Chapter 8 - Someone (Not) Strange

1124 Kata
“Aku tidak memiliki apa pun terhadapmu. Tetapi mengapa aku gusar saat melihatmu dekat dengan pria lain kini?” ~Jagaswara Syailendra. *** Tidak perlu waktu lama bagi William untuk menyambut uluran tangan Claudya, dengan satu senyum yang melengkung di wajah tampannya. Memamerkan deretan giginya yang rapi dan putih bersih, lelaki itu tampak tampan dengan pahatan wajah yang bisa dikategorikan hampir sempurna. Rahang tegas lelaki itu tampak bergerak samar, ketika ia menyebutkan namanya dengan begitu jelas. “William Netraga,” ujarnya. Menjabat tangan Claudya dengan erat, merasakan hawa hangat yang menjalar begitu saja. Butuh beberapa detik saat lelaki itu menatap lekat ke dalam manik Claudya, dengan tangan yang masih menyatu. Hingga Claudya berdehem pelan, berusaha melepaskan tangannya dari genggaman lelaki itu kini. Tersentak kecil, William tampak begitu canggung saat melepaskan tautan tangan itu. Disusul dengan tawa renyah Kalista, yang menyadari perubahan sikap William dengan begitu jelas terhadap Claudya. Lelaki itu jelas tertarik pada Claudya, dengan gerak-gerik yang tidak bisa disembunyikan. “Jangan coba-coba, Will,” kata Kalista kemudian memperingatkan, disusul perempuan itu yang kini menaikkan satu kakinya ke atas kaki yang lain. “Dia sudah ada yang punya, meski belum jelas,” sambung perempuan itu lagi. Sontak saja mengundang tawa kecil dari William, juga senyum tipis di sudut bibir Claudya. Claudya sendiri mengetahui bahwa lelaki yang berada di sampingnya ini sedang berusaha mendekat, dan ini bukan pertama kali untuknya berada di posisi seperti ini. Memilih untuk tidak mengambil pusing perkataan Kalista yang terdengar blak-blakan tadi, Claudya menolehkan kepala untuk melirik ke arah William setelah menekan tombol repost pada akun instagramnya kini. Memasukkan ponsel itu kembali ke dalam tas yang ia letakkan di sebelahnya, Claudya membuka pembicaraan dengan sangat baik. “Jangan didengarkan, Will. Kalista memang selalu ngomong sesukanya, kan?” tanya perempuan itu dengan nada suara lembut. Mengundang senyum dan anggukan dari William tentu saja, saat lelaki itu kemudian menggeleng kecil. “Aku tahu,” sahutnya cepat. Tidak mempedulikan decakan yang terdengar dari sisi Kalista, lelaki itu lebih memilih untuk bercengkrama dengan Claudya saja. “Selama belum ada janur kuning dan undangan yang mampir ke kantorku, maka sepertinya tidak masalah. Masih ada kesempatan, benar begitu, Claudya?” sambung lelaki itu lagi. Berhasil membuat Kalista tertawa tidak percaya kemudian, saat Claudya hanya tersenyum samar. Tidak menggeleng, tidak juga mengiyakan. Sempat berpikir bahwa perkataan Kalista tadi benar adanya, begitu juga dengan perkataan William baru saja. Dia memang sudah ‘taken’, tetapi oleh seseorang yang tidak memberikan kejelasan apa pun. Dan kini, saat William berkata selama janur kuning belum melengkung dan undangan belum tercetak, maka masih ada kesempatan, itu juga benar. Karena tidak akan pernah ada janur dan undangan bagi dirinya dan Jagaswara, tepat saat mereka kelak memutuskan untuk menyudahi hubungan toxic yang menyiksa ini. Claudya menarik napas pelan, sebelum kemudian ia melanjutkan obrolan basa-basi mereka malam ini. “Kau bisa memanggilku Clau saja, jika Claudya terlalu panjang,” Claudya berujar kemudian. “Jadi, apa pekerjaanmu, Will?” *** Jagaswara menggeret koper tepat di sebelah kirinya, berjalan dengan langkah tegas saat ia baru saja mendarat di kota asalnya berada. Penerbangan yang seharusnya ia naiki pukul empat sore tadi ternyata mengalami delay yang cukup lama, menyebabkan dia harus tertahan beberapa jam di bandara. Tidak ingin merepotkan sekretarisnya dengan memesan atau menjadwal ulang, Jagaswara menolak saat Arsyila menawarinya penerbangan lain. Jadilah lelaki itu memilih untuk berdiam diri di bandara, menunggu sembari tenggelam di dunianya sendiri hingga pesawat yang ditumpanginya berhasil mengudara setelah tertunda hampir tiga jam. Menghabiskan waktu dua jam di atas langit, kini Jagaswara kembali ke kotanya tepat saat matahari telah benar-benar tenggelam. Menyisakan semburat gelap di langit, saat lelaki itu melirik pada arlojinya kini. Hampir pukul sembilan malam, dan lambaian dari seorang pria paruh baya di depan sana telah tertangkap oleh mata elangnya. Buru-buru menghampiri bosnya yang baru saja mendarat, sang supir kini mengambil alih koper yang dipegang oleh Jagas. “Selamat datang kembali, Tuan,” sambut lelaki itu ramah. Mendapati satu senyum terukir di bibir Jagas, meski lelaki itu memang terlihat sedikit lelah kini. Beberapa saat kemudian langkah keduanya sudah mencapai mobil yang diparkirkan sang supir tidak jauh dari sana, dan Jagas bergegas untuk masuk ke dalam mobil. Berencana untuk langsung pulang ke rumah, lelaki itu mengeluarkan ponsel dan jemarinya sudah bergerak di atas layar beberapa saat kemudian seiring dengan laju kendaraan yang mulai meninggalkan bandara. Berselancar di jagat dunia maya, tiba-tiba saja jemari lelaki itu berhenti bergerak saat maniknya tertuju lurus pada layar. Mengamati postingan itu dengan seksama, Jagas bersuara tegas kemudian. “Ke Notre Club sekarang, Pak.” *** Claudya menarik gelasnya, menyesap cairan berwarna gelap yang berada di dalam gelas bundar itu. Percakapannya dengan William dan Kalista tadi mengalir begitu saja, saat ia bisa menilai bahwa William adalah seseorang yang humble sekarang. Meski ini adalah pertemuan pertama mereka, tetapi sepertinya lelaki itu cukup asyik untuk dijadikan teman. Kalista sudah turun ke lantai dansa beberapa saat lalu, bersama William yang tampak terpaksa mengikuti ajakan temannya itu. Sempat menolak pada awalnya, William jelas-jelas bersikeras untuk tinggal dan berbicara blak-blakan jika dia ingin bersama Claudya, tetapi tarikan tangan Kalista mengalahkannya kemudian. Jadilah kini sepasang teman itu telah membaur dengan lautan manusia di dance floor, saat kemudian Claudya sudah menenggak gelas wine-nya yang kedua. Perempuan itu berusaha untuk tetap tersadar, karena dia akan mengemudi malam ini untuk pulang ke apartemennya nanti. William datang tidak lama kemudian, masih berdiri di tepi kubikel mereka saat ia menatap ke arah Claudya. “Turun, Clau?” tawarnya. Tubuh lelaki itu berdiri tegap, saat kemudian Claudya memutuskan untuk meletakkan gelasnya kembali ke atas meja. “Kau berjaga di sini?” tanyanya. Diikuti oleh anggukan William kemudian, sebelum lelaki itu kembali bersuara. “Pergilah. Kalista mulai menggila di bawah sana, biar aku yang jaga di sini,” katanya. Claudya tertawa kecil. Kalista selalu seperti itu jika sudah turun ke lantai dansa, tetapi percayalah perempuan itu punya toleransi tinggi pada alkohol dan dia pasti masih sadar bahkan bisa mengemudi setelah menghabiskan satu botol medium wine. Memperbaiki outfit yang sama yang dipakainya ke kantor tadi, Claudya kini berdiri untuk beranjak kemudian. Melangkah dari kubikel itu, Claudya sudah menuruni anak tangga untuk menuju dance floor. Mengikuti musik, maniknya menangkap sosok Kalista yang sudah menyatu dengan irama. Lampu kelap-kelip menyinari mereka, dengan suara yang begitu keras memekakkan telinga. Segala macam jenis manusia bercampur ruah di lantai itu, tampak sedang menikmati dan tenggelam dalam alam pikiran mereka masing-masing. Claudya baru saja memasuki musik itu dengan gerakan pelan, saat satu tangan kokoh tiba-tiba saja mendarat di pinggangnya. Membuatnya sempat tersentak kecil, hampir saja mengumpat pada sang pemilik tangan yang kurang ajar tepat saat ia menghidu aroma yang sangat familiar. Membuka matanya yang tadi sempat ia tutup, perempuan itu mendongakkan kepala ke atas untuk memastikan tidak ada yang salah pada indera penciumannya malam ini. Menahan napas, Claudya tersenyum samar saat mendapati Jagaswara sedang menatap dalam ke bola matanya. Menyeringai tipis, perempuan itu berusaha melepaskan lengan Jagas tetapi tidak berhasil sebab lengan lelaki itu sudah menguncinya dengan erat. Menarik Claudya untuk sengaja mendempet tubuhnya dengan tubuh perempuan itu, Jagas sengaja menargetkan daun telinga Claudya untuk tempatnya menempelkan bibir kali ini. Berbisik pelan, meski di tengah-tengah hentakan musik yang begitu menggelegar. “Aku pulang untukmu dan kau di sini dengan lelaki lain. Bukankah itu jahat, Claudya?”   ~Bersambung~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN