“Hidupku baik-baik saja sebelum kau datang. Dan kini, kuharap aku akan kembali pada porosku semula setelah perpisahan kita.” ~Claudya Leffan. *** Claudya terbangun setelah beberapa jam terlelap. Selang infus terpasang di punggung tangan kirinya, meski perempuan itu tidak menyadari sejak kapan jarum itu berada di sana. Berusaha membuka matanya perlahan-lahan, Claudya mendapati wajah Kalista yang berada tepat di depannya kini. “Clau, kau sudah sadar?” Perempuan itu meringis pelan. “Aku tertidur berapa lama, Ta?” tanyanya lirih. Bahkan suaranya terdengar serak, dengan kesadaran yang mulai merangkak penuh. Kalista mendekat. Memeriksa arloji di pergelangan tangannya, dia mengangguk samar. “Hampir empat jam, Clau,” katanya. “Apa kau tahu kau berada di mana sekarang?” Claudya tidak langsu

