Pikirannya kalut. Pelupuk matanya selalu gagal menahan liquid bening jatuh ke pipi. Matanya menatap kosong ke arah luar jendela yang menampakkan suasana kota sore hari. Terasa pedih, sekaligus kecewa.
Kenyataan yang baru saja terungkap membuatnya sedikit marah. Namun, merasakan kekecewaan yang mendalam. Bagaimana mungkin, ia baru mengetahui setelah tiga tahun lamanya rahasia itu tertutup rapat. Senyum itu, terlintas di benaknya. Membuat hatinya semakin sakit.
"Tante Fraya ... kenapa?" lirihnya hingga hanya ia seorang yang mampu mendengar.
▪️▪️▪️
Flashback on ...
"Fraya." Kedua orang tuanya kompak menyebutkan nama yang sama.
"Tante Fraya?!"
Jelas. Jelas Zevia tak percaya. Ia tertawa hambar dan kemudian menarik napas dalam-dalam. Menghelanya perlahan, lalu menatap orang tuanya secara bergantian.
"Lelucon apa, sih, ini? Papa sama Mama lagi ngerencanain apa? Kalian diajarin nge-prank sama Rora ya? Nggak lucu tau. Udah ah, Zev mau mandi. Gerah sama lelucon Papa sama Mama yang nggak asik.
Belum sampai Zevia bangkit dari sofa, bahinya tertahan oleh Grena, "Mama mau cerita satu rahasia ke kamu."
"Rahasia?"
Grena mengangguk, "Tentang Fraya."
"Ada apa sama Tante Fraya?"
Grena menatap Vicknan seolah meminta izin untuk mengatakan hal yang ia sebut rahasia itu. Vicknan tampak mengangguk kecil yang berarti ia menyetujui permintaan izin itu.
"Tiga tahun terakhir, tante yang kamu sayangi itu, Fraya, melawan penyakit kanker otak stadium akhir."
'Deg'
Nafasnya tercekat seketika. Seolah jantungnya berhenti untuk sesaat. Membuat sel-sel dan semua syaraf terasa mati rasa. Lidahnya kelu dan tak mampu untuk menyangkal bahwa apa yang disampaikan mamanya itu tak benar. Zevia mendadak lupa bagaimana caranya bernafas. Karena hatinya, seperti tertimpa beban teramat berat. Ia ... benar-benar tak ingin mempercayai itu.
"I–itu bohong, 'kan, Ma?"
Grena tak menjawab. Ia memeluk putri sulungnya itu. Ia paham. Zevia sangat menyayangi Fraya.
"Maaf karena mama baru memberitahumu sekarang. Semua ini permintaan Fraya. Mama nggak bisa nolak. Dan mama juga berpikir, akan lebih baik kalau kamu nggak tau tentang hal ini."
Zevia meloloskan liquid bening dan membasahi bahu Grena. Mulutnya masih terkunci dan tak mampu melontarkan apa yang ada di pikirannya.
"Zev, sekarang kami mau ajak kamu ketemu sama Fraya. Kamu mau ikut nggak?" sela Vicknan berusaha untuk menenangkan anak gadis tersayangnya itu.
Meski berat, Zevia tak bisa memungkiri bahwa itulah kenyataannya, "Zev pengen ketemu Tante Fraya."
Flashback off ...
▪️▪️▪️
Sebuah bangunan megah namun penuh kisah pilu itu telah berdiri kokoh di depan matanya. Rumah sakit kanker yang sudah tiga tahun menjadi tempat bernaung Fraya. Zevia masih duduk diam di kursi belakang. Sedangkan kedua orang tuanya sudah turun dari mobil. Kakinya terasa lemas. Mati rasa. Seperti lidahnya kini. Ucapannya hanya bisa terlontar lewat air mata.
"Come on, Girl. Anak mama, Zevia Claretta, nggak boleh cengeng. Okay?" Grena berusaha untuk merayu Zevia agar mau bergegas masuk ke dalam rumah sakit, "Tante Fraya pasti udah nungguin kamu. Sama kayak kamu, Fraya pasti juga kangen banget sama kamu, Zev."
"Tapi ... Zev takut nggak kuat nahan tangis di depan Tante Fraya, Ma. Tante nggak suka lihat Zev nangis," lirihnya. Ratusan kali ia mengusap air mata yang berhasil menjebol benteng pertahanannya.
"No problem, Zev. Nanti kamu sama Fraua bisa nangis bareng di sana," sahut Vicknan.
"Vick, menurutku itu bukan ide bagus. Ada ide lain nggak?" sambar Grena sedikit kesal. Namun, sambaran itu justru membuat Vicknan terkekeh pelan.
"Ayo, Ma. Zev udah tenang. Sekarang Zev mau ketemu sama Tante Fraya."
Zevia pun bergegas keluar dari mobil dan terdengar bunyi alarm pengunci saat mereka mulai meninggalkan mobil di area parkir. Langkahnya sedikit tergesa mengikuti langkah cepat kedua orang tuanya yang berusaha mengejar pintu lift sebelum tertutup. Namun, usaha mereka gagal. Pintu lift sudah tertutup dan mereka pun diharuskan menunggu kedua lift yang sama-sama tengah berlayar mengantar penumpang.
Lima menit kemudian, salah satu pintu lift terbuka. Kedua orang tuanya telah berhasil masuk ke dalam lift dan diikuti beberapa orang lain yang sudah mengantri sejak sebelum mereka datang.
Akam tetapi, saat Zevia ingin masuk ke dalam lift, alarm lift berbunyi. Menandakan bahwa lift telah overload. Sehingga membuat Zevia mau tak mau harus menunggu lift lain untuk terbuka.
"Lantai Edelweis, kamar nomor 118," ucap Grena sebelum pintu lift tertutup sempurna.
"Oke, lantai Edelweis, kamar nomor 118," gumam Zevia mengulang ucapan sang mama. Ia mengeluarkan ponsel untuk memcatat di memo karena ia menyadari bahwa dirinya seorang pelupa akut.
'Ting'
Pintu lift lain pun terbuka. Sembari memasukkan ponsel ke dalam tas, Zevia bergegas masuk ke dalam lift sebelum kembali overload. Namun, kepalanya tak sengaja menyundul seseorang tepat di dadanya saat seseorang itu keluar dari lift.
"Maaf," ucap Zevia tanpa melihat ke arah sosok yang ia tabrak karena sibuk memasukkan ponsel ke dalam tas. Memang kurang sopan, namun buruan waktu membuatnya tak menyisihkan waktu untuk sekadar menatap sosok yang ia tabrak.
"Nggak sopan." Niat Zevia tak ingin menatap sosok yang ia tabrak akhirnya terkubur. Tepat sebelum pintu lift tertutup sempurna, Zevia melihat sosok lelaki berjaket denim menatapnya datar.
Zevia mengerutkan kening, "Tunggu. Tadi itu dia?"
▪️▪️▪️
Lantai Edelweis adalah lantai yang dipenuhi dengan pasien bernasib sama dengan Fraya. Lantai Edelweis terletak di lantai ke-7 rumah sakit kanker. Meski berada di lantai 7, namun Zevia menemukan sebuah taman di dalam ruangan. Memang tak ada pepohonan tinggi, namun ada kolam ikan kecil, tanaman hias yang menyejukkan, dan terasa seperti berada di alam bebas untuk sesaat. Beberapa pasien juga terlihat asik bersendau gurau di sana bersama perawat dan keluarga mereka.
"Oke, fokus. Cari kamar nomor 118. Terus bilang ke Tante Fraya kalau wasiat dadakan itu hanya bercanda."
Ia pun melangkah lebih cepat untuk menemukan kamar bernomor 118. Dan akhirnya ditemukan setelah melewati beberapa kamar.
'TOK TOK'
Belum sampai ada jawaban dari dalam, Zevia membuka pintu. Menampakkan dua pria paruh baya dan dua wanita paruh haya tengah asyik bercakap.
"Zevia." Suara parau itu menusuk tepat di jantungnya. Pucat pasi dan kepalanya tertutup topi rajut yang pernah ia belikan untuk Fraya.
Zevia berjalan mendekat. Ingin hati ia menangis dan memeluk sosok yang terbaring lemah di katil. Namun, ia mencoba untuk menahan dan mematri sebuah senyuman.
"Hai, Tante Fraya. Zevia kangen banget sama Tante. Tante cepet sembuh ya. Nanti kita bisa masak bareng lagi." Jelas kentara jika Zevia tengah menahan tangis. Suaranya bergetar.
Fraya mengangguk. Ia membelai tangan Zevia yang menggenggam tangan kanannya, "Maafin Tante ya. Tante nggak pernah cerita soal—"
"Nggak masalah, Tan. Yang penting Tante harus segera sembuh. Zevia nggak suka rumah sakut. Tapi Zevia suka sama Tante. Jadi, Tante nggak boleh kelamaan di rumah sakit. Oke?"
Lagi-lagi Fraya hanya mengangguk dan tersenyum di balik bibir pucatnya itu, "Jadi, Zev, bagaimana sama kepastian kamu untuk wasiat Tante?"
Zevia terdiam. Sebenarnya ia sudah mengambil kepastian. Namun, kepastian itu juga masih belum pasti. Ia ragu ingin menyampaikan apa yang telah ia putuskan selama perjalanan ke rumah sakit.
"Tante butuh kepastian atas wasiat dadakan ini, Zev. Menikahlah sebelum Tante pergi."
"Tante nggak boleh bilang gitu. Zevia udah ambil keputusan. Kepastian untuk wasiat Tante Fraya. Tapi, apapun kepastian ini, Zev berharap Tante mau menghargainya," pinta gadis berkacamata itu setelah merasa bahwa keputusannya telah matang.
"Tante harap, kamu menyetujui wasiat ini."
Zevia mengangguk, "Zevia mau menikah. Asal dengan pilihan Zevia sendiri. Nggak masalah, 'kan, Tan?" Jawaban Zevia membuat keempat orang di sana menoleh seketika.
Namun, gelengan Fraya membuat Zevia mengerutkan keningnya heran. Perasaanya kembali resah setelah teringat seseorang. Entah mengapa sosok itu tiba-tiba muncul di benaknya setelah menatap dalam bola mata Fraya.
"Tante ingin ... kamu menikah dengan anak Tante."
'Deg'
"A–anak Tante Fraya? Maksudnya ... Zevia nikah sama ... Gezra?!"
▪️▪️▪️