APART

2323 Kata

Hari itu pun tiba. Jakarta masih gelap saat lantunan shalawat nabi merambat di udara dan membangunkan pasangan muda yang menghuni rumah japandi tersebut. Anne langsung duduk begitu matanya terbuka, bukan karena tangisan Safa, melainkan karena jadwal baru yang sudah menunggunya. Ben turun dari ranjang lebih dulu, beranjak ke kamar mandi, langsung membersihkan tubuhnya di bawah deras kucuran air hangat. Anne melangkah ke dapur, menggunakan kamar mandi di sana, kemudian beringsut ke dapur guna mempersiapkan bahan makanan yang akan dimasak. Suara mesin kopi mendesis, aroma arabica memenuhi rumah kecil mereka. Sembari menunggu kucuran espresso berhenti, ia melarutkan bubuk matcha. “Morning, Ibun,” ujar Ben yang menyusulnya sambil menggendong Safa—beberapa saat kemudian. Safa menguap, sement

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN