LaD - terpojok

1501 Kata
LaD. Beberapa kali Aku menoleh ke belakang melihat keberadaan Silvana dan 2 orang lainnya entah mengapa mereka terlalu lama padahal jarak lorong yang dari tempat mereka berhenti tidaklah jauh. Untuk membunuh kebosanan, Aku berusaha untuk melihat lihat pintu masuk yang kali ini benar-benar berbeda seperti yang dulu pernah aku datang dengan Silvana. Dinding gua yang dulunya ramah tanpa ada jebakan, ini dipenuhi dengan jebakan cepat busuk danta apa tujuan orang itu melakukannya Aku berjalan mendekati dinding motif yang ada di sana dan motif itu baru pertama kali aku lihat. Sebuah gambar abstrak yang tidak mengerti apa artinya terlebih ruangan yang terlalu luas untuk sebuah lorong, entah apa yang akan terjadi tapi aku merasa akan terjadi bahaya di dalam ruangan ini. Sejenak aku mengedarkan pandangan melihat tiap sudut gua dengan kristal yang menyala-nyala di atas sana tempat ini terlihat biasa saja tapi aura yang ada energi sihir yang terasa membuatku tak bisa berkata-kata dan berpikir jika tempat ini adalah akhir dari orang-orang bodoh yang pernah masuk ke dalamnya. Terlebih di setiap sudut ruangan ada beberapa tengkorak yang tergeletak, gambaran tengkorak itu adalah manusia atau mungkin ras lain yang berusaha untuk masuk ke dalam altar naga biru. Aku mencoba mendekati salah satu tengkorak yang ada. Namun ketika aku melihat dari dekat kipernya tengkorak itu sudah rapuh dan siap hancur ketika kusentuh entah apa yang membuat tengkorak itu seperti itu tapi sepertinya energi dari mayat ini sudah diserap habis. "Sepertinya tidak ada yang berguna di tempat ini." Aku bergumam lalu beranjak menoleh kebelakang dan melihat Silvana yang belum kunjung datang entah apa yang terjadi dengan dirinya tapi aku merasa sesuatu yang tidak beres. "Sil! Apa yang terjadi di sana? kenapa kau terlalu lama?" Aku mencoba menghubungi Silvana tapi tidak mendapat respon darinya mungkin dia tengah dalam perjalanan hingga tak merespon panggilanku. Sudahlah toh dia bersama dengan dua orang lainnya dan aku pikir dia akan baik-baik saja, karena kemampuannya juga sudah berkembang pesat tapi aku tidak yakin jika dua orang itu hanya menjadi beban jika bertemu dengan beats liar. Mengabaikan perasaan gelisah aku aku mencoba mendekati gerbang berusaha mengartikan pola yang ada disana tapi sepertinya itu adalah tulisan kuno yang tidak kumengerti. Menghela nafas pelan sepertinya aku memang harus menunggu Silvana untuk mengartikan kata-kata yang ada di atas pintu gerbang. Hingga akhirnya apa yang akan terjadi *BOOOOM!* Sebuah ledakan dari arah belakang membuat skuter keranjang seketika Aku menoleh ke belakang melihat apa yang terjadi sebenarnya tapi apa tidak merasakan keberadaan Silvana dan seketika itu juga aku lari kembali ke arah ke lorong belakang "Sil! apa yang terjadi sebenarnya kenapa ada ledakan di sana?!" Lagi dan lagi di rumahnya tidak menjawab panggilanku dan itu semakin membuatku cemas Sebenarnya apa yang mereka lakukan saat ini. "Jangan membuatku cemas sil!" Percuma sepertinya dia tidak akan mendengarkan ku aku berlari dengan kecepatan tinggi mengandalkan kemampuan ku dan menggunakan sedikit energi sihir yang kumiliki untuk mencapainya lebih cepat. Hingga tak jauh dari tempat aku memulai Aku melihat Silvana dan dua orang lainnya terpojok di tengah-tengah lima orang yang yang mengacungkan pedang ke arah mereka. Aku berhenti dan bersembunyi di balik dinding bukan tidak berani tapi aku harus mempelajari apa yang terjadi di sana karena melakukan serangan secara tiba-tiba tanpa mengetahui apa yang terjadi hanyalah melawan tindakan bodoh yang membuatku ikut terperangkap seperti mereka. "Siapa kalian! Apa yang kalian lakukan di sini kenapa kalian mau ganggu kami?!" Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan tapi dengan bertanya seperti itu malah membuat ingin membuatku tertawa, dasar bodoh! dia pikir dia dalam kondisi yang bisa bertanya dan bernegosiasi seperti itu? Aku mencoba memperhatikan lima orang yang disana dan mengambil kesimpulan tapi sebelum itu lebih baik aku mendengarkan percakapan mereka dulu dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. "Jangan menghalangi jalan kami atau kan kuhancurkan!" Teriak John keras. "Menghancurkan kami?" Salah seorang itu bertanya kepada John dengan nada meremehkan. "Kau pikir siapa dirimu menghadapi dua orang saja kau tidak mampu apalagi menghadapi kamu yang berlima sebelum kamu menghancurkan kami kaulah yang akan kamu hancurkan!" "Biadab apa sebenarnya yang kalian inginkan?" "Tidak ada, karena kalian sudah mengabulkan apa yang kami inginkan dalam kebodohan kalian." Mendengar itu aku mengerutkan kening apa yang dimaksud sebenarnya, Mengabulkan dengan kebodohan yang kami lakukan? Apakah itu mungkin? Hanya satu yang aku pikirkan saat ini dan sepertinya aku harus mendengarkan percakapan mereka terlebih dahulu untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi. "Apa maksud kalian? Berbicara dengan kami!" Ucap Silvana yang siap dengan pedangnya. "Hai gadis cantik jangan terlalu galak seperti itu aku jadi tidak berselera ketika kau menatap kami dengan tatapan amarah seperti itu." Ucap salah satu pria yang ada di sana. Aku juga tahu siapa mereka karena mereka mengenakan pakaian yang tertutup bahkan hanya sepasang matanya saja yang terlihat. "Tidak usah bertele-tele katakan saja apa tujuan kalian sebenarnya dan siapa kalian!" Ucap Dino dengan nada tegas. "Apa kalian bodoh? Aku sudah mengatakan jika tujuan kami sudah kalian kabulkan dengan kebodohan kalian dan sekarang, sepertinya tidak perlu menjelaskan apa yang aku inginkan karena kami, sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan." Aku terdiam lalu berusaha mencerna ucapan dari salah satu orang itu, sebelum akhirnya aku sama menyadari satu hal sepertinya aku tahu apa yang mereka inginkan dan itu adalah material tambang yang ada di tempat mereka saat ini. Sebuah kristal ungu yang jika dijual akan mendapatkan uang yang sangat banyak dan biasanya kristal ungu itu adalah bahan jarahan orang-orang yang tamak akan kekayaan. Tapi aku tidak yakin jika mereka hanya menginginkan kristal ungu itu saja, sepertinya tujuan mereka bukanlah kristal ungu. "Kau tahu ... Perkataan kalian sudah membuatku muak. Kalian pikir siapa diri kalian apakah dengan kemampuan seperti itu bisa menyalahkan kami?" Aku melihat Dino bergerak mendekat mengambil pedang pendeknya selalu berdiri di depan Silvana dan juga John. "Kalian beristirahatlah lakukan menunjukkan kemampuan ku agar aldos tidak menghina kami lagi." Hoo ... Aku tidak menyangka, apakah Dino kamu serius sekarang. Aku jadi penasaran Seperti apa kekuatan sebenarnya dari seorang petinggi eksekutif, karena dari tingkah laku dan pergerakannya dia seolah membanggakan kekuatan yang ada di dalam dirinya. "Wah wah wah coba lihat sepertinya ada pahlawan kesiangan di sini." "Hahaha kau pikir kau mampu mengalahkan kami berlima?" "Sepertinya dia hanya mencoba bergaya di depan wanita cantik itu mendapatkan perhatiannya dan menikmatinya." "Itu sangat menjijikkan! kau tahu, aku benci pria seperti itu." Perkataan mengejek itu membuat Dino berhenti lalu menatap mereka dengan tajam satu-persatu dia berusaha melihat sedikit celah yang mungkin bisa digunakan untuk melakukan p*********n, tapi sepertinya kelima orang itu memiliki kekuatan yang cukup untuk melumat dan menghabisi Dino dalam seketika. "Kau tahu...." Dina menghela nafas pelan lalu menatap seorang pria besar yang baru saja mengejeknya dan berkata jika dirinya menjijikan. "Aku benci dengan pria yang mengatakan pria lain menjijikan kau pikir siapa dirimu?" Dan tanpa aku sadari Dino sudah melesat jauh dan berhenti di belakang tubuh pria besar itu, kecepatan yang luar biasa. Aku bahkan tidak bisa melihat pergerakannya dan itu membuat keterangan seketika. Apakah ini kemampuan dino yang sebenarnya kecepatan luar biasa yang dia miliki benar-benar membuat kue sedikit tercengang. Tapi sayangnya kecepatan itu sepertinya bukanlah masalah untuk pria besar tadi. Bahkan dia bisa dengan mudahnya menangkis serangan dari Dino sepasang pedang itu bisa dia kalau dengan berlatih kecil miliknya. "Wow, kau sungguh cepat bung!" Pria besar itu terkekeh pelan sebelum akhirnya memberi satu tendangan pada perut Dino yang bisa dihindari dengan cara melompat dan menginjak kaki pria besar itu sepertinya insting yang di miliki juga luar biasa karena dia bisa menghindari dan berdiri tepat di atas kaki yang berusaha menendangnya. "Hahaha pria bodoh bahkan menendang perut saja kau tidak bisa!" Salah satu rekan pria besar itu. "Diamlah Aku senang senang senang jangan menggangguku dengan ucapan yang menjatuhkan seperti itu!" "Apa kalian ingin terus mengoceh?" Mikasa dari dinul sudah masakan pandangannya ke arah wajah pria besar itu hingga mengenai dengan talak. "Masih ada aku di antara kalian dan berhentilah mengecek hadapi lah aku dengan serius!" Ucap Dino dengan suara beratnya. "Kau sungguh serius bung, padahal aku hanya ingin mencoba kemampuan saja!" Mendapat tendangan seperti itu pria tadi hanya melirik ke arah Dino. "Kau bukan mencoba sialan! tapi kau meremehkanku dengan tingkahmu yang bodoh itu! Kau pikir siapa aku?" "Apakah kau tahu? Aku sama sekali tidak peduli dengan siapa kamu dari mana kamu dan apa yang kamu lakukan di tempat ini tapi setelah kau menendang kepalaku hidup berarti kau siap untuk mati!" Pria besar itu mengerang lalu mengambil kaki Dino dan memutar tubuh Dino sebelum akhirnya menghempaskan diatas tanah hingga membuat tanah itu sedikit retak karena kuatnya hempasan yang dia lakukan. "Akh!" Aku melihat itu hanya meringis kecil sepertinya itu menyakitkan, Aku tidak ingin langsung turun ataupun membantu mereka karena aku ingin melihat sejauh mana Dino bisa bertahan, ataukah dia memang memiliki kemampuan yang bisa di banggakan selama ini, ataukah dia hanya pria bodoh yang akan mati di tangan pria besar it,u kekuatan mereka sepertinya tidak sebanding. pria besar itu lebih kuat dari Dino, itulah yang aku lihat sekarang. Aku penasaran dengan apa yang akan terjadi setelah ini rasanya begitu menyenangkan ketika melihat seseorang yang selama ini hanya menjadi beban bisa terpojok seperti saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN