeluarkan kotak tempat nasinya. "Memangnya kamu bawa bekal apa?" "Emm.. Hanya nasi goreng biasa, Rey. Kenapa?" Kirana mulai membuka kotak makannya dan mengambil sendok. "Ekhem" Rey mendeham pelan dan menelan salivanya melihat bekal makanan yang dibawa Kirana. Dia juga lapar. Tapi gengsi pada Kirana. "Siapa yang masak?" "Aku tadi sebelum berangkat" Kirana baru akan menyendokkan nasi ke mulutnya. Rey sudah beberapa kali menoleh ke arah Kirana. Lalu Rey dengan cepat menghentikan mobilnya di tepi jalan dan membiarkan Kirana makan dengan tenang tanpa goncangan mobil. "Hah? Ada apa, Rey. Kok berhenti?" "Makan dulu! Aku tidak fokus mengemudi kalau ada yang makan disampingku!" Rey pura-pura memejamkan matanya dan meletakkan tangannya keatas keningnya. Sesekali dia melirik Kirana yang sedang makan. Kkruuukkk.. 'Siaal!' - Bersambung - 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN