Waktu kelahiran buah cinta Jaehwan dan Tan tinggal menghitung hari, setiap tengah malam, Tan pasti terbangun dan merenungkan keadaan ia dan bayinya, dokter memang menyatakan bahwa mereka berdua sehat dan normal, namun tetap saja Tan khawatir, tak ada yang bisa mengetahui rencana Tuhan, ia takut tak bisa berjumpa dan merawat anak mereka setelah melahirkan, ia takut akan meninggalkan Jaehwan sendirian bersama anak mereka. "Sayang, memikirkan apa sih? Sudah satu minggu kau selalu terbangun seperti ini, ada apa? Ceritakan padaku," ucap Jaehwan lembut sembari memeluk istrinya dari belakang, ia mengusap perut Tan yang semakin membesar. Tan menggeleng pelan, "Nggakpapa kok, mas." "Bohong," "A-aku cuma, takut," lirih Tan lalu menghela napas kasar, "Aku takut ninggalin mas dan anak kita," ucap

