🦋Rencana

1097 Kata
Langit yang tadinya cerah mendadak mendung dan marah, mengeluarkan tangis beribu ribu tetes. Daniel mendesah berat, harusnya dia berangkat lebih pagi untuk menghindari hujan dadakan seperti ini. Tapi hujan tetaplah hujan, meskipun sering memberi peringatan namun selalu saja di salahkan. Kalau saja hujan bisa memilih, mungkin dia memilih berhenti dan tidak sudi menjatuhkan tiap tetesnya ke bumi. Kalau saja memiliki mobil seperti orang lain mungkin dia tidak akan risau akan hujan dan badai, ya meskipun dia tidak yakin akan berangkat jika badai menerjang. Udara pagi yang menenangkan bercampur dengan aroma tanah yang terguyur hujan membuat Daniel kembali terlempar ke masa lalu, mengingat sang ibu yang rajin membuatkannya teh hangat sembari memakaikan jaket. Bibir Daniel menyunggingkan senyum tipis, bayang sang ibu masih memenuhi rumah kecil mereka. Tidak banyak yang tahu tentang keluarga Daniel, bahkan Savana sekalipun belum pernah bertemu dengan mendiang ibu Daniel, dengan berbagai alasan Daniel mencoba menutupi tentang keluarganya. Sejak sang ayah meninggalkan dia dan ibunya, Daniel berusaha lebih keras untuk memenuhi segala kebutuhan sang ibu. Meskipun tidak ada bedanya, ayah Daniel jarang pulang kerumah, dia memilih menghabiskan waktunya untuk berjudi dan bermain wanita. Tak dapat di pungkiri ketampanan Daniel murni turunan dari sang ayah, memiliki mata bermanik kelam dan rahang yang tegas membuat Daniel sedari kecil kerap di dekati oleh gadis gadis di sekolahnya. Raken menepuk pundak Daniel, merasa senasib belum bisa berangkat bekerja karena hujan belum memberi tanda tanda akan reda. "Beginilah nasib orang miskin." ucap Raken meringis, meratapi hidupnya sendiri. Daniel tertawa, dia menatap rintik hujan yang semakin deras. "Ingatlah orang kaya berawal dari orang miskin yang rajin bekerja." jawab Daniel memberi semangat. Setidaknya mereka harus berjuang dan bekerja keras untuk mendapatkan hal yang mereka inginkan, terus mengeluh bukanlah jalan keluar dari sebuah masalah. "Kali ini aku akan jujur pada Tuhan, bahwa aku sudah siap menjadi miliyarder." Daniel terbahak, siapa yang tidak siap jika di jadikan miliyarder? Tapi Tuhan sudah tahu apa yang cukup untuk tiap masing masing hambanya. "Perbanyaklah minum air putih Ken, aku takut kau dehidrasi dan gila." tawa Daniel semakin pecah ketika melihat wajah dongkol yang di tunjukkan Raken. "Aku merasa hidupku begitu hampa, Niel beri tips bagaimana caranya tertawa lepas." Daniel memasang wajah sok berfikir, sementara Raken menatap dengan serius. "Cukup buka mulutmu selebar mungkin." Kembali Daniel tertawa, pagi ini benar benar pagi yang kacau di tambah wajah Raken yang tampak begitu kusut membuat suasana makin tidak bersahabat. Daniel sedikit banyak tahu tentang Raken, pekerjaannya di salah satu bengkel bubut tidak selalu berjalan dengan lancar, di tambah dia harus membayar uang pinjaman yang pernah di pinjam oleh sang kakak untuk pesta pernikahannya. Sejujurnya Daniel juga tidak mengerti, hampir saja dia mengatai kakak Raken gila kalau Daniel tidak mengingat betapa buruk sang ayah dengan kelakuan yang sama. Sangat mengherankan, mengapa manusia selalu lupa dengan tanggung jawab mereka dan lari seolah olah dunia akan diam dan tak membalas mereka di lain hari. Daniel tidak mau perduli tentang ayahnya lagi, kalaupun saat ini ayahnya hampir mati Daniel tidak akan perduli sama sekali. "Dunia memang jahat, tapi setidaknya tetaplah bertahan. Tuhan tidak pernah tidur Ken." Raken mengangguk anggukan kepalanya paham, lagi pula dia juga tidak memiliki niat untuk menyerah. Benar, setidaknya bahagialah meski hanya satu kali sepanjang hidupmu. "Aku harap kau juga begitu, teruslah berjuang. Aku tau keuanganmu sudah cukup membaik setelah bekerja dengan nona Alexia, namun kau belum menemukan rumah untuk hatimu beristirahat." Daniel mengulas senyum tipis, baginya semua itu akan datang di saat yang tepat tanpa harus dia cari. "Saatnya berangkat." ucap Daniel menepuk punggung Raken, lalu bergegas keluar dari emperan kos mereka. Hujan sudah reda, namun hawa dinginnya masih terasa. Sama seperti perasaan Daniel, lukanya sudah sembuh namun bekasnya masih jelas terlihat. •••••• Banyak orang mengatakan bahwa kebahagiaan datang dari diri sendiri, namun nyatanya tidak seratus persen benar. Kebanyakan dari mereka yang bertekat untuk bahagia sering kali terlambat oleh keadaan, keadaan yang perlahan menekan mereka untuk lebih memikirkan cara mengakhiri hidup. Dan pada akhirnya tidak sedikit dari mereka yang benar benar memilih jalan pintas itu, menggantung diri, menjatuhkan diri dari atap gedung pencakar langit, menenggelamkan diri, atau yang lebih mengerikan melempar diri ke tengah jalanan yang di lewati ratusan mobil. Membiarkan orang lain melihat sisa sisa kehidupan yang sudah tak lagi berbentuk utuh, dan menjadikan itu sebagai pelajaran untuk yang masih bernafas. Bahwa mati tidak sesimple yang kita lihat, kita akan terus di siksa selagi perbuatan kita tercela saat hidup. Dan saat itulah mereka menyesal, memohon hingga menangis darah hanya demi ingin kembali ke muka bumi. Manusia selalu saja menjadi makhluk terumit. "Maaf nona saya terlambat." nafas Daniel terngah, dia berlari dari lobi hingga kantor utama Alexia. Xia menatap Daniel bingung, kenapa Daniel terlalu bersemangat. "Kau berlari?." tanya Alexia sembari menelisik, melihat bulir keringat yang membasahi kening Daniel. "H-hahh iya tadi hujannya cukup deras, aku tidak bisa menerobos mengambil resiko untuk basah sampai di kantor." Xia meringis iba, benar dia baru ingat bahwa Daniel tidak memiliki mobil untuk bekerja tentu saja dia menunggu hujan reda untuk berangkat menuju kantornya. Mata Xia menyapu pandang ke arah meja, benda yang dicarinya tidak ada. Alexia mengambil tasnya, mencari sesuatu dan... Dapat. Xia melempar benda kecil itu ke arah Daniel, Daniel langsung menangkapnya dengan cepat. "Kunci?." Alexia mengangguk enteng, dia menunjuk kunci yang ada di tangan Daniel. "Pakailah mobil itu, aku tidak ingin kau terlambat lagi seperti yang kau tau, aku tidak suka keterlambatan." Xia beralasan tidak suka keterlambatan, padahal dia hanya tidak ingin Daniel kesusahan saat hujan. Daniel mengangguk mengeti, dan mengucapkan terimakasih atas kebaikan hati Alexia. Daniel langsung meletakkan tasnya di tempat biasa, dan mulai berdiri tegap menatap sang nona yang sibuk mengetik di papan keyboard komputernya. Xia meletakkan telunjuknya di bibir, wajahnya tampak berfikir keras. "Ah sial." Xia menatap Daniel. "Panggilkan Windi untukku." Daniel segera bergegas memanggil Windi masuk, setelah Windi datang Alexia mengetuk mejanya beberapa kali pertanda agar Windi berjalan lebih cepat. "Kau lihat aku tidak sengaja masuk ke salah satu grup kantor, apa yang mereka bicarakan?." Windi menahan tawanya, dia berusaha menjelaskan dengan Xia. "Mereka membicarakan acara tahunan, ulang tahun kantor yang ke 74 sudah dekat namun anda belum membentuk tim pelaksanaan acara. Singkatnya mereka berfikir bahwa anda tahun ini tidak mengadakan acara perayaan ulang tahun kantor." Alexia membuka mulutnya, jujur dia lupa dengan hal itu. Merasa bersalah kalau sampai acara itu tidak di laksanakan. "Ah aku lupa, akhir akhir ini aku banyak perkerjaan. Windi mulai siapkan proposal dan tim pelaksanaan, aku ingin acara yang mewah." perintah Alexia. Windi mengangguk, agak merasa aneh dengan kata 'ingin acara mewah' padahal sepanjang Windi bekerja acara kantor benar benar sudah terlampau mewah. "Akan segera saya siapkan nona."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN