🦋Boneka

2118 Kata
Menjelang malam beberapa makanan sudah tertata rapi, dimulai dari makanan berat, ringan hingga pencuci mulut. Keluarga Galen kini tengah menanti calon mantu beserta calon besannya di ruang tamu, kali ini tidak hanya Galen, Gema dan Leon, melainkan ada kakek dan nenek Galen. Jelas saja orang tua Gema, karena orang tua Leon sudah mati sejak ayah Alexia itu masih SMA. Alexia menatap kelimanya dari lantai dua sembari melipat kedua tangannya di depan d**a, berandai jika saja yang ada di posisi Galen adalah dirinya. Namun kembali lagi Alexia mensyukuri posisinya, dia tidak ingin hidup sebagai boneka bagi orang lain, di jadikan batu loncatan untuk mendapatkan hal yang dirinya sendiri tidak suka. Tepat jam tujuh malam keluarga Bianca datang, mereka di sambut hangat oleh Gema dan juga Leon. Wajah mereka tampak begitu cerah dan ramah, ya memang harus begitu untuk memikat hati calon besannya yang kaya raya. Jujur Alexia mual melihat tingkah Gema dan Leon, tidak ada yang tidak tahu bahwa Leon mengincar posisi untuk si sulung agar bisa menjadi pewaris dari keluarga kaya itu. Meskipun tahu keluarga Bianca tidak masalah, selama putrinya bahagia. Ya begitulah, ketika orang bodoh bertemu orang bodoh. Sangat menjengkelkan. "Kau tampak lebih cantik dari biasanya Mona." puji Gema pada Mona, ibu Bianca. "Masih sama saja, kau juga tampak luar biasa." keduanya saling berpelukan dan cipika cipiki layaknya ibu ibu arisan. Muak sekali Alexia melihat pemandangan di bawah sana, namun anehnya dia tidak bergeming masih saja setia melihat drama langsung yang kini tengah di suguhkan. "Leon, apa kabarmu." Wirawan memeluk Leon, menepuk punggungnya pelan. "Aku selalu baik, bagaimana denganmu?." balas Leon. "Seperti yang terlihat, aku sangat antusias malam ini." keduanya sama sama tertawa, tawa mereka bahkan menggelegar memenuhi seluruh penjuru ruangan. "Dimana putri tunggalmu?." kali ini Wirawan menanyakan Alexia yang tak tampak ikut menyambut kedatangan mereka. "Dia ada di kamarnya, selalu saja begitu tidak menyukai hal hal yang berbau keramaian." jelas Leon sok tahu, Alexia berdecih. Dia memang sedikit tidak menyukai keramaian, namun alasannya kali ini karena Leon de-ka-ka tidak mengundangnya untuk hadir di acara makan malam ini. Sungguh pembohongan, cecar Alexia dalam hati. "Padahal aku berharap bisa bertemu dengannya, dia sangat cantik benar benar mirip dengan ibunya." Leon tersenyum kikuk, dia melirik Gema sekilas, wajar saja Leon takut gema tersinggung. Di banding dengan Hellen, Gema sangat jauh berbeda. Wajah Gema tidak secantik Hellen, maka dari itu saat semua mendengar kabar pernikahan Leon dan mantan kepala pelayannya itu mereka saling berbisik membicarakan perbedaan keduanya. Bahkan ada beberapa orang yang berkata bahwa selera Leon memang sekasta pelayan, dia tidak cocok untuk nona muda bungsu keluarga Gilbert, seharusnya Hellen mencari laki laki yang lebih berwibawa dan kaya setara dengannya. Meskipun agak risih dan tidak nyaman, namun Alexia juga membenarkan, sedikit menyesal karena sang ibu memilih Leon sebagai ayahnya. Karena dari segi apapun Leon tidak memiliki poin plus kecuali di wajahnya. "Perkenalkan ini ayah dan ibu mertuaku, mereka sengaja datang untuk menyambut calon menantu keluarga ini." Mereka saling berjabatan tangan, dan berbincang beberapa hal yang tidak penting. Xia melirik Galen yang sama sekali tidak bergeming, di sampingnya ada Bianca yang terus menyorot sendu sang kekasih. Agak keterlaluan, namun Alexia tak menyalahlan Galen karena Xia paham pasti Galen merasa sedih tidak dapat bersama dengan seseorang yang benar benar di cintainya tanpa embel embel pemaksaan. "Mari langsung saja kita ke meja makan, kami sudah menyiapkan beberapa hidangan sederhana." Xia lagi lagi mencibir, sederhana dari mananya jelas jelas mereka memasak berbagai makanan khas Prancis untuk calon besan dan menantunya. Bosan dengan mereka Alexia berjalan lurus menuju kamar mendiang ibunya, membuka daun pintu kayu jati yang menjulang tinggi itu. Alexia masuk dan menutup kembali, dia berjalan mendekat ke arah lemari yang masih di penuhi baju baju mendiang sang ibu. Karena bosan Alexia iseng iseng mencoba baju baju lama milik ibunya bergantian, kamudian berdiri di depan kaca sembari memasang senyum lebar. "Sungguh gadis mana yang bisa mengalahkan wajah ayuku ini?." tanyanya dengan nada menyombong. Alexia kembali mencoba baju baju ibunya yang lain, mengulai kegiatan yang sama berdiri di depan kaca sembari memamerkan senyum angkuh. "Ya Tuhan, lihatlah wanita cantik ini." Xia tergelak, mentertawakan dirinya sendiri yang begitu percaya diri. Xia melepas baju sang ibu, kali ini dia mencoba sebuah gaun yang menjuntai panjang tanpa lengan dan tali, gaun berwarna merah pekat itu benar benar luwes di tubuhnya. Alexia kembali berdiri di depan kaca, dia memasang wajah takjub dengan apa yang dilihatnya. Benar benar cantik. Rambutnya tergerai indah sampai ke pinggang, dengan wajah yang angkuh Xia berputar, lekuk tubuhnya sempurna di mata siapa saja yang melihatnya. Alexia memutuskan untuk memakai gaun itu di acara ulang tahun kantor. Tiba tiba wajah Alexia meringis sembari berkata "Kasian sekali para gadis gadis di acara kantor, pasti mereka menangis meratapi kecantikanku. Oh Tuhan maafkan wajahku yang terlampau cantik ini." Dia benar benar sangat percaya diri sekali bukan?  ••••••••• Seminggu lagi, ya masih satu minggu lagi acara kantor di adakan namun Alexia sudah ribut mengajak Daniel berbelanja dan kini berakhirlah mereka berdua di sebuah butik mahal langganan Alexia. Tidak menerima penolakan Alexia terus terusan memintanya untuk mencoba beberapa stelan jas yang sekali melihat harganya membuat Daniel hampir sesak nafas, orang kaya memang tidak pernah memikirkan tentang harga saat berbelanja. Daniel keluar dengan stelan jas berwana abu tua, Xia menatap aneh, mencoba memperhatikan Daniel dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu Xia menggelengkan kepalanya pertanda bahwa dia merasa jas itu kurang menarik. Daniel kembali masuk ke ruang ganti dan mencoba stelan lainnya, kini Daniel keluar dengan stelan jas berwarna donker. Mata Alexia mendadak cerah, dia mengacungkan jempolnya dan mengedipkan satu matanya genit. Daniel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa malu dan salah tingkah. Setelah berganti pakaian Alexia langsung membayar jas yang sudah terpilih dan kembali menyeret Daniel ke sebuah toko sepatu yang tak jauh berbeda dengan tempat sebelumnya, masih sama dengan benda yang harganya selangit, tidak beberapa lama memilih milih dan Xia kembali membayar. Selesai sudah mencari outfit untuk Daniel, Alexia merengek lapar dan akhirnya mereka memasuki sebuah restoran jepang yang terkenal akan shasimi dan sushinya. "Aku lumayan lelah." gadis yang sedari tadi bersemangat itu, mengusap keningnya. "Nona." panggil Daniel menatap wajah Alexia lekat. "Hm." "Apa ini tidak berlebihan?." tanya Daniel tidak enak hati. "Tidak tidak uangku bahkan tidak berkurang sedikitpun... Alexia menjeda, dia memasang wajah berfikir. ya berkurang sedikit, hanya sedikit." sambungnya sembari mengangkat tangan mengibaratkan seberapa sedikit uangnya yang berkurang. Bukan masalah itu, Daniel takut di anggap memanfaatkan Alexia karena Alexia tidak segan segan mengeluarkan uangnya untuk membeli barang barang yang tidak berguna bagi Daniel. "Bukan itu maksudku." Daniel menyanggah. Pesanan mereka tiba, wajah Alexia tampak sumringah menatap hamparan daging salmon mentah dan gulungan sushi yang memenuhi meja mereka. "Aku tidak mau tau maksudmu Daniel, lagi pula siapa perduli dengan orang lain. Aku tau kau khawatir akan tanggapan orang lain, percayalah mereka sebenarnya hanya iri." Beginilah Alexia dengan Daniel, sikapnya 180 derajat berbanding terbalik dengan Alexia pada Galen. Tak henti hentinya Xia mengatai Galen miskin, calon gelandangan, parasit, penguras kekayaannya, dan masih banyak lainnya. Saat bersama Daniel, bahkan Alexia memberikan mobilnya, membelikan baju mahal untuk acara kantor, bahkan gaji Daniel melebihi gaji manager di kantornya. Bukankah ini sangat ajaib? Sebenarnya Alexia sedari kecil juga begitu pada setiap orang yang baik padanya, namun setelah kejadian dimana banyak orang mendekatinya hanya untuk mendapat makanan gratis, uang saku tambahan, Xia mulai berhenti dan memutuskan untuk tidak menyukai siapapun yang datang ke dalam hidupnya kecuali Jenna. Ya Jenna, gadis malang yang bernasib hampir serupa dengannya. "Terimakasih." ucap Daniel tersenyum lebar. Alexia memasukan satu potongan salmon ke dalam mulutnya, dia mengangguk angguk sambil terus menguyah. "Tidak perlu berterimakasih, anggap saja aku tengah bersedekah." Daniel meringis, kata kata Alexia menohok seakan akan menyadarkan bahwa Daniel adalah orang miskin, ya meskipun kenyataannya memang benar. Daniel tahu Alexia tidak bermaksud demikian, dia hanya terlalu spontan saja dalam berkata kata. Tiga puluh menit berlalu, mereka selesai dengan makanan mereka. Alexia mengajak Daniel kembali ke kantor, melanjutkan pekerjaan yang sengaja dia tunda demi berbelanja kebutuhan Daniel yang sebenarnya juga tidak terlalu di butuhkan. Jam tiga sore mereka sampai di kantor, Alexia memasang kaca matanya dan mulai bergelut dengan beberapa berkas yang hampir rampung dia kerjakan. Daniel menatap sang nona penuh makna, Alexia tak seburuk yang dia pikirkan saat pertama kali mereka bertemu di pantai. Kala itu Daniel benar benar membenci gadis angkuh nan sombong yang menawarinya pekerjaan, dia kira Alexia adalah deretan orang orang kaya penindas yang senang mempermainkan orang miskin sepertinya. Namun pendapat itu perlahan lahan menghilang, di gantikan dengan segala pikiran positif tentang nonanya. Sejujurnya Daniel benar benar sangat bersyukur, kebutuhannya sangat terpenuhi sejak dia bekerja dengan Alexia, dia tidak pernah lagi menunggak soal uang kos dan hutangnya juga hampir lunas. Bahkan Daniel juga bisa menabung, dia berfikir untuk membeli sebuah rumah sederhana yang nyaman untuknya dan calon istrinya kelak. "Ada banyak alasan untuk orang tertawa.. Xia tampak membaca sebuah buku. Ha? Buku? Sejak kapan Alexia selesai dengan pekerjaannya? Apakah Daniel terlalu lama sibuk dengan pikirannya sendiri? Xia menutup halaman buku yang baru saja dia baca, dan menatap Daniel dengan raut wajah aneh. "Tidak ada orang normal yang mudah tertawa, aku yakin mereka gila." ucapnya dengan penekanan, Daniel terkekeh pelan. "Tidak juga, menurutku karena mereka menikmati hidupnya maka mereka mudah tertawa karen tidak menganggap bahwa beban hidup mereka besar." Xia menggeleng tidak setuju. "Memangnya orang miskin bisa menikmati hidup sesuai dengan keinginan mereka? Aku rasa mereka pasti selalu cemas, karena mereka miskin." kembali lagi Daniel tertohok dengan ucapan Xia, Alexia ini seperti sangat sulit memfilter ucapannya. "Orang miskin memiliki cara tersendiri untuk bahagia nona.... Daniel menarik nafas mulai menjelaskan dengan perlahan. Mereka tidak selalu bahagia dengan uang, terkadang atau bahkan sering sekali mereka memiliki permasalahan tentang uang, namun mereka memiliki keluarga kecil yang hangat, keluarga yang selalu mendukung mereka saat mereka dalam masa sulit. Kebersamaan dan dukungan itulah yang membuat mereka tetap kuat dan bahagia." Xia terdiam, dia kemudian mendesis tidak suka. "Jelas saja aku tidak tau, karena aku tidak memiliki keluarga." Gelap sekali. ••••••• Malam ini kembali seperti biasa Alexia ikut bergabung makan malam dengan Leon de-ka-ka, meskipun sering kehilangan napsu makan di hadapan mereka, mau tidak mau dia harus tetap mengunyah dan menelan. Tidak lucu jika dia di temukan mati kaku dalam kamarnya, akibat terkena magh akut. Wajah Gema dan Leon tampak berseri, Alexia sudah bisa menebak pasti gara gara makan malam kemarin. Tidak bisa melihat mereka bahagia, Alexia tengah memutar otaknya untuk membuat wajah mereka kembali kusut. Di antara ketiganya, wajah Galen lah yang paling gelap, tidak ada tanda tanda bahwa dia tengah bahagia. Bagimana tidak, harapannya akan benar benar pupus karena tanggal pernikahannya dengan Bianca sudah di tentukan kemarin. Alexia turut prihatin, meskipun hanya sedikit. Alexia memasukan sepotong daging ke dalam mulutnya, mengunyah sambil terus berfikir bagaimana cara membuat Leon dan Gema tertampar. Jujur Alexia merasa mereka berdua sudah sangat keterlaluan, Galen juga berhak menentukan siapa perempuan yang akan di ajaknya bahagia sampai tua. Lagi lagi Leon tidak belajar dari pengalaman pribadinya, kalau dia tidak mencintai sang ibu dan ikut tersiksa karena perasaanya tak kesampaian, mengapa dia meminta anak orang lain merasakan segala rasa sakitnya tempo dulu? Dia benar benar sangat keterlaluan. "Kapan pernikahanmu akan di langsungkan?." tanya Alexia tanpa menatap Galen. "Sekitar tiga bulan lagi." Xia sudah menduga Leon yang akan menjawab, dengan wajah cerah tak merasa berdosa. Rasanya ingin sekali Alexia menampar Leon. "Pak Wirawan sudah tidak sabar, dia ingin cepat cepat menjadikan Galen sebagai menantunya." sambung Leon lagi. Xia tertawa geli, dia menarik ujung bibirnya, menatap Leon dan Gema bergantian. "Sebenarnya hidup siapa lagi yang ingin kalian hancurkan? Xia melirik Galen, lalu menunjuknya menggunakan garpu makan. Dia? Kau benar benar tidak belajar dari kesalahan, padahal kau sendiri merasakan betapa sulit hidup dengan wanita yang tidak kau cintai. Sekarang kau mendorong anak orang lain untuk melakukan hal yang sama, lalu apa lagi setelahnya? Membiarkan anak anak Galen hidup seperti diriku? Dan melihat ibunya mati?." Mendadak atmosfer ruangan menjadi berat, Galen bahkan sudah tidak lagi berselera makan. Leon yang menjadi target hanya menatap jengkel anak perempuannya, karena sudah lancang mengatakan hal itu. "Hidup memang sesuka siapa yang menjalani, tapi setidaknya tahu diri kau tidak sepenting itu untuk menghuni bumi, bisa saja pembunuh ibu mendadak membunuhmu." wajah Xia berubah pura pura ketakutan. "Mana mungkin pembunuh ibu membunuh dirinya sendiri." Xia terbhak setelah melontarkan tuduhan tanpa bukti pada Leon. Galen menyenggol kaki Alexia, meminta Alexia untuk menyudahi karena tidak enak hati melihat ayah tirinya di pojokkan terus menerus. Alexia melirik Gema, wanita bodoh. "Gema, aku tau kau miskin sedari kecil namun setidaknya jangan jual anakmu demi harta milik orang lain." Xia kembali tertawa, berhasil membuat kedua paruh baya di hadapannya memasang wajah kusut. Sebenarnya jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, Xia ingin mengusir mereka hanya saja Xia masih berbaik hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN