“Jalan Pak! Cepetan ya, tapi jangan terlalu dekat.” Pinta Sharell pada sopir taxi. napasnya masih terengah-engah. Ia tadi berlari cepat ke kamarnya untuk mengambil tas berisi aneka persiapan untuk kabur yang memang sudah ia siapkan semalam.
“Siap Non,”
Dari kejauhan terlihat Verrel memang mengendarai mobil sendiri. Sementara kedua orang tuanya naik ke mobil lain yang dikemudikan oleh sopir mereka. Verrel dan kedua orang tuanya langsung pisah arah. Ini keberuntungan bagi Sharell. Ia semakin aman dan bebas mengikuti Verrel tanpa ketahuan.
Sementara itu di kediaman keluarga Sharell, semua kembali ke aktivitas masing-masing. Para bibi membereskan macam-macam oleh-oleh yang dibawakan keluarga Verrel serta membereskan meja makan yang tadi penuh berisi hidangan. Sementara mama Sharell belum sadar kalau anaknya gadisnya sudah tidak ada di rumah.
“Sharell, kamu lagi apa? Mama boleh masuk gak?” suara mama di depan pintu kamar Sharell. Kamar itu tertutup rapat. Mamanya mengira anak ini ada di dalam. “Sharell, kok gak jawab?” tanya nyonya Wita sekali lagi sambil coba membuka pintu itu. Ternyata tidak di kunci. Matanya menjelajah dan baru sadar kalau kamar ini kosong. Sementara pintu kamar mandi juga terbuka. Tandanya tidak ada orang. “Kemana dia?”
“Cari siapa Ma?” Randi menghampiri mamanya.
“Kakakmu lah, siapa lagi?”
“Gak tau,” Randi mengangkat bahu. Kali ini dia memang benar-benar tidak tahu. Sharell memang berhasil lolos dengan mulus.
“Ya sudah, mama lihat ke halaman belakang dulu.”
Nyonya Wita memanggil para bibi untuk ikut mencari Sharell. Di halaman belakang rumah yang terdapat teras dan deretan mawar dalam pot, biasanya Sharell sering menghabiskan waktu di sana. Tapi kali ini nihil.
“Kemana ya anak itu? Tadi ‘kan dia masih bareng menemui keluarganya Verrel? Bibi gak ada yang lihat?” Nyonya Wita mulai gusar.
“Maaf Nyonya, kami gak lihat,” jawab salah seorang bibi.
Ayah Sharell yang sejak tadi sedang sibuk membaca email di ponselnya mulai menyadari ada kegaduhan yang sedang terjadi. “Ada apa ini? Kok kayaknya pada panik cari sesuatu? Apa ada yang hilang?”
“Eng ….” Mama Sharell takut menjawab.
“Non Sharell gak ada tuan,” salah seorang bibi malah lebih dulu memberi tahu.
“Gak ada? Kemana? Tadi ‘kan sama-sama kita?” Tuan Reinhard yang memang berkarakter tegas dan cukup diktator ini langsung bereaksi. Nyonya Wita langsung memutar otak mencari jawaban yang tidak akan semakin memicu masalah.
“Mungkin Sharell ada keperluan mendadak, jadi … mungkin dia keluar rumah sebentar.” Nyonya Wita berusaha membela putrinya.
“Keluar sebentar bagaimana? Dia memang tadi pamit mau pergi?” Suara ayah Sharell mulai meninggi. Para bibi mulai ciut. Mama Sharell hanya bisa tertunduk. Sudah puluhan tahun bersama, ia sudah paham perangai suaminya.
“Biar aku yang cari Sharell,” Tak mau memicu pertanyaan yang lebih banyak dan melihat suaminya naik darah, mama Sharell cepat berlalu. Berjalan mengelilingi rumah sekali lagi. Ia masuk ke kamar Sharell sekali lagi sambil terus coba menghubungi ponsel anak itu. namun sayangnya tidak aktif. Sebuah kertas memo menempel di atas meja rias. Buru-buru nyonya Wita mengambilnya.
“Assalamualaikum Ma, Pa, maaf ya bikin kalian panik. Tapi kali ini Sharell gak bisa menerima begitu saja perjodohan yang ditetapkan mama sama papa untuk aku dan Verrel. Aku kenal Verrel sejak sekolah. Dia itu absurd! Aku gak mau punya jodoh es batu kayak dia. Jangan tanya aku pergi kemana. Pokoknya aku akan pulang kalau sudah berhasil bawa bukti-bukti kalau Verrel itu bukan calon mantu idaman bukan mama sama papa. wasalam, jangan marah ya,” tulis Sharell pada kertas itu.
“Hah?” Nyonya Wita langsung memegangi keningnya dan nyaris pingsan.
“Nyonya!” salah seorang bibi langsung berlari masuk ke kamar Sharell dan membantu memapah Nyonya Wita.
***
Hampir dua jam Sharell masih membuntuti Verrel. Ia belum tahu dimana Verrel tinggal sebenarnya. Dia pikir masih dalam kota. Tapi perjalanan kali ini sepertinya arah menuju ke pelabuhan.
“Non, ini mau diikuti terus?” Sopir taxi mulai bingung.
“Iya Pak, tolong ya Pak, pokoknya ikuti terus. Saya bayar lebih deh,”
“Bukan soal itu Non, ini sepertinya arahnya ke pelabuhan. Kalau sampai ke seberang pulau saya gak sanggup ya Non,”
“Hah, eng … i-iya Pak,” Sharell mulai gentar. Ingin turun sekarang juga sudah tidak mungkin. Mereka sekarang di jalan tol. Lagi pula kalau mendadak putar balik dan pulang Sharell malu. Memo pamit untuk kabur itu sekarang pasti sudah terbaca oleh orang rumah, pikirnya.
‘Duh, masa nyebrang pulau segala sih? Jauh banget lagi, gimana ini?’ batin Sharell sambil terus memutar otak.
Menit-menit berlalu. Pelabuhan semakin dekat. Benar dugaan Pak sopir, mobil Verrel masuk ke pelabuhan.
“Tuh ‘kan Non, masuk ke pelabuhan. Non mau gimana ini? Turun depan pelabuhan atau gimana?” tanya Pak Sopir.
“Eng ….” Sharell bingung sambil matanya terus mengintai mobil Verrel. Takut kehilangan jejak. “Iya deh Pak, masuk aja. Kalau bisa ikuti terus mobil itu ya,”
“Ikuti gimana Non? Mobil itu sepertinya mau naik ke kapal.”
“Hah? Aduh,”
“Saya turunkan Non di sini saja ya,” Pak sopir menepi di depan gerbang masuk pelabuhan.
“Ja-jangan Pak, nanti saya mau kemana-mana susah.”
“Terus Non mau turun dimana?”
“Eng … turunkan saya dekat loket penumpang kapal Pak,”
“Dekat loket? Non mau beli tiket untuk naik kapal?”
“Iya Pak, pokoknya turunkan saya di situ.”
‘Duh, mau gimana lagi, udah terlanjur. Pulang juga gak mungkin. Tapi, kok mendadak takut gini ya mau naik kapal laut.’ Sharell terus bicara sendiri dalam hati. Ya, bagaimana tidak takut, ini adalah pertama kalinya dia pergi jauh sendirian.
“Di sini ya Non,” taxi sudah berhenti sempurna.
“Iya Pak, terima kasih.” Sharell memberikan sejumlah uang pada sopir taxi. Sesuai janji. Ia membayar lebih dari biaya yang tertagih sebenarnya.
Tiba di depan loket, ia mengedarkan pandangannya. Tidak terbayang nekat pergi dengan cara konyol begini. Dan tidak menyangka harus ke pulau seberang. Ia pikir Verrel tinggal masih dalam kota. Atau paling jauh di kota sebelah yang jaraknya tidak harus sampai menyebrang pulau.
Dari kejauhan, pria tampan yang mendapat julukan cowok es batu itu memperhatikan gerak-gerik Sharell dari balik kaca mobilnya. Sejak tadi ia sadar ada sebuah taxi yang terus membuntuti. Tapi ia memilih sengaja diam saja.