Bab 5. Mulutmu bau dusta

1136 Kata
Hati Genta panas luar biasa, napasnya sedikit memburu lantaran tidak rela ada yang memanggil Esty dengan sebutan sayang selain dirinya. Mau bagaimanapun ia masih sangat mencintai Esty, sebagaimana cintanya dulu sebelum bercerai. Bibir Sinta sedikit terbuka tatkala melihat betapa tampannya laki-laki yang baru saja memanggil Esty dengan sebutan sayang. Sorot iri jelas Sinta perlihatkan dari tatapan matanya, ia tidak tahu kenapa Esty selalu dikelilingi oleh keberuntungan baik itu dulu atau sekarang. Sedangkan dirinya yang merupakan orang yang ada di dekat Esty, hanya mampu melihat mantan sahabatnya ini dengan hati panas karena tidak seberuntung Esty. Bukan hanya tampannya melebihi Genta, bahkan dari penampilan dan mobilnya saja semua orang akan langsung tahu kalau laki-laki ini merupakan orang dengan kekayaan yang tidak dapat diremehkan. Bahkan wajahnya yang menampilkan kesan antagonis terlalu memikat, membuat siapapun wanita yang ditatap oleh mata elang itu akan langsung meleleh dibuatnya. "Siapa dia, Esty?" Genta bertanya dengan nada menuntut. Pertanyaan Genta barusan sekaligus mewakili keingintahuan Sinta tentang siapa laki-laki super sempurna yang sayangnya seperti memiliki hubungan spesial dengan Esty ini. Sinta tidak rela, sungguh bila laki-laki ini benar-benar kekasih baru Esty. Sejujurnya telinga Esty geli karena gatal mendengar laki-laki ini memanggilnya sayang, baru ia akan menyemprotnya tapi urung tatkala melihat wajah tercengang Genta dan Sinta. Pikiran licik langsung meracuni otak Esty, kenapa dia tidak menggunakan kesempatan untuk memanas-manasi dua orang pengkhianat di depannya. "Menurut Mas Genta siapa?" Esty menaikan salah satu alisnya, berjalan mendekati laki-laki yang baru turun dari mobil dan langsung mengalungkan tangan pada lengan laki-laki itu. Tak tanggung, Esty menoleh dengan senyum manis dan mengecup pipi laki-laki itu dengan sengaja. Usai melakukan itu, Esty kembali menatap ke arah Genta dan Sinta. "Sudah dapat menebaknya sendiri 'kan?" Dapat Esty rasakan kalau tubuh laki-laki di sampingnya menegang untuk sesaat, sebelum kemudian rileks kembali. Seperti mendapat kesempatan, tangan yang semula ia kalungkan dilepas dan kini beralih laki-laki ini merangkul pundaknya. Penasaran Esty menoleh, ia langsung kesal begitu mendapat seringaian menyebalkan laki-laki ini. "Ti-tidak mungkin secepat itu kamu menemukan penggantiku," Genta menolak penjelasan lewat tindakan Esty barusan, baginya Esty teramat mencintai dirinya hingga untuk menemukan penggantinya tidak akan secepat ini. "Kenapa tidak mungkin?" Esty menantang, tertawa lucu begitu mendengar nada tidak percaya Genta. "Mas Genta saja hanya dalam waktu dua bulan berhasil menghamili Sinta, menceraikan aku, lalu kenapa aku tidak mungkin secepat ini mendapatkan pengganti kamu?" "Mas tahu kamu masih mencintaiku, jadi pasti laki-laki hanya kamu bayar untuk memanas-manasiku." Genta mengangguk, menyetujui pemikirannya barusan. "Kalau kamu memang masih ingin bersama Mas, tidak perlu melakukan hal sampai sejauh ini! Cukup kamu datang pada Mas, Mas akan dengan terbuka menyambutmu. Apa lagi ibu kerap kali menanyakan kamu, dia pasti senang kalau kamu bisa mengurusnya lagi." "Anda bergurau?" Laki-laki yang kini merangkul Esty tampak memyeringai memgejek pada Genta, tak habis pikir dengan segala omongannya kosong yang Genta katakan pada Esty. "Siapa perempuan yang akan mau kembali pada laki-laki yang merayunya dengan mengatakan harus mengurus kembali ibumu yang sakit? Anda benar-benar berotak kosong." "Jaga bicaramu!" Genta menimpali marah. "Kenapa Anda marah? Apa yang aku ucapkan itu salah? Aku kira itu memang benar." Laki-laki itu mengedikkan bahu acuh. "Hei, lagi pula Esty sekarang sudah menjadi minuman--istriku, kamu tidak akan bisa memilikinya lagi sebab apapun yang sudah menjadi milikku tidak akan aku biarkan lepas bagaimanapun caranya." "I-istri?" Bukan Genta yang terkejut, melainkan Sinta. Perempuan hamil itu melotot, mematap Esty dan laki-laki tampan di sampingnya. Sial, kenapa Esty malah mendapatkan pengganti yang lebih dari mas Genta. Rutuk Sinta dengan hati panas luar biasa. Sinta kira ia sudah berhasil membuat Esty hancur hingga tidak akan pernah lagi menghadirkan senyum yang kata orang-orang sangat manis, tapi rupanya Esty tak terkira. Esty dengan gampang melepas Genta, lalu mendapatkan laki-laki yang lebih segala-galanya dari Genta. "Ah, apa aku mengejutkanmu?" Laki-laki itu menarik salah satu sudut bibirnya, tampak puas saat melihat Sinta yang tercengang sampai rahangnya jatuh. "Terima kasih padamu karena sudah membuat Esty dan mantan suaminya berpisah, sebab akhirnya kini aku dapat bersatu dengan Esty." "Aku tahu," Genta menatap Esty marah. "Kamu dan laki-laki ini pasti sudah berselingkuh dari kita saat masih menjadi suami istri. Mengatakan aku seorang pengkhianat, nyatanya kamu lebih munafik dari padaku." "Oh ya, atas bukti apa kamu dapat menuduhku begitu?" Esty menaikan salah satu alisnya. "Kalau tidak ada, sebaiknya gosok gigi saja. Mulut Mas Genta bau dusta, mencari-cari alasan untuk balik menyalahlanku karena tidak ingin bersalah sendirian." Genta melirik Sinta, menarik lengannya kasar. "Sinta, ayo kita kembali masuk ke dalam!" "Istriku memang jago kalau masalah membalik perkataan," laki-laki di samping Esty menguyel-nguyel pipi Esty dengan gemas, membuat Esty kesal hingga menabok punggung tangannya. "Ish, tetap saja galak." "Lingga, bisa gak sih gak usah cari kesempatan dalam kesempatan. Jauhkan tanganmu! Jangan memelukku sembarangan!" Esty memberontak, melepaskan diri dari rangkulan Lingga. Setelah dapat terlepas, Esty langsung membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. Lingga hanya tertawa pelan sebelum kemudian mengelilingi depan mobil dan masuk ke pintu bagian kemudi. Di dalam mobil Lingga kembali melanjutkan aksi menggoda Esty, hal itu menjadi kesukaannya membuat Esty kesal dam memarahinya. "Maaf Mas Genta kalau selama ini aku menyembunyikan sesuatu dari Mas," ucap Sinta dengan pandangan penuh rasa bersalah, ada sorot kesedihan pada tatapannya yang tentu saja adalah kebohongan belaka. Genta yang masih diliputi cemburu karena bayangan Esty dirangkul dengan laki-laki lain belum hilang, kini mendengar ucapan Sinta yang ambigu membuatnya bertambah bingung karena tidak tahu maksud Sinta apa. "Maksud kamu apa?" Sinta tidak akan membiarkan Esty bahagia, ia ingin Esty menderita. Melihat Esty yang malah semakin cantik setelah diceraikan Genta, jelas saja Sinta tidak akan tinggal diam. Sinta susah merencanakan sesuatu dan sasarannya tentu saja Genta. Dengan mata sedih Sinta berucap, "sejujurnya dari dulu Esty memang sering bergunta-ganti pacar, hingga akhirnya aku mau menegur dia karena masih melakukan kebiasaan buruknya itu setelah menikah dengan Mas Genta. Namun, Esty mengancam akan memutuskan persahabatan denganku kalau sampai aku mengatakan perselingkuhannya pada Mas Genta, hingga pada akhirnya aku diam dan baru berani mengatakannya sekarang." "Kurang ajar!" Genta mengutuk marah. "Pantas saja Esty dengan mudahnya meminta cerai, lalu tidak lama sudah mendapatkan penggantiku. Esty benar-benar kelewatan, awas saja dia!" Diam-diam Sinta menyeringai saat melihat sorot penuh dendam pada mata Genta, akhirnya rasa irinya akan terbalas tanpa ia harus mengotori tangannya sendiri. Semoga kali ini Esty benar-benar berakhir, agar tidak ada lagi saingannya dalam memiliki Genta seutuhnya. Sampai di kantor Genta dan Sinta kebingungan saat melihat semua orang berbasis rapi, begitu mendekat keduanya diberi tahu atas kedatangan cucu eyang Saminta akan datang. Setelah beberapa saat keduanya berbaris, sebuah mobil berhenti tepat di depan pintu masuk kantor. Sinta dan Genta langsung saling pandang begitu melihat mobil yang baru berhenti itu, keduanya sontak membulatkan mata dengan pandangan mata seolah sepakat berkata 'tidak mungkin'. Namun, penolakan keduanya harus pupus begitu seorang bodyguard membuka pintu mobil, lalu seorang laki-laki dengan wajah angkuh penuh pesona ke luar. "A-apa, kenapa bisa dia?" Sinta berbisik, lebih tepatnya bertanya pada diri sendiri. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN