BAB 1
Bagaimana perasaanmu ketika harus serumah dengan orang yang sudah tidak asing namun kini terasa asing, bagaimana rasanya melihat manusia kelas rendahan yang tiba tiba berubah menjadi bangsawan? Alexia tidak lagi kaget ketika orang orang seperti itu merambah dunianya, namun yang membuat dia muak adalah mengapa harus mereka? Pembantunya sendiri.
Sepoy sepoy angin yang berhembus menerpa wajah cantik gadis yang kini tengah menikmati segelas wine di tangannya, kacamata hitam yang bertengger di mata indah ciptaan Tuhan itu menambah kesan glamor pada dirinya. Dia menyeseap kembali wine berwarna gelap, segelap hidupnya itu, kemewahan yang menjadikannya bak putri raja yang begitu glamor.
"Nona, Tuan muda ada di sini." kata seorang pelayan memberitahu keberadaan kakak tirinya, senyuman miring timbul di wajah cantik itu. Pria itu selalu saja merusak waktu berharganya.
Suara langkah kaki beriringan mendekat ke arahnya, dengan elegan dia melepas kaca mata hitamnya tanpa bangun dari tempat bersantai yang tengah di dudukinya. Dia menoleh ke arah sang kakak tiri tanpa memberikan senyum sama sekali apalagi kata kata sambutan.
Pria berperawakan tinggi tak lupa tampan itu berstatus sebagai kakak tirinya, mereka terlihat tenang satu sama lain namun pada kenyataannya selalu ada hal tidak biasa yang di lakukan gadis itu tiap kali berhadapan dengan kakak tirinya. Sejenak teridam kakak tirinya langsung mengulas senyum tipis nan tampan.
"Wah, aku sangat iri dengan dirimu. Kau selalu bisa menikmati waktu luang degan meminum segelas wine kesukaanmu." gadis itu berdecih, dia kemudian berdiri tepat di depan pria yang di anggapnya sebagai rival itu dengan memasang wajah mengesalkan.
Dia menepuk d**a pria itu dengan kedua tangannya.
"Karna aku bukan penggila harta, aku sudah terlahir sebagai seorang putri raja tidak sepertimu yang terlahir sebagai pelayan kemudian dengan tidak tau malunya merangkak untuk mendapatkan kekuasaan." dia kemudian tersenyum lebar, kata kata yang di lontarkannya selalu bisa mengenai hati sang kakak tiri, Galen.
Sudah terbiasa dengan kata kata pedas dari sang adik, Galen hanya tersenyum tenang. Seperti arti namanya dia juga memiliki sifat yang tenang. Mereka memang tidak akan pernah menjadi akrab satu sama lain, gadis itu sendiri yang mengatakan dari awal bahwa dia tidak akan pernah sudi mengakui Galen dan ibunya sebagai keluarga.
"Kurasa tidak ada salahnya, merangkak untuk mendapat posisi yang lebih baik." jawab Galen tanpa menyempilkan nada sinis sama sekali.
Dasar tidak tahu malu, gadis itu membatin sengit.
Gadis bernama Alexia Maurellin itu tertawa hambar, dia kemudian mengambil gelas wine miliknya tadi, mengangkat tepat di depan Galen, menumpahkannya secara sengaja ke jas yang kini tengah di pakai Galen.
"Seperti noda ini, meskipun kau merangkak dan menjadi raja kau tetap kotor seperti noda, tidak ada yang tidak tau, semua tau hanya saja mereka memilih diam sembari mengataimu di belakang. Begitulah cara manusia bertahan hidup, mereka tidak akan menunjukkan kalau mereka sebenarnya membencimu." Xia tertawa senang, meskipun tidak terlihat namun guratan keras di wajah Galen menunjukkan bagaimana emosinya yang di redamnya dalam dalam.
Xia menjatuhkan gelas tadi, menimbulkan bunyi pecahan keras. Dia kemudian pergi meninggalkan Galen yang tengah menahan emosinya.
Sudah bukan rahasia lagi bagi seluruh penghuni rumah besar itu, hubungan antara Galen dan Alexia tidak pernah terlihat baik, keputusan sang ayah untuk menikahi kepala pelayan di tentang keras oleh putri semata wayangnya itu.
Pribadi yang tak tersentuh, mudah melalukan sesuatu tanpa di fikirkan terlebih dahulu, serta ketajaman mulutnya membuat mereka tidak pernah bisa memperingati Alexia. Dia tidak manja, hanya saja terlalu bossy. Sejak kecil apapun yang dia inginkan selalu terpenuhi, tidak pernah di bantah oleh siapapun menjadikan pribadinya keras seperti batu. Terlebih tak banyak yang tau kejadian di masa lampau yang membuat dia menutup diri, dan berhenti percaya dengan siapapun.
Galen menyusul pergi, dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Beberapa orangnya mengikuti di belakangnya.
Alexia keluar dari pintu utama, pelayan sudah membukakan pintu mobil untuk dirinya. Merasa malas dirumah karena kakak tirinya kembali dari Paris akhirnya gadis berusia 23 tahun itu memilih pergi dari rumah, mencari udara yang lebih segar di luaran sana.
Alexia tidak pernah pergi bekerja, dia hanya akan memantau bagaimana perusahaan miliknya melalui ipad. Alexia memiliki beberapa salon ternama, dia juga memiliki restoran bernuansa Italia, bahkan dia juga memiliki perusahaan property miliknya sendiri.
Sudah tidak di ragukan, dia adalah berlian bagi semua yang memandangnya, di lahirkan di keluarga kaya raya membuat sikap serta sifatnya sedikit berbeda dengan yang lainnya. Menurutnya tidak ada yang salah dengan sikapnya selagi keadaan mendukung, dia kaya cantik dan itu sudah tidak di ragukan lagi.
Setelah sang ibu meninggal, ayahnya memutuskan untuk menikahi kepala pelayan yang sudah bekerja dengan mereka sejak Alexia masih bayi. Meskipun sudah saling mengenal lama dengan calon ibu tirinya, namun Alexia tetap tidak menyukai ide sang ayah untuk menikah lagi. Sudah jelas gadis itu menentang, namun ayahnya tidak mau ambil pusing dengan sikap putri tunggalnya itu, semakin hari semakin dingin sikap Alexia pada anggota keluarganya, terutama pada ibu tiri dan kakak tirinya.
Sebenarnya Gema adalah sosok ibu tiri yang baik, dia tidak pernah mengincar apapun dari keluarga mereka, namun dengan alasan tidak suka tetap tidak sukanya Alexia tidak mau lagi merubah cara pandangnya terhadap Gema. Meskipun Gema pernah menjadi pengasuhnya di masa kecil, namun Alexia tidak mau juga membuka diri.
"Pantai, aku harap akan menemukan sesuatu yang spesial di pantai. Tiba tiba perutku mual, melihat sampah di dalam rumahku." sang supir yang sudah paham langsung menancap gas menuju pantai.
Selama perjalanan Alexia menatap keluar jendela mobil, melihat jalanan yang di penuhi kendaraan di mana mana, membuat pikirannya teralihkan beberapa saat.
Tidak terasa mereka sudah sampai di pantai, bak putri raja penjagaan bagi Alexia memang selalu menjadi prioritas bagi keluarga besarnya. Alexia adalah satu satunya anak perempuan dari generasi ke generasi, dalam keluarga besar mereka baru Alexia keturunan perempuan. Hal itu membuat pesaing mereka lebih mudah untuk mencelakai ahli waris keluarga Gilbert.
Mereka hanya belum tau, Alexia bahkan lebih berbahaya daripada bom nuklir bagi musuh musuhnya. Baginya siapapun yang menjatuhnya sesama rekan bisnis tidak lebih dari sampah, mereka tidak memiliki keberanian untuk membangun diri menjadi lebih baik namun malah merangkak menjadi parasit untuk orang lain.
Alexia bersantai di tepi pantai, sambil menikmati cahaya matahari yang sudah mulai condong ke barat, topi bundar serta kacamata hitam yang tengah di kenakannya menamabah kesan elegan pada Alexia. Lumayan, tidak terlalu buruk pikirnya.
"Kenapa tiba tiba sekali! Tolong pertimbangkan kerja kerasku selama ini, kau sudah mengenalku bertahun tahun, tapi kenapa kau tidak memberiku alasan yang jelas."
Alexia menoleh, melihat pria dengan stelan jelana jeans, kaos serta kemeja panjang yang tengah berbicara keras di telepon. Alexia mendesis, tidak di rumah tidak di pantai ada saja manusia yang mengganggunya.
"Tolong aku butuh pekerjaan, kenapa kau memecatku tiba tiba seperti ini? Jelaskan, hallo hallo!!."
"Ah! Ya Tuhan." desah pria itu frustasi.
Diam diam Alexia menyimak apa yang tengah pria itu katakan, dia bangkit dari tempatnya mencoba mendekati pria lusuh namun tampan itu. Pria itu memandang hamparan lautan dengan tatapan lelah dan putus asa.
"Manusian memang seperti itu, kau seharusnya tidak terkejut." dia menoleh, mendapati gadis cantik berbalut rok selutut serta topi pantai yang bundar yang entah sejak kapan berdiri di dekatnya.
"Ha?." respon pria itu kebingungan.
"Jangan pura pura tuli, aku tidak suka dengan orang yang terlalu banyak basa basi." sahut Alexia lagi, dia tau pria tadi mendengar ucapannya dengan jelas.
"Memangnya apa yang kau tau?." Alexia tersenyum lebar, dia akhirnya menatap manik abu milik lawannya.
"Bodoh." satu kata yang terucap dari mulutnya membuat pria tadi memilih pergi menjauh, takut takut kalau gadis itu orang gila.
Sebelum terlalu jauh Alexia kembali memberikan kata kata.
"Bekerjalah denganku." pria itu berhenti tanpa berbalik, sesaat kemudian dia melanjutkan jalannya.
"Selagi kau masih miskin jangan malu menerima uluran tangan orang lain, setelah kau kaya berikan uluran pada yang membutuhkan."
"Begitulah kerja dunia ini." imbuh Alexia membuat pria tadi akhirnya berbalik berjalan ke arahnya.
Berhenti tepat di depan Alexia, tatapan manik abu itu adalah tatapan yang tidak pernah Alexia dapatkan sebelumnya. Tidak ada yang berani menatap mata Alexia sekalipun mereka orang yang baru mengenal Alexia, aura yang terpancar dari diri Alexia membuat semua orang takut padanya, namun pria ini tampak tidak bergetar sama sekali.
"Waaaw." senyum Alexia sambil terus membalas tatapan pria itu, ini lumayan menarik baginya.
"Apa begitu juga kerja orang kaya? Memerintah tanpa perduli dengan mereka yang di perintah?." Alexia mengangguk mantap, memang apa lagi pekerjaan orang kaya selain bertingkah sesuka mereka.
"Jadilah anak buahku, akan ku jamin gajimu lebih memuaskan daripada bekerja dengan penghianat yang ada di ponselmu tadi." tangan Alexia merayap, menyentuh d**a bidang pria itu kemudian terus merayap hingga menyentuh rahang tegasnya.
Tangan Alexia di tepis tiba tiba, Alexia tak ambil pusing dia langsung menyilangkan kedua tangannya ke d**a.
"Aku tidak suka orang kaya." jawab pria itu sinis, Alexia tertawa hambar.
"Apa kau kira aku suka dengan orang miskin? Mereka lebih menjijikan saat mulai menjilat. Tapi tidak denganmu, kau punya poin plus tersendiri di mataku." kata Alexia melirik d**a bidang pria itu, Alexia adalah tipe gadis yang gampang sekali terangsang dengan hal hal sepele seperti itu. Jadi nilai plus pria di hadapannya adalah d**a yang bidang, wajah yang tampan, serta tubuh yang pas untuk bercinta. Pikiran kotor memenuhi kepala Alexia.
"Bekerjalah denganku, kita akan sering bersenang senang nanti." Alexia memasukkan kartu namanya di sela sela saku kemeja pria itu, dia kemudian memasang kaca matanya dan beranjak pergi meninggalkan pantai beserta pria seksi itu.
Pria bernama Daniel itu menghela nafas kasar, kenapa masalah demi masalah selalu menimpa dirinya. Hari ini dia baru saja di pecat dari pekerjaannya, membuat dirinya pusing. Hutang yang di tinggalkan ayahnya sangatlah menumpuk, dia bahkan tak jarang di kejar kejar oleh debtcollector. Uang tabungannya sudah habis untuk biaya pengobatan ibunya beberapa bulan lalu, sudah banyak usaha yang dia lakukan agar ibunya dapat sembuh namun pada kenyataannya sang ibu harus pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.
Tok tok tok
Niel berdiri dari duduknya, dia kemudian membuka pintu rumahnya. Melihat ibu pemilik rumah datang membawa tagihan rumah, Daniel kembali mengusap wajah kasar. Yang di perlukannya saat ini hanya uang uang dan uang.
"Hari ini sudah jatuh tempo, dan ku tebak kau pasti tidak punya uang lagi." Niel menunduk membenarkan jawaban sang pemilik rumah.
"Kuberi waktu satu bulan untuk membayar tagihan ini, jika tidak bisa juga lebih baik kau pergi dari rumah ini Niel. Aku juga butuh uang untuk hidup." pemilik rumah itu pergi menjauh, Niel masuk rumah dengan langkah gontai.
Berfikir keras bagaimana caranya agar dia bisa mendapatkan uang dalam waktu satu bulan kedepan, Niel menengadahkan kepalanya, lalu tiba tiba dia teringat dengan gadis aneh tadi siang. Dia kemudian mencari kartