“Aku nggak merasa apa-apa, tapi … aku memang nggak ingat terakhir datang bulan ku.” “Bukannya dulu begitu juga, kamu nggak menyadarinya dan tahu-tahu hamil waktu di Leeds.” Reyna mencubit bibir Dewa gemas, dia jadi mengingat kembali masa-masa sulitnya. “Maaf, aku tau kamu pasti sedih lagi kalo ingat-ingat masa-masa itu—“ “Nggak, nggak, Dewa. Awalnya sedih, tapi lama-lama aku malah bahagia, terutama saat Quinza lahir. Hm … menyenangkan sekali, dan aku masih ingat waktu dia lahir. Dia cute banget, dan mirip kamu.” Dewa terenyuh mendengar suara Reyna yang agak bergetar mengenang masa-masa peliknya, dan dia mengerti. “Hm … lalu apa nggak sebaiknya kamu memeriksakan diri ke dokter?” Dewa kembali menyinggung keadaan Reyna. Reyna tergelak. “Kamu kok bisa sepede itu sih, Dewa?” “Kenapa ngga

