sebuah kebebasan

2012 Kata
Mata gue terbuka ketika mendengar sebuah tangisan keras yang menyadarkan gue dari ketidaksadaran gue sedari tadi. Perlahan gue mengerjakan mata untuk memastikan keberadaan gue sekarang, sebuah gurun tanpa ada kehidupan di atasnya, gue mengerutkan kening, saat melihat semua ini. Ada yang aneh di sini, kenapa di gurun gersang tanpa ada kehidupan terdengar suara tangisan beberapa anak yang terdengar pilu. Karena rasa penasaran itu gue mencoba melangkah, melihat sekitar dengan pikiran supaya gue bisa melihat secara langsung apa yang sebenarnya terjadi di tempat ini. Nggak mungkin kan. Gurun panas gersang tanpa ada pepohonan yang tumbuh tapi ada suara tangisan dari beberapa anak di sana. Atau mungkin gue halusinasi karena udara panas di sini, apa istilahnya, fatamorgana? Tapi kalaupun iya, rasanya nggak akan mungkin ada sosok yang menangis di tengah-tengah gurun seperti ini. Lalu sebenarnya ada di mana gue? Kenapa sejak tadi nggak ada sesuatu yang bisa menjawab pertanyaan di benak gue, hanya ada hamparan gurun panas yang benar-benar membakar kulit gue. Tunggu, kenapa tangan gue kembali ke bentuk manusia? Dengan cepat dan karena rasa penasaran itu gue langsung menyentuh wajah gue sendiri, dan benar saja, gue kembali ke wujud manusia, bukan wujud tengkorak hidup seperti sebelumnya. Aneh, apa karena pertarungan yang udah gue menangkan membawa gue kembali ke dunia gue? Tapi kenapa harus di gurun gersang ini. Lagi suara tangisan itu kembali terdengar, raungan yang kuat membuat gue melangkah kaki menuju ke arah suara. Lalu seketika gue melambatkan langkah ketika melihat empat orang berdiri di sana dengan dua anak-anak yang tengah duduk di atas tanah. Empat orang atau lebih tepatnya orge itu tengah memandang dua anak dengan sendu. Lalu salah satu dari mereka berlutut dan menatap anak-anak itu dengan tatapan cemas. "Apa kalian lapar." "I-iya, raja." Jawab salah satu anak dengan nada sesenggukan di sana. Dari sini gue hanya bisa melihat dan memperhatikan apa yang sebenarnya terjadi. Orge yang di sebut raja tadi tersenyum lembut. "Sebentar, biar aku Carikan makanan untuk kalian." "Sungguh?" Mengangguk mantap, sang raja beranjak dari sana. "Raja...." Panggil salah satu orge dewasa ketika melihat sang raja itu berbalik badan dan akan melakukan sesuatu pada tubuhnya. Sang raja tersenyum kecil sembari menatap lengannya kini. "Tidak apa...." Dia menjeda kalimatnya untuk sesaat. "Mungkin hanya ini yang bisa aku lakukan untuk anak-anak yang masih harus tumbuh dan bertahan dari kesulitan ini. Aku sebagai raja tentu harus menjamin para rakyat mendapatkan hak mereka. Apalagi anak-anak." "Tapi, tuan. Jika anda melakukan hal ini terus menerus, maka anda...." "Sudah aku bilang bukan masalah. Walaupun aku mati nanti, aku akan terus berada di sisi kalian dan menjamin kalian mendapat kehidupan yang layak serta terbebas dari kelaparan ini." "Tuan...." Raja orge tersenyum pelan, lalu hal yang dia lakukan membuat gue membelakkan mata karena nggak percaya dengan apa yang dia lakukan. Raja orge memotong lengannya dengan senyum bangga di sana. Bahkan dia juga menutupi lengan yang terputus itu menggunakan jubah di belakang tubuhnya. Setelahnya dia menghampiri kembali dua anak yang masih menangi karena kelaparan di sama. Gue tertegun sejenak. Nggak pernah nyangka kalau orge itu rela mengorbankan dirinya hanya untuk rakyatnya sendiri. Sedangkan di sisi ini, gue sama sekali nggak bisa berbuat apa-apa. Lalu gue lihat sang raja berlutut kembali di sana, menyerahkan lengan itu kepada dua anak tadi. "Kalian lapar bukan?" Tanya sang raja dengan senyum lembut. "Makanlah," ucapnya lagi dengan senyum masih tertahan di sana, seolah apa yang dia berikan adalah daging terbaik di saat kondisi seperti ini. Dan benar saja, nggak sampek dua menit. Dua anak tadi langsung melahap abis lengan itu dengan rakus. Hal yang baru pertama kali gue lihat dan ini terasa aneh, apakah kondisi mereka benar-benar parah sampai-sampai mereka rela melakukan semua ini? Gue sendiri nggak tau pasti apa yang sebenarnya terjadi di sini, tapi ketika gue melihat apa yang terjadi, gue yakin peperangan tadi terjadi karena satu pihak yang berusaha bergerak untuk mendapatkan hak yang setara untuk mereka. Lalu satu pertanyaan, apakah di dunia ini tidak ada hukum yang berjalan, kenapa mereka seolah berebut dan bertarung antar ras hanya untuk mendapat sesuatu yang jelas sedikit berlebihan. Tapi tunggu, bukankah sudah jelas, dunia dengan hukum ego mereka masing-masing, bukan hanya di dunia ini, tapi di dunia gue yang sebelumnya hal ini juga menjadi sesuatu yang wajar dan bahkan mereka saling berebut untuk memikirkan diri sendiri. CK, t***l, apa mereka nggak berpikir apa yang akan terjadi jika mereka terus berbuat seperti itu? Apakah mereka nggak berpikir akan terjadi kepunahan satu ras di dunia ini jika hal ini terus berlangsung. "Tuan ...." Sang raja mendengkus pelan, lalu berdiri di sana dan menatap jauh ke arah kanannya. "Jika ini terus berlanjut, maka aku yakin kita akan segera punah, kehidupan kita di sini benar-benar tidak layak." "Lalu apa yang akan kita lakukan?" "Kumpulan orang-orang, kita akan mencari tempat tinggal baru dan membuat negara untuk para rakyat." "Tapi tuan...." "Aku tidak peduli walau harus berperang dengan ras lain. Aku hanya ingin meminta sedikit saja tempat untuk para anak-anak dan rakyat di sini, tidak lebih. Namun jika mereka tidak memberikannya, maka tidak ada jalan lain selain berperang." "Raja...." Sang raja tak menjawab, tekadnya sudah benar-benar bulat. Dan gue yang mendengar hanya bisa tertegun sejenak. Kehidupan memang sekeras itu. Apapun yang kita lakukan jika tidak memiliki hal yang berguna, maka kita akan tersisih, terlebih jika kita tidak beranjak untuk mendapat sesuatu yang kita butuhkan, kita akan benar-benar mati karenanya. Gue salah satu orang yang pernah tersisih di kehidupan gue sebelumnya, dan itu adalah salah satu hal yang menyakitkan untuk gue. Lalu, setelah melihat semua bayangan dan ingatan ini, apa gue hanya akan diam di tempat, melihat puluhan ras yang akan saling bertarung untuk menentukan kehidupan mereka? Tentu saja tidak, gue nggak akan membiarkan semua ini terjadi, dengan kekuatan yang gue miliki dan keahlian yang sudah mulai terlatih gue akan berusaha menciptakan kehidupan baru untuk mereka. Untuk para ras yang masih tersisa. Itu janji gue. Bahkan saat bayangan ini mulai kabur, sosok raja orge menoleh menatap gue, dia tersenyum hangat di sana, dengan mata berbinar lalu berkata. "Tolong jaga rakyat ku. Janji sudah terpenuhi, maka jangan bunuh mereka." Janji.... Ah iya, gue hampir lupa dengan janji itu. Janjimu ketika dia mati maka dia akan menceritakan semua alasan kenapa peperangan ini terjadi. Dan sekarang gue ngerti, kenapa mereka melakukan hal konyol ini. Semua tak ubahnya seperti para orang kelaparan yang berusaha untuk hidup dan mendapatkan hak mereka. "Beristirahatlah dengan tenang." Ucap gue pelan. Sebenarnya gue malas jika harus berurusan dengan banyak orang ataupun menjadi seorang pemimpin bagi sebuah tempat, gue hanya ingi menjelajahi dunia ini dengan kebebasan yang gue miliki, tapi di sisi lain gue juga nggak bisa membiarkan mereka sendiri. Karena nggak menutup kemungkinan mereka akan menjadi korban lagi, atau bahkan lebih parah lagi dari yang saat ini terjadi. Nggak, gue nggak boleh membiarkan hak itu terjadi. Gue udah megang janji gue sebelum pertempuran ini terjadi. Jadi apapun itu gue akan melakukan untuk mereka, dan kehidupan mereka. Yah, apapun itu. Gue akan melakukannya. Walaupun gue tergolong masih belum tahu apa-apa tentang dunia ini, tapi di sisi terdalam hati gue mengatakan jika gue harus merubah segala tatanan yang ada di dunia ini. Walau itu tidak mungkin. Namun kita lihat saja, apakah gue mampu atau gue malah akan kembali jadi pecundang di dunia ini. "Tuan!" Gue mengerjakan mata perlahan saat tanpa sasar suara itu menyadarkan gue kembali ke dunia di mana gue terlahir kembali dengan sosok lain, mendapat kesempatan yang menurut gue nggak akan pernah tersia-siakan di tempat ini. Sistem : proses penyerapan berhasil, tubuh dan kekuatan demon orge sudah dirubah menjadi energi di dalam tubuh. Sistem : anda mendapat 1000.000 poin experience. Anda naik level. Anda naik level. Anda naik level. Anda naik level. Puluhan notifikasi itu muncul tanpa henti di hadapan gue, entah apa yang sebenarnya terjadi, tapi sekarang gue merasa jika tubuh gue benar-benar dipenuhi dengan kekuatan. Sama seperti saat gue menyerap sang naga, kekuatan ini menguar tanpa henti di seluru tubuh gue. Benar-benar kekuatan yang sangat dahsyat. "Tuan, apa kau baik-baik saja!" Gue mendongak. Menatap pemimpin elf yang terluka parah di saja. "Apa yang terjadi?" Tanya gue sedikit bingung dengan akhir penyerapan, karena pada saat itu. Kesadaran gue benar-benar hilang bak yak tersisa lagi, dan sekarang gue malah bingung dengan yang terjadi di tempat ini. "Di akhir tadi, tuan benar-benar mengeluarkan seluruh kemampuan tuan. Kalian saling berusaha melahap, tapi kekuatan tuan lebih kuat dari monster tadi, hingga membuat tuan menang telak." "Lalu?" "Setelahnya sebuah ledakan terjadi. Dan tubuh demon orge benar-benar lenyap." Gue tertegun, mengangkat sebelah tangan gue. Apakah benar apa yang dikatakannya, gue mengalahkan demon orge. Dan sekarang kekuatan itu bersemayam di dalam tubuh gue. Sistem : skill predator berevolusi menjadi pelahap mutlak. Memungkinkan untuk melahap makhluk hidup dan menyerap segala kekuatannya. Lagi di saat seperti ini gue malah mendapat skill yang berbahaya, bahkan siapa sangka, gue malah mendapat skill pelahap seperti milik demon orge tadi. Orge. Tunggu apa yang terjadi pada mereka? Seketika itu juga gue mengedarkan pandangan. Melihat keadaan yang benar-benar kacau di sana, efek ledakan yang membuat sebuah lubang besar dan banyak pepohonan yang hancur. Tempat ini benar-benar seperi kuburan untuk demon orge itu. "Apa yang terjadi pada para orge?" Tanya gue pada pemimpin elf. Dia terlihat terkejut saat gue menanyakan hal yang mungkin saja tidak perlu gue tanyakan. Namun sekarang jelas berbeda, gue masih perlu untuk mengetahui semua cerita dan alasan kenapa mereka melakukan semua p*********n ini, karena apa yang gue dapat dari ingatan demon orge dana sekali tidak bisa menjamin semua itu. Gue butuh alasan yang tepat untuk melindungi ataupun menyingkirkan mereka agar hal serupa tidak akan terjadi lagi. "Mereka semua selamat tuan, detik terakhir sebelum ledakan dan demon orge benar-benar hancur, anda menyelamatkan mereka dengan sihir ruang." "Benarkah?" "Tentu saja ruan." "Lalu di mana mereka?" Pemimpin elf terdiam sejenak, lalu menunduk dalam. "Maaf tuan. Untuk hal itu saya tidak tahu. Karena tuan yang memindahkan mereka dengan sihir ruang milik tuan." Ah gue mengerti sekarang, sihir ruang yang dia maksudkan mungkin adalah sihir teleportasi yang gue gunakan untuk menyerang demon orge tadi. Jadi untuk mengetahui dimana posisi mereka, gue hanya perlu mengikuti kemana pola yang dilakukan oleh sistem tadi. Gue beranjak, lalu seketika tubuh gue limbung ketika kepala gue berdenyut tajam. Sakit! Ini sakit sialan! Apa, apa yang terjadi pada tubuh gue! "ARGH!!!" "Tuan!" Lalu damar kesadaran gue mulai menghilang. Gue benar-benar nggak sadar kenapa gue sampai kehilangan kesadaran seperti sekarang. Dua kali gue kehilangan kesadaran, bukankah itu konyol? Gue nggak habis pikir lagi sama tubuh ini, entah apa yang terjadi tapi rasanya kesadaran gue benar-benar berat untuk gue pertahankan. Hingga gue benar-benar tak sadar lagi dengan semua yang terjadi. --- Di sisi lain, di tengah-tengah hutan, seorang dengan pakaian serba putih dan topeng menutup wajahnya tengah menghubungi seseorang di sana. "Demon orge berhasil di kalahkan." "Siapa?" "Maaf tuan, saya tidak terlalu mengenal sosok itu, karena secara tiba-tiba dia datang dan merusak semua rencana kita." Terdengar helaan napas panjang dari sebrang sana, dan hal itu membuat pria bertopeng berkeringat karenanya. "Kembali." "Baik ruan." Dia membungkuk dalam ketika pria di dalam bayangan itu perlahan menghilang meninggalkan dirinya dengan keringat serta suasana yang tak bisa dia hindari. "Fuuu. Tuan selalu saja memberikan tekanan yang luar biasa." Keluh pria bertopeng putih tadi dengan helaan napas lega, siapa sangka dirinya akan selamat dari tekanan dan serangan dari pemimpin mereka. "Beruntung kau masih bisa selamat dari amarah, tuan." Pria bertopeng tadi menoleh menatap sosok yang baru saja datang, pria dengan pakaian badut dan juga topeng menyerupai badut itu bersandar pada pohon dengan tangan terlipat di depan d**a. Matanya menyipit tajam menatap sosok yang ada di sana. "Sejak kapan kau ada di sana." "Sejak kau menghubungi tuan." "Dan menguping pembicaraan orang?" "Tentu saja, bukankah itu seuatu kegiatan yang menarik?" "Cih." Pria bertopeng putih itu berdecih pelan lalu berlalu begitu saja. "Jangan mencampuri urusan orang lain." "Tentu saja, aku tidak akan mencampuri urusanmu, karena sebentar lagi kau akan benar-benar habis karena kesalahan fatal ini." "Tutup mulutmu sialan!" "Ups, ada yang marah ternyata. Lebih baik aku undur diri. Hahaha!" Dengan tawa yang menggelegar itu, sosok tadi memilih pergi dari sana dan benar-benar menghilang di balik bayangan gelap. Meninggalkan sosok bertopeng putih yang masih saja cemas akan ucapan dari pria tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN