"Mawar? Surat?" Pikirannya melayang entah ke mana. Belum sempat membuka surat itu, perasaan was-was tiba-tiba saja menghantuinya. "Jangan bilang, Gezra kabur dari rumah?!" Dengan terburu, Zevia pun membuka sepucuk surat yang terlipat di sebelah setangkai mawar putih. "Bukannya mawar ini buat Kyra?" gumamnya sembari membuka sepucuk surat itu. "Maaf?" ucapnya mengulang kata yang tertera di kertas. Tiba-tiba ada tangan yang menahan kedua bahunya dari belakang. Meskipun ia tak berbalik dan menatap siapa sosok itu, ia sudah tau siapa pelakunya. Siapa lagi jika bukan Gezra. Namun, tangan kekar itu terus menahannya pada posisi yang sama. Tak mengijinkannya untuk menoleh ke belakang meskipun hanya sedetik. "Atas nama mama, gue minta maaf. Karena udah bikin lo terpaksa menerima wasiat konyol

