Di rumah ambu

1074 Kata
Mobil berhenti mendadak dan sukses membuat kepala Dela terbentur ke depan. Nah, kena kan! Nakal sih! "Iih ... Mas Ilham rese deh." Dela memegangi jidatnya yang terasa berdenyut. "Biar nggak bandel," sahut Ilham sembari melajukan mobilnya lagi. "Maksud kamu?" Dela tak paham. "Ya itu tadi, Ambu nelepon ga diangkat." Haishhh ... "Aku kan mau buat kejutan, Mas." Lagi-lagi Ilham mendapatkan surprise dari sang istri. Heuh ... Mungkin memang Ilham yang selalu berpikir buruk tentang Dela. "Oh ya? Kalo gitu, kita mampir di toko, kita bawain oleh-oleh buat ambu." Ilham memberi usul yang disambut penuh semangat oleh Dela. Dela ingat betul bahwa ambunya sangat suka brownis kukus. Segera dia pandu jalan menuju tempat penjual brownies yang enak. Kebetulan jalannya searah dengan rumah Ambu. Sementara di kediaman Ambu Indun, sepasang suami istri itu saling berdebat karena tamu yang mereka tunggu belum juga datang. "Kamu telepon dong Dela-nya." Pak Faris terus mendesak. Padahal sudah belasan kali Ambu Indun menghubungi anaknya, tapi tidak diangkat. Dan sekarang, nomer anaknya justru tak aktif. "Apa kubilang. Tahu gini, aku mending kerja," ucap Pak Faris. Ambu Indun geleng-geleng kepala mendengar ucapan suaminya. Tak ada yang menyuruhnya untuk tidak masuk kerja padahal. Tapi ya sudahlah, Ambu Indun tak ingin memperpanjang masalah dengan berdebat dengan suaminya yang tiga tahun lebih muda darinya. Seperginya Pak Faris, Ambu Indun mencoba menghubungi nomer anaknya sekali lagi. Tapi tetap saja tak bisa dihubungi. Ambu Indun nyaris dibuat kecewa, beruntung dia melihat ke luar jendela dan melihat seunit Innova putih masuk ke halamannya. Pasti itu tamunya! Ambu Indun berjalan keluar dengan bersemangat untuk menyambut tamunya. Ternyata Dela tidak membohonginya! Dan alangkah terkejutnya Ambu saat dia melihat wajah tamu yang turun dari mobil itu ternyata adalah anaknya sendiri, Dela. Tangis haru tumpah di antara dua perempuan yang sudah lebih dari tiga tahun terpisah itu. Ambu Indun mendekap anaknya erat, melepas rindu dan menciumi anak perempuannya berkali-kali. Ilham yang sudah sah menjadi suaminya bahkan belum sempat melakukannya. Mata Dela menangkap sosok lelaki yang berdiri di pintu. Tangisnya terhenti, pun rona wajahnya. Bagaimana bisa laki-laki itu ada di rumah? Bukankah sekarang jam kerja?! Ilham berjalan ke arah Pak Faris dan menyalaminya, lebih tepatnya mencium tangan lelaki itu. Dela mengusap air mata ambunya pun air matanya sendiri. "Dela kangen, Bu." Meskipun lelaki itu ada di sini, Dela tak ingin merusak momen bahagia ini hanya karena keberadaan laki-laki itu. "Ayo masuk, ibu udah masak banyak seperti yang kamu minta," ucap Ambu bersemangat. Begitu sampai di teras rumahnya, Ilham langsung mencium tangan ibu mertuanya yang merupakan saudara kembar neneknya. "Sehat, Ham?" tanya Ambu dengan mengusap kepala menantunya. Cucu saudara kembarnya ini lumayan tampan meski kulitnya sedikit gelap. "Alhamdulillah sehat, Nek. Eh, Ambu." Ilham kebingungan harus memanggil Ambu Dela dengan sebutan apa? Karena selama ini, dia memanggil saudara kembar neneknya ini dengan sebutan nenek. Tapi itu sebelum dia menikahi anaknya, Dela. "Ambu aja, Conk. Kan sekarang kamu udah jadi mantu Ambu." "Eh iya, Dela bawain sesuatu buat Ambu." "Nggak usah repot-repot, Nak. Kamu pulang aja Ambu udah seneng banget." "Nggaklah, Ambu. Dela ga repot kok. Mana, Mas?" Dela memandang suaminya. Lebih tepatnya meminta kresek hitam berisi kotak kue. "Makasih ya, ayo masuk dulu, masa' ngobrolnya di luar?" Ambu mengajak anak dan menantunya masuk. Mereka berempat masuk dan duduk di atas sebuah tikar yang sudah digelar oleh Ambu Indun. "Maaf loh, Ham. Keadaaan rumah Ambu begini. Nggak Segede rumah orang Jakarta." "Nggak apa-apa, Ambu. Meskipun kecil kan yang penting nyaman ditempati," sahut Ilham bijaksana. "Betul itu. Sayang, Dela selalu merasa tak nyaman. Dari bapak di sini, dia ngekost." Pak Faris menjawab. Obrolan mereka berlangsung seru dengan cerita yang Pak Faris bagikan tentang masa kecil Dela. Padahal dia sama sekali tidak melihatnya secara langsung, sebatas dengar dari Ambu. Muak mendengar cerita dirinya yang dilebih-lebihkan oleh bapak mertuanya, Dela lantas berbisik pada ambunya, "Bu Dela laper. Makan yuk." "Iya, ayo kamu bantu ibu nyiapin semuanya." Ambu berkata seraya mengajak anaknya untuk membantunya. Obrolan Pak Faris dengan Ilham terus berlanjut, mereka bahkan sampai tidak menyadari bahwa kedua perempuan yang tadinya ada di antara mereka sudah pergi ke dapur. "Ambu, selama Dela pergi Ambu baik-baik aja, kan?" tanya Dela sembari menata piring di atas meja. "Iya seperti yang kamu lihat, Nak." Ambu menjawab sembari menyendok sayur juga menu lain yang sudah dimasaknya tadi ke piring saji. Dela bertugas menyendok kuah kaldu yang sudah selesai dipanaskan. "Syukur deh kalo gitu. Maafin Dela ya, Ambu." "Untuk?" "Untuk semuanya," sahut Dela ambigu. Banyak sekali perbuatan Dela yang secara tak sengaja menyakiti ambunya, Dela akui itu. "Justru Ambu yang harus minta maaf karena saat pernikahan kamu, Ambu tidak bisa datang." Ambu tadinya akan pergi ke Jakarta. Selain untuk menghadiri acara pernikahan Dela, Ambu juga ingin menziarahi makam Hindun, saudara kembarnya. Tapi keadaan, membuatnya harus berdiam di rumah. Bukan karena biaya, karena Ambu memiliki uang tabungan sendiri. Sisa dari jatah belanja bulanan pemberian suaminya, selalu dia sisihkan dan dia tabung. Jadi kalau hanya untuk ke Jakarta, uang itu lebih dari cukup sebagai ongkos ke sana. Dela teringat dengan pernikahannya dan Ilham, tak ada satupun keluarga dari pihak pengantin wanita. Hal itu membuat Dela menjadi buah bibir para tamu ketika itu. "Nggak apa-apa kok, Ambu. Semuanya berjalan lancar," aku Dela berbohong sedikit. Semua makanan sudah tersaji di meja makan. Meja bundar dengan dikelilingi empat kursi yang terbuat dari bambu. Bentuk mereka tak sama, menunjukkan bahwa kursi yang tertata di sini, sedang dipindah tugaskan. Ya, sebelumnya hanya ada dua kursi kayu di meja makan ini. Dan dua kursi yang lainnya adalah kursi teras yang sengaja dipindahkan dan diletakkan di ruang makan. Bukan ruang makan, sih ... Tapi dapur yang juga dijadikan sebagi ruang makan. "Del, panggil suami dan bapakmu." Sementara Ambu menyiapkan gelas sebagai step terakhir dari persiapan acara sarapan bersama pagi ini. Rasanya sungguh membahagiakan. Dela yang dulu, pasti akan langsung kembali ke tempat kostnya kalau dia tahu di rumah ada bapak tirinya. Tapi sekarang, anak itu ternyata sudah mulai bisa beradaptasi dengan keadaan. Ini kemajuan yang luar biasa, bukan? Pasti berkat Ilham. "Mas, makanannya udah siap." Dela berdiri di depan pintu dapur yang langsung menghadap ke tempat Ilham dan Pak Faris tengah duduk mengobrol. "Oke, Sayang. Ayo, Pak." Ilham bangkit diikuti oleh Pak Faris yang tersenyum karena ternyata Dela masih saja belum berubah. Bersikap seolah-olah tidak ada Pak Faris di rumah ini. Dela langsung kembali ke dapur selesai memberitahukan suaminya bahwa makanan untuk sarapan sudah siap. Pak Faris bukan pergi ke dapur, dia malah masuk ke kamarnya. Ada sesuatu yang harus dia selesaikan, sebelum menyantap sarapan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN