1. Save Me!

2042 Kata
Menjadi seorang Asisten pribadi bukanlah hal yang mudah. Kita harus siap dengan semua tugas yang terkadang datang dengan sangat tiba-tiba. Seperti, jika atasan memintanya untuk pergi ke luar negeri hari itu juga, maka kita harus siap. Saat ini, terlihat seorang gadis menatap Bosnya yang sedang sibuk berbicara melalui telpon sembari menatap padatnya jalanan lewat jendela ruangannya yang berada di lantai 3. Gadis itu bernama Minzy, nama lengkapnya adalah Minzy Watson. Dia bekerja sebagai seorang asisten pribadi untuk seorang CEO di sebuah perusahaan yang bergerak dibidang property. Jujur saja, Minzy kebingungan karena tiba-tiba saja dipanggil melakukan wawancara langsung oleh CEOnya untuk bagian itu, dirinya sendiri tidak bisa percaya apa yang telah terjadi dan apa alasannya ia bisa diterima, padahal ada beberapa yang lebih baik dan berpengalaman dari dirinya di hari wawancara itu. Namun, melihat gaji yang ditawarkan tinggi dan kebutuhannya harus terpenuhi, Minzy langsung membuang jauh pertanyaan dan kebingungannya hingga akhirnya Minzy menerima pekerjaan itu dan menjalankan setiap kewajibannya. Sebetulnya ia tidak mengharapkan posisi yang seperti sekarang ini, karena ia tidak memiliki pengalaman apa pun tentang pekerjaan itu. Tapi dia tidak ingin melewatkan kesempatan ini, maka dari itu ia selalu melakukan yang terbaik dalam setiap tugasnya dan selalu mempelajari hal baru ketika mengerjakannya. Kewajibannya bukan hanya mengerjakan tugas yang berhubungan dengan perusahaan saja, namun terkadang ia juga harus melakukan tugas yang bersifat pribadi. Seperti saat itu ia diminta untuk menjemput saudara dari Bosnya di Bandara. Untuk tugas yang berhubungan dengan perusahaan, sudah pasti Minzy turut andil dan membantu Sekretaris perusahaan dalam melakukan pembukuan dll. Andai saja jika ia memiliki Bos yang sangat friendly, Minzy akan mengerjakan tugasnya dan menjalani waktu kerjanya dengan sangat bahagia. Namun sayang sekali, Minzy harus terjebak melayani Bosnya yang terkenal dingin, irit bicara dan setiap kalimat yang dilontarkannya terdengar sangat arogan. Menyebalkan. Satu lagi, entah mengapa, tapi Bosnya itu sering sekali mengganggunya. Setelah cukup lama melamun, akhirnya Minzy tersadar ketika mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya. Siapa lagi jika bukan Bosnya yang baru saja menyelesaikan pembicaraan di telpon. "Permisi Pak." "Hn? Ada apa?" Minzy menatap sebuah Papan nama yang berada di atas meja kerja sang Bos. Marvillio Abraham, namanya memang sangat sosok dengan karakternya yang dominan. "Ada apa? Kalau tidak ada yang ingin kau bicarakan, maka pergilah. Jangan membuang waktuku dengan tingkah aneh kamu itu." Ucap Marvi. Minzy menghela nafas dalam dan, "saya hanya ingin mengingatkan bahwa 15 menit lagi, Bapak akan melakukan pertemuan dengan klien di--" "Batalkan." Mata Minzy membulat sempurna. "Ma-maksudnya? Pak, waktunya hanya 15 menit lagi, akan tidak baik jika Bapak membatalkan pertemuan secara tiba-tiba." Marvi mengangkat sebelah alisnya. "Saya harus segera pulang, jadi batalkan saja." Ucap Marvi dengan mudahnya. Minzy memejamkan mata sejenak untuk menekan rasa kesalnya. "Pak, para klien sudah menuju restoran yang Bapak pesan. Saya harus mengatakan apa pada mereka?..." "Itu urusanmu." Ucap Marvi yang kini berdiri di hadapan Minzy. Dang! Minzy mengembuskan nafas kasar. "F*ck you." Geramnya pelan seraya hendak berlalu. Namun tiba-tiba saja Marvi menahan pergelangan tangannya. "What did you say? Hn?" Tanya Marvi. Minzy menelan ludahnya dengan susah payah. "Saya, saya hanya bersenandung..." Bohongnya. Marvi tersenyum miring. "Saya mendengarnya dengan jelas." Keringat mulai bercucuran membasahi wajah cantiknya. "A-apa yang Bapak dengar?" Marvi mendekatkan wajahnya ke telinga Minzy. "F*ck you. Itu yang kamu katakan, benar kan?" Mata Minzy membulat dengan sempurna dan merutuki kebodohannya. "No, saya--" "F*ck me then." Ucap Marvi dengan sebelah alis terangkat. "WHAT?!" Minzy memekik kaget. Hal itu membuat Minzy bergidik ngeri. Ia langsung menarik tangannya dari genggaman Marvi, kemudian berlalu dengan terburu-buru seraya meraih tas kantor miliknya. "Aish... Kalau bukan Bos, udah gue tendang wajah ganteng-- tunggu, kok gue malah muji dia ganteng. Ck. Aish... Nyebelin." Kesalnya seraya memukul-mukul tas dan berjalan dengan kaki yang dihentak-hentakan. Sekarang ia harus pergi menemui para klien dan memberikan alasan yang selogis mungkin agar bisa diterima. Perilaku Marvi yang seenaknya benar-benar membuat Minzy geram karena itu membuat pekerjaannya menjadi lebih sulit lagi. "Pantes aja dia gak punya pacar, orangnya nyebelin. Arrgh..." Geramnya. Minzy pun berlalu menggunakan mobil perusahaan dengan diantar oleh sopir perusahaan pula. Selama perjalanan menuju restoran, Minzy hanya diam menatap jalanan. Jika sedang seperti ini, ia selalu teringat masa kecilnya. Ia teringat akan Ibunya yang telah tiada. "Kenapa Ibu pergi?... Kenapa pergi sendiri..." Lirihnya seraya mengingat sang Ibunda yang mengakhiri hidupnya karena tidak kuat bertahan hidup menderita dengan suami yang peminum berat. "Apa Ibu bahagia di sana? Ibu tenang saja, Ibu panti mengurusku dengan baik. Hingga sekarang aku bisa berjuang sendiri dan membantu mereka juga..." Ucap Minzy dalam hati. Kemudian tersenyum seraya memegang hatinya yang terasa sesak. ***** Langkah Minzy terhenti di depan pintu ruangan VIP. Minzy dapat mendengar perbincangan orang-orang yang berada di dalam ruangan, itu membuat Minzy semakin gugup. "Para klien sudah datang. Ya tuhan... Aku harap mereka mengerti dengan alasan yang akan aku ucapkan nanti." Minzy berucap perlahan. Ceklek. Pintu terbuka dengan perlahan dan keadaan senyap dalam sekejap. Minzy melangkah masuk dengan senyuman di wajahnya. "Selamat siang!" Ucap Minzy menyapa. 3 orang pria paruh baya dan satu orang pria seusia Marvi berdiri kemudian mengangguk dengan sopan. Begitupun dengan Minzy, Minzy langsung membungkuk 90 derajat memberi hormat sekaligus rasa tidak enak. "Selamat siang Nona, di mana bos kamu?" Tanya salah satu dengan kumis lebat di bawah hidungnya. Minzy tampak gugup. "Mari kita duduk terlebih dahulu, silahkan Tuan..." Mereka kembali duduk dan menatap Minzy penasaran. "Jadi, di mana Mr. Abraham?" Minzy mengangguk paham. "Sebelumnya, saya selaku asisten pribadi dari Tuan Abraham ingin mengucapkan maaf. Maaf karena hari ini Tuan Abraham tidak bisa menghadiri pertemuan karena beliau harus menyelesaikan urusan keluarga. Sekali lagi, saha mohon maaf telah membuat anda semua menunggu dan tidak nyaman." Ucap Minzy menyesal. Salah satu klien yang usianya sama dengan Marvi tersenyum sinis. "Sangat tidak disiplin." Ucapnya. Minzy menunduk sebagai bukti penyesalan. Ini semua karena Bosnya yang sangat menyebalkan dan membatalkan pertemuan tanpa aturan. Sungguh egois. "Saya mohon maaf." Ucap Minzy. "Jujur, kami sangat kecewa." Sahut salah satunya. Klien dengan jas berwarna biru tua memegang bahu Minzy. Minzy terperanjat kaget. "Kau harus bertanggung jawab, Nona..." Ucapnya. Minzy menelan ludah dengan susah payah. "Tapi... Bos saya---" "Bagaimana? Apa kalian setuju bahwa Nona Minzy ini akan bertanggung jawab atas waktu yang sudah terbuang sia-sia?" "Setuju!!" "Kau benar Tuan Louise. Tugas asisten pribadi adalah membantu untuk meringankan tugas Bosnya, bukan begitu?" Sahut yang lainnya. Minzy tersentak kaget ketika tangan pria bernama Louise memegang paha kanannya. Ia menepis tangan pria m***m itu dengan keras. Kemudian berdiri dari duduknya. Minzy melangkah mundur dengan ekspresi ketakutan. Kakinya sangat bergetar, begitupun dengan tangannya. Sampai akhirnya, punggung Minzy menyentuh tembok. "Jangan mendekat!" Ucap Minzy menyentak seraya melindungi bagian depannya dengan tas kantor yang dirinya bawa. Keringat mulai bercucuran. "Jangan sentuh saya..." Mohon Minzy ketika pria bernama Louise berjalan semakin mendekat ke arahnya. Sedangkan klien lainnya tampak tertawa dari tempat duduk masing-masing. Minzy memeluk tas kerja dengan erat ketika tangan Louise mengusap helaian rambutnya. "Aku mohon... Biarkan aku pergi Tuan Louise," ucap Minzy memohon dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Louise tersenyum miring. Pria m***m itu mendekatkan wajahnya pada Minzy. "Aku ingin mencicipi rasa bibir seksi milikmu ini..." Merinding. Bulu kuduk Minzy berdiri mendengar kalimat itu. Minzy semakin takut. Bahkan ia tidak bisa menahan air matanya lagi. "Jangan, Tuan... Aku mohon... Aakh!" Minzy menjerit kesakitan ketika Louise mencengkeram dagunya dengan kasar. "Kita akan bersenang-senang di depan mereka." Ucap Louise. Minzy hanya bisa menangis di bawah tekanan Louise. Ia melirik pria lainnya, pria yang usianya jauh di atasnya. "Tolong saya... Saya mungkin seusia anak kalian..." Minzy memohon bantuan. Namun tidak ada yang mendengarnya. "Hey, kami tidak memiliki anak perempuan hahaha... Jadi diam saja, kami ingin menyaksikan adegan indah secara langsung." Ujar salah satunya. Kaki Minzy sudah semakin lemas karena rasa takut dan, BRUGH! Minzy terjatuh di atas lantai. Louise tersenyum penuh arti. "Woaah, ini akan mempermudah jalanku untuk melepaskan semua pakaianmu cantik!" Ucap Louise berbisik. Minzy hanya bisa menepis tangan Louise sekuat tenaga, tapi ia tidak bisa. Louise terlalu kuat untuk dilawan oleh tubuh lemahnya. Louise menarik tas yang Minzy peluk dan melemparnya ke sembarang arah. "TIDAK! Aku mohon... Jangan lakukan ini," Minzy memohon untuk kesekian kalinya. Sedangkan di sisi lain, terlihat Marvi yang sedang sibuk mencari keberadaan tas miliknya. "Di mana tas milikku? Ini, ini tas siapa?" Bingung Marvi. Kemudian Marvi mendengus kesal. "Gadis itu, dia pasti salah mengambil. Menambah pekerjaanku saja." Marvi meraih jas miliknya dan berlalu dari dalam ruangan dengan tas milik Minzy yang ternyata tertukar. "Sekarang, dengan sangat terpaksa aku harus menyusulnya. Dasar gadis teledor. Dia selalu terburu-buru, karenanya aku harus telat pulang ke rumah." Ucap Marvi dalam hati. Ia mengambil kunci mobilnya dari dalam saku. Ya, hari ini ia tidak memakai jasa sopir, Marvi bahkan jarang menggunakan jasa sopir, ia lebih suka berkendara sendiri. Marvi masuk ke dalam mobil dan menjalankannya dengan terus menambah kecepatan ketika ada kesempatan. Ibunya sudah menunggu dirinya di rumah, jadi ia harus segera menukar tas miliknya dengan milik Asisten pribadinya. Setelah beberapa menit dan melewati dua tikungan, akhirnya Marvi sampai di sebuah restoran yang sebelumnya ia pesan untuk pertemuan dengan klien bisnisnya. Ia dapat melihat mobil kantor masih terparkir di sana. Marvi mengernyit heran seraya turun dari mobil dan berjalan menghampiri sopir kantor yang sedang duduk di salah satu kursi di luar restoran. "Selamat siang, Pak!" Ucap sopir itu menyapa. "Di mana Minzy?" Tanya Marvi. "Nona Minzy masih belum keluar dari dalam restoran, Pak." Marvi semakin bingung. "Apa dia sudah lama di dalam sana?" Sopir itu mengangguk. "Ada apa ini? Dia tidak mungkin melakukan presentasi sendiri, bahkan tanpa perintah dari diriku." Heran Marvi. Ia berjalan memasuki restoran dengan langkahnya yang penuh karisma. Tanpa susah payah, Marvi langsung menemukan ruangan VIP itu. Langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara rintihan dan gelak tawa para pria dari dalam sana. Tanpa pikir panjang, Marvi membuka pintu tersebut dan alangkah terkejutnya dia. Mata Marvi membulat sempurna. Tangannya mengepal kuat dengan sorot mata tajam dan wajah memerah menahan amarah. Dan, BRAKH! Marvi menendang kursi kosong di hadapannya dengan keras membuat 4 orang b******k itu menatap ke arahnya. "Pak Marvi..." Lirih Minzy. "Tolong..." Marvi berjalan ke arah Louise yang kini berdiri merapihkan kemejanya. "Kau sudah kurang ajar!" Ucap Marvi penuh tekanan. BUGH! Satu pukulan mengenai wajah m***m Louise, hal itu membuat tiga klien lainnya terperangah kaget. Marvi melipat kemeja kerjanya hingga sikut. Kemudian ia menarik kerah kemeja Louise. BUGH! "Itu karena kau telah merobek pakaiannya!" BUGH! "Itu karena kau sudah melukai wajahnya!" Marvi hendak menendang perut Louise, namun ucapan lemah Minzy menghentikannya. Ia langsung menghampiri Minzy yang untungnya masih tertutupi pakaian. Hanya saja, roknya sedikit robek dan sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah. Louise yang sudah mendapatkan pukulan tampak memutar bola mata sebal. "Apa dia benar-benar hanya asisten kamu? Atau, asisten di atas tempat tidur juga?" Pertanyaan yang Louise lontarkan membuat Marvi menggeram tertahan. Minzy memegang tangan Marvi dan menggelengkan kepalanya. "Bawa aku pergi..." Ucapnya. Marvi mengangguk pasti. Kemudian, dengan satu kali angkat, Minzy berada dalam gendongan Marvi. "Marvi! Aku akan membatalkan kerja sama ini karena kau telah berani memukul aku hanya karena jalang itu!" Teriak Louise pada Marvi yang sudah berlalu dari sana. Marvi berjalan secepat mungkin dengan Minzy yang berada dalam gendongannya. "Marvi..." "Kumohon diamlah," ucap Marvi. Sopir yang menemani Minzy terperanjat kaget. "Nona Minzy, ada apa dengannya?" "Cepat bukakan pintu mobilnya!" Pinta Marvi. Sopir itu langsung membukakan pintu mobil mewah milik bosnya. Kemudian Marvi mendudukkan Minzy di dalamnya, tepat di samping kemudi. "Kau kembalilah ke kantor, Minzy biar aku yang urus." Ucap Marvi yang kemudian menyusul masuk ke dalam mobil. Marvi terdiam sesaat seraya menatap Minzy yang sudah tidak karuan. Rambutnya berantakan, roknya robek dan sudut bibirnya berdarah. Setelah itu, Marvi langsung melajukan mobilnya meninggalkan restoran. Marvi melirik Minzy sekilas dan kembali fokus pada jalanan. "Apa dia melakukan sesuatu selain ini?" Hiksss... Minzy terisak. "Katakan." Ucap Marvi. "T-tidak... Dia, dia hanya menyentuh paha--" "Sudah, lupakan. Sekarang kau aman. Dan akan aku pastikan, itu tidak akan terjadi lagi." "Pak, apa mereka akan--" "Tidak. Kita tidak akan melanjutkan kerja sama dengan mereka." Ucap Marvi. "Tapi, perusahaan akan mengalami kerugian, b-benar kan?" Marvi menambah kecepatan laju mobilnya. "Tidak akan ada kerugian. Istirahatlah dan aku akan membawamu ke rumahku, luka kamu bisa di obati di sana." Ucap Marvi. Minzy hanya diam. Ia kembali teringat bagaimana pria bernama Louise itu menarik rambutnya dan berusaha untuk mencium bibirnya namun gagal. Hari ini benar-benar hari yang sangat buruk untuk dirinya, Minzy berharap ini tidak akan terjadi lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN