Mood-nya benar-benar memburuk. Besok adalah harinya. Hari pernikahan yang tak ia inginkan. Tadi siang adalah hari terburuknya. Gagal menciptakan nuansa romantis lagi dengan Ansel gegara satu orang yang sama. Setelah wasiat dadakan itu tercipta, semua harinya terasa menjadi hari yang buruk. Ia hanya berharap, ada sebuah keajaiban di mana ia tak perlu lagi memenuhi wasiat dadakan itu dan waktu terulang kembali.
Zevia merebahkan diri ke ranjang dan menatap langit-langit kamar. Ia menikmati masa-masa lajang yang sebenar lagi akan sirna. Hingga akhirnya, lamunan itu dibuyarkan oleh suara ketukan pintu yang lembut.
“Kak? Disuruh papa ke ruang TV, tuh.”
Suara Rora yang terdengar berbeda itu membuat Zevia kebingungan. Biasanya hanya suara teriakan yang ia dapatkan. Namun, malam itu ia mendengar suara Rora berbeda dari biasanya. berbagai pertanyaan timbul seketika. Perasaannya pun mulai tak sedap terasa.
Sontak Zevia langsung mendudukkan dirinya. Ia merapikan rambut dan menggantungkan kacamatanya di tulang hidung. “Iya, bentar.”
Ia pun keluar dari kamar dan sudah melihat Rora, sang Papa, dan sang Mama di rumah TV lantai atas. Mereka sibuk menonton TV dan tak seolah tengah menunggunya.
“Ada apa, Pa? Katanya tadi manggil Zev?” tanyanya membuat ketiga orang itu langsung mengalihkan perhatian mereka dari TV. “Kenapa, sih? Wajahnya serius gitu?”
Vicknan menggeser duduknya dan memberi ruang untuk Zevia. Zevia pun duduk di antara sang Papa dan Rora. Beberapa saat mereka terdiam. Kemudian, Grena mematikan TV agar suasana semakin hening. Benar-benar membuat Zevia takut dibuatnya. Tak pernah sekalipun keluarga mereka membicarakan hal yang dirasa sangat penting hingga membuat suasana tegang seperti sekarang.
“Mama sama Papa lagi kesambet apa? Tiba-tiba sok serius gini?” Kali ini Zevia memberanikan diri untuk mengatakan apa yang ia pikirkan. Meskipun suasana semakin menegang.
“Zev, kamu inget besok hari apa, ‘kan?” tanya Vicknan sembari menepuk pelan pucuk kepala Zevia. “Hari pernikahanmu dengan Gezra,” jelas Vicknan meski Zevia belum menjawab. Zevia hanya setia terdiam mendengarkan apa yang ingin papanya katakan. “Zev, papa ini mungkin bukan orang tua yang sempurna. Pernikahan kamu kali ini mungkin bukan pernikahan yang kamu inginkan. Tapi sebagai seorang ayah, papa yakin Gezra adalah lelaki yang tepat buat kamu. Dia bertanggung jawab, dan papa yakin, pilihan kamu untuk menerima pernikahan ini bukan pilihan yang salah.” Vicknan menarik napas pelan.
“Bentar,” sela Zevia. “Zevia mau bilang satu hal. Kata-kata papa tadi ada yang salah. Papa itu bukan orang tua yang nggak sempurna buat Zev. Papa sama mama itu orang tua ter-the best bagi Zev. Jadi, papa sama mama jangan berpikiran kalau Zev menganggap kalian bukan orang tua yang baik buat Zev. Oke?"
Vicknan dan Grena tersenyum tipis. “Iya-iya, Sayang. Sekarang kamu diem dulu, dengerin papa sampai papa selesai ngomong.” Grena membelai lembut rambur Zevia yang tergerai bebas.
“Zev, sebenernya papa masih kaget kalau ternyata besok kamu menikah. Bukan lagi jadi tanggung jawab papa dan akan menjadi tanggung jawab orang lain. Anak gadis yang selalu papa manjain, bakal jadi pendamping lelaki lain. Anak gadis yang selalu papa anggap anak kecil papa sampai 21 tahun ini, ternyata bakal jadi sosok istri yang dewasa. Sebenarnya, papa cuma mau minta satu hal dari kamu, Zev. Jadilah wanita yang bisa berpikir seimbang antara hati dan logika. Jangan terlalu meninggikan keinginan hati. Sebab, terkadang logika juga butuh diutamakan.”
Zevia tertegun mendengar kewibawaan Vicknan. Hatinya terasa begitu pedih entah kenapa. Kedua orang tuanya percaya jika dirinya akan menjadi sosok yang bisa dipercaya untuk menjaga hati anak orang lain. Akan tetapi, keinginan hatinya untuk menolak semua kenyataan itu lebih besar dari apapun. Kenyataan bahwa perasaannya menginginkan sebuah perceraian jika pernikahan itu telah terjadi.
“Papa adalah cinta pertama buat Zev. Zev nggak semudah itu jatuh cinta sama orang lain selain papa. Papa satu-satunya lelaki yang nggak akan pernah matahin hati Zev. Jadi, papa jangan banyak berharap dari Zev kalau Zev akan jadi istri yang sempurna untuk lelaki yang jadi suami Zev kelak. Harapan itu menyakitkan. Zev nggak mau papa sama mama kecewa sama harapan yang papa sama mama percayain ke Zev.” Matanya mulai berkaca-kaca. Sebenarnya ia sangat tak ingin melukai hati kedua orang tua atas semua niat yang tersimpan. Namun, semua tak bisa dicegah lagi. Harapan itu sudah tercipta. Ia hanya menunggu untuk menuai luka dari kedua orang tuanya.
Vicknan tersenyum. “Ih, anak papa puitis banget, sih. Siapa yang ngajarin?” ucapnya sembari mengacak lembut poni Zevia.
Zevia mengerucutkan bibirnya kesal. “Papa, ih! Papa duluan, ‘kan, yang ngajak puitis-puitisan?”
“Udah-udah, lanjutin lagi puitis-puitisannya. Kurang seru, nih!” sahut Rora yang ternyata sedari tadi nyemil snack ringan bersama Grena.
“Lah? Kok malah nyemil snack, sih? Dikira ini tontonan wayang?” Zevia makin kesal dibuatnya. Namun, kekesalan itu mengundang tawa dari Vikcnan.
“Ya udah, pesen papa, semoga kamu segera sadar sama kebahagiaan yang sedang menanti di depan sana. Besok ... gerbang kebahagiaanmu sudah terbuka lebar.”
▪️▪️▪️
Tampil cantik sekaligus sempurna dengan balutan mini dress yang sudah ia pilih sebagai gaun pengantinnya, Zevia berkaca dan berdecak kagum melihat dirinya sendiri. Tatanan rambut panjangnya yang elegan ala Rora dan make up natural yang tetap terlihat anggun ala Rora juga semakin membuatnya tampil perfecto. Hingga ia tak habis pikir, ternyata dirinya juga bisa tampil lebih cantik dari biasanya.
“Keren! Gila! Gue makin cakep aja, nih. Ternyata lo pinter juga jadi hair stylish. Make up lo juga nggak abal-abal. Belajar darimana lo?” tanyanya penuh kagum pada sang Adik yang sudah menaikkan dagunya sombong.
“Belajar dari internet, lah! Ya kali gue belajar dari lo. Lo aja dandan cuma bisa pakai bedak sama lipstick doang. Punya kakak cewek tapi nggak guna.”
Zevia meliriknya tajam. “Etdah! Baru dipuji dikit langsung nyeleneh ngomongnya.”
“Tapi ... gue sedih tau, Kak. Kalau lo nikah, ntar siapa yang diomelin sama mama? Siapa yang gue jailin? Siapa yang gue teriakin tiap pagi? Nggak seru tau kalau lo nikah terus pindah rumah.” Rora mengerucutkan bibirnya. Ia menunduk menahan haru melihat sang Kakak akan segara menjadi hak milik orang lain.
“Yang lo pikirin cuma itu doang? Gue bisa tinggal di rumah ini, kok. Kalau mama sama papa setuju.”
“Pasti enggaklah, lo sama Bang Gezra, ‘kan, udah dibeliin rumah sama Om Ganiel.”
Matanya membulat seketika. “Serius? Siapa yang bilang?”
“Mama sama papa. Lihat aja ntar. Katanya abis acara pernikahan, lo disuruh langsung pindah ke sana.”
▪️▪️▪️
Gezra terkagum. Terdiam melihat sang Calon Pengantin sudah tiba di tempat pernikahan. Diantar sang wali untuk menuju tempat paling sakral. Tempat pengucapan janji suci pernikahan. Ia tak menyangka jika sosok yang sekarang berada di sampingnya itu adalah Zevia si Menyebalkan. Cantik dan mempesona. Tak henti-henti matanya menelusuri setiap detail dari apapun yang membalut tubuh indah Zevia. Dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Tak hanya Gezra yang diam-diam terkagum. Dengan style yang berbeda dari Gezra, Zevia yang memasang wajah datar itu ternyata juga menjerit dalam hati. Melihat Gezra tampil beda dengan tatanan tuxedo hitam dengan pita kupu-kupu putih dan wajah bersinar yang entah sejak kapan Gezra memiliki wajah tampan. Mungkin Zevia yang baru menyadarinya.
Acara pernikahan telah dimulai. terlihat Gezra tengah berusaha melantunkan janji suci yang akan mengikat Zevia menjadi istri sah untuknya. Disaksikan oleh Fraya yang tertidur di katil dengan alat medis yang masih menempel dan para tamu yang berasal dari pasien Edelweis serta tenaga medis yang berugas. Tak lupa dengan Grena, Vicknan, Ganiel, dan Rora yang ikut terharu melihat acara pernikahan Gezra dan Zevia.
Pernikahan dilakukan di taman buatan lantai Edelweis yang sudah dirombak sedemikian rupa untuk acara pernikahan. Meski simpel namun tetap terlihat elegan. Hanya dengan tambahan beberapa balutan kain putih, karpet merah, dan vas bunga yang berjejer rapi.
Waktunya telah tiba. Dimana Gezra mengambil sebuah kotak kecil berwarna merah berisi dua cincin. Ia memakaikan cincin itu di jari manis Zevia begitupun dengan Zevia yang memakaikan cincin di jari manis sosok yang telah sah menjadi suaminya.
“Gez, jangan lupa pesan mama,” sahut Fraya setelah acara tukar cincin selesai.
Gezra mengangguk paham. Ia mengambil satu kotak lagi yang berisi liontin. “Hadap sana, gue pakaiin liontinnya dulu,” bisiknya pada Zevia. Zevia tak protes sama sekali. Ia menuruti apapun perintah Gezra entah sadar atau tidak.
Akhirnya liontin itu mengalung di leher indah Zevia. Menuai seruan tepuk tangan dari para saksi sekaligus keluarga kecil mereka. Bagi mereka yang menoton, kebahagiaan tengah menyelimuti keduanya. Menyandang status sah dan berhasil menyatukan cinta mereka. Akan tetapi, berbanding terbalik dengan kenyataan. Bahwa Gezra dan Zevia menyimpan rasa bersalah yang tiada henti karena telah berpura-pura bahagia di depan mereka.
Para pasien Edelweis serta tenaga medis yang menjadi tamu sudah dipersilakan untuk menikmati hidangan kecil dan sehat yang sudah tersedia. Vicknan dan Grena langsung mengajak kedua pengantin baru itu untuk mengambil sebuah foto keluarga bersama. Fraya yang tertidur di katil dan Ganiel di sebelah Zevia serta Vicknan dan Grena di sebelah Gezra sedangkan Rora berdiri di tengah-tengah Gezra dan Zevia. Meski menggunakan smartphone, namun hasil foto itu tampak sangat berarti bagi Fraya. Senyumnya tampak begitu indah karena merasa sangat bahagia.
“Gezra, Zevia, mendekat, Nak. Mama mau bicara.” Fraya melambaikan tangannya meminta Gezra dan Zevia untuk mendekatinya. “Kalian sekarang sudah sah menjadi suami-istri, mama lega banget. Akhirnya impian mama terwujud. Makasih buat Zevia karena udah mau nurutin wasiat mama. Makasih juga buat Gezra udah nurutin keinginan mama yang pertama dan mungkin jadi keinginan yang terakhir juga.”
“Jangan bilang gitu, Ma. Mama udah janji sama aku kalau mama bakal sembuh, ‘kan? Mama harus tepatin itu juga.” Gezra menggenggam erat tangan Fraya yang bebas dari infus. “Kalau mama sembuh, mama bisa liat aku sama Zevia bahagia terus.”
Fraya mengangguk. “Mama udah bisa liat kalian bahagia, kok.”
“Emh, Mama Fraya harus sembuh, oke? Zev sama Gez nggak mau Mama Fraya nyerah. Mama Fraya harus kuat biar bisa lihat kami berantem terus,” sahut Zevia membuat Fraya terkekeh pelan.
“Iya-iya, mama janji, deh. Mama nggak akan nyerah ngelawan penyakit ini. Oh ya, Sayang ... mending sekarang kamu antar mereka ke rumah baru mereka. Setelah itu, biar besok pagi mereka nemenin aku di rumah sakit.” Mendengar perintah Fraya untuk Ganiel, Gezra dan Zevia saling beradu tatap sejenak.
Ganiel mengangguk. Ia mendekati kedua pengantin baru itu dan berbisik, “Selamat bersenang-senang malam ini.”
▪️▪️▪️