#32 - Terkunci

1209 Kata
Rey yang berada dibawah Kirana dengan cepat melingkarkan kedua tangannya memeluk tubuh Kirana sambil memejamkan mata. "Maaf. Rey! A-aku tidak sengaja!" Ucap Kirana gugup. Dia berusaha bangkit tetapi tangan Rey masih memeluk tubuh Kirana. "Sebentar. Seperti ini sebentar saja" Kirana mendongak menatap wajah Rey. Jantung mereka berdetak kencang saling berdekatan tanpa jarak sedikitpun antara mereka. Kirana dapat merasakan tubuh hangat Rey menjalar disekujur tubuhnya. 'Hangat sekali, Rey'. Tanpa sadar Kirana menyandarkan kepalanya pada d**a bidang Rey. Tubuh mereka lelah setelah bekerja seharian ini ditambah lelah saat mencari ponsel milik Kirana. Rey memperhatikan Kirana yang dipeluknya dengan erat. Dia sangat merindukan kehangatan tubuh Kirana. "Aku sangat merindukanmu, Ran" Kirana tersadar, dia segera bangkit dari pelukan Rey. Rey menarik tangannya mencegahnya berdiri dan kembali memeluknya. "Tetap seperti ini!" "Ran?" Panggil Rey pada Kirana yang masih menutup matanya rapat-rapat. "Hmmh?" Wajah Kirana memerah malu. 'Ini terlalu dekat, Rey' dia memberanikan diri memohon. "Rey. Lepaskan.." "Tidak akan!" "Rey!" Kirana membuka matanya dan mendongak menatap Rey. Rey juga menatapnya sambil tersenyum tipis. Wajahnya memerah seperti menahan sesuatu. "Ran, Aku sangat mencintaimu". Wajah Ran berubah pucat. Dia tidak berani menjawab apapun pada Rey. Dia perlahan melepaskan pelukan Rey, berdiri dan membersihkan tubuhnya yang terkena pasir. Rey juga beranjak berdiri. "Akh!" Rey memekik pelan. Tangannya memegang punggungnya yang terasa nyeri karena terjatuh tadi. Kirana khawatir melihat Rey kesakitan. "Rey? Kamu tidak apa-apa?" Kirana mengambil ponselnya yang tergeletak disamping mereka terjatuh dan menyimpan ponselnya bersama dengan ponsel Rey dalam mini bag nya. Dia lalu membantu Rey berdiri. Dia memapah Rey yang mengalungkan lengan kanannya pada pundak Kirana. Tangan kanan Kirana memegang tangan kanan Rey sedang tangan kirinya melingkar di pinggang Rey. "Ayo cepat kita harus segera keluar dari sini" "Ran?" "Iya Rey? Hati-hati jalannya. Sudah semakin gelap disini" Ucapnya sambil terus memapah Rey keluar area pabrik. "Ran?" "Apa lagi Rey?" "Aku-" "Rey!!!" Kirana menunjuk sebuah pintu yang tertutup. "Pintu masuknya tertutup!!" Kirana berlari ke arah pintu keluar yang sekarang terkunci. "Bagaimana ini Rey?? Kita keluar darimana??" Kirana bingung mondar mandir kesana kemari mencari jalan keluar. Rey hanya berdiam diri melihat Kirana yang sedang kebingungan. Dia sesekali tersenyum melihat ekspresi Kirana yang khawatir bercampur ketakutan. "Rey bagaimana ini??? Diluar sepi sekali" Bukannya ikut khawatir, Rey malah tersenyum bahagia. "Kenapa kamu ketakutan seperti itu, Ran? Kamu kan bawa ponsel??" "Astagaa!? Kenapa aku sampai lupa!!!" Gumamnya mengerutuki diri sendiri. Dia segera mengambil ponselnya dalam minibag nya. "Telpon pak Delon saja" Jawab Rey santai. Dia duduk sambil merebahkan tubuhnya sebuah papan yang menumpuk di pojok dekat pintu keluar. Menahan punggungnya yang masih nyeri. Tuuut.. Tuuut... Tuuuut.. "Rey tidak diangkat! Bagaimana ini?" "Tinggalkan saja pesan ke nomornya. Nanti saat dia membuka pesanmu pasti akan langsung tau kita dimana" "Ah iyaa begitu saja" Kirana langsung mengirim pesan pada manager pembangunan pabriknya. Pak Delon. Dia meminta tolong padanya untuk memberitahu sekuriti jika mereka masih terkunci didalam area pabrik. Kirana masih terus berusaha mencari jalan keluar lain yang mungkin bisa mereka lalui untuk dapat segera keluar dari tempat itu. Namun usahanya sia-sia. Rey yang sedari tadi memperhatikannya hanya tersenyum melihat kekhawatiran Kirana yang berlebihan. "Tenang saja, Ran. Mereka pasti segera datang menolong kita" Rey menepuk papan bangku yang ada di sebelahnya. "Duduklah disini. Kamu akan kelelahan kalau terusan mondar mandir" Kirana menyandarkan tubuhnya disamping Rey. Dia menghela nafas beratnya. Disana sudah sangat gelap. Lama menunggu tanpa jawaban dari pak Delon, tidak terasa waktu hampir menunjukkan pukul 9 malam. Hanya sinar bulan yang masuk ke celah-celah bangunan yang menerangi mereka. "Ran?" Rey membuyaran lamunan Kirana yang terdiam dalam pikirannya sendiri. "Ada apa, Rey?" Kirana menoleh ke arah Rey yang ternyata juga menatapnya sedari tadi. Kirana menelan salivanya berat. Menatapnya sangat dalam. "Punggungku sakit". Rey menyandarkan kepalanya ke bahu Kirana. "Maafkan aku ya, Rey! Gara-gara aku punggungmu jadi sakit" Kirana merasa bersalah pada Rey. "Emm... Sebelah mana yang sakit?" Rey menunjuk bagian punggungnya yang sakit. "Tolong kamu cek, Ran. Kenapa rasanya sakit sekali sebelah situ?" Rey meraih tangan Kirana memposisikan tubuh Kirana tepat menghadap dirinya. Dia melepas jas biru dongkernya lalu membuka kancing kemejanya satu persatu hingga semua terlepas. Kirana memalingkan pandangannya dari Rey, saliva nya terasa sangat berat dan sesak. "Sebelah sini, Ran" Rey menunjuk punggungnya sebelah kanan tepat pada tulang belikatnya. Ran terkejut dengan apa dilihatnya. Punggung Rey memar memerah hingga sebesar kepalan tangan. "Rey!!? Punggungmu memar sebesar ini! Bagaimana bisa?" "Sepertinya aku menindih sebongkah batu tadi saat terjatuh" "Bagaimana ini, Rey!? Pasti ini sakit sekali!" Kirana sangat khawatir melihat keadaan punggung Rey. "Kamu mau membantuku?" "Apa yang bisa kulakukan, Rey? Disini tidak ada alat medis ataupun kompres" "Tolong kamu usap-usap saja bagian yang sakit" "Hah?" Kirana membelalakan matanya tidak percaya. Rey menarik tangan Kirana dan mengarahkan tepat ke punggungnya. Perlahan dia menyentuh punggung Rey, diusapnya pelan-pelan hingga Rey merasa nyaman. Sesekali dilihatnya wajah Rey yang meringis kesakitan. "Apa sakit sekali, Rey?" "Iya, sakit sekali. Apalagi saat tau dirimu yang sekarang telah berubah bukan lagi kamu yang dulu ku kenal" Kirana terdiam. 'Sampai kapan kamu akan menyadari aku bukanlah dia yang kamu maksud, Rey'.' Jawabnya dalam hati. "Kenapa diam?" "Maaf" Wajah kirana tertunduk sambil tangannya mengusap kembali punggung Rey. 'Apakah aku egois kalau aku memintamu melupakan wanita yang dulu kamu kenal?' Batin Kirana tak mampu mengucap. Dia hanya kembali terdiam. Rey membalikkan badannya menghadap Kirana. "Kenapa, Ran!?" 'Kalau aku jawab, wanita itu bukan aku, pasti kamu akan marah, Rey' "Tidak ada apa-apa, Rey" Kirana menggelengkan kepalanya pelan. "Terimakasih sudah menemaniku disini". Kirana berusaha mengalihkan pembicaraan. "Kiran?? Apakah tidak ada sedikitpun rasa kasihanmu padaku? Bukankah kamu terlalu berlebihan memperlakukanku seperti ini?" Ucap Rey seraya meraih kedua tangannya dan menggenggamnya erat. "Rey-" Balasnya lirih. "Aku hanya ingin bertanggungjawab atas apa yang kulakukan padamu dulu! Aku sama sekali tidak mengerti dengan perlakuanmu padaku! Aku kira dulu kita sudah bisa saling mengerti. Kamu begitu mencintaiku, tapi sekarang kamu bertingkah seolah sama sekali tidak mengenalku! Dan yang semakin membuatku sakit hati adalah karena kamu! Terus saja menggoda lelaki lain dibelakangku!" Ucap Rey dengan kesal dan matanya yang terus berlinangan air mata. Rey menyatukan kedua tangan Kirana dengan tangan kirinya. Tangan kanannya bergerak mengelus pipi mulus Kirana dengan sedikit kasar. Rasa kesalnya bercampur dengan rasa sayangnya yang begitu besar. "Sekarang aku sudah menjadi orang kaya, Ran. Tidak ada alasan lainnya untukmu menolakku! Apa lebihnya mereka dibandingkan aku, Ran!?!" Kata-kata Rey begitu menusuk hati Kirana. Kirana terisak menahan perih hatinya. Dia tidak tau harus bersikap seperti apa pada Rey. 'Aku hanya tidak ingin bayang-bayang menjadi orang lain bagimu, Rey. Aku bukanlah dia!' Batin Kirana dalam isaknya. "Rey. Bukan begitu! Aku hanya-" "Hanya apa lagi, Ran!!?" Kesabaran Rey sudah memuncak. "Jika hartaku belum cukup untukmu. Lalu apa? Kenikmatan?? Itukah yang kamu inginkan?" Ucap Rey sambil menyeringai sinis. "Sampai-sampai kamu mencari-cari lelaki hidung belang di club agar bisa memuaskanmu?" Mata Kirana kembali membelalak tidak percaya dengan keyakinan Rey tentangnya. Rey masih saja memandang rendah dirinya. "Bukankah benar begitu?" Tanya Rey sambil mengangkat alisnya dengan senyuman sinis. Tangan Kirana bergerak melambai mengarah pada Rey hendak menampar pipinya yang begitu dekat dengan wajahnya. "Jaga bicaram-" Dengan cepat Rey menahan tamparan Kirana dengan tangan kirinya dan menariknya hingga tubuh Kirana terjatuh di pelukannya. Rey dengan cepat meraih tengkuknya paksa, menggigit bibir bawah Kirana dan melumatnya ganas. Kirana memberontak. Namun tangan Rey memeluknya erat. Tenaganya tidak mampu melawan Rey. Kirana hanya mampu terisak dalam diamnya. - Bersambung -
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN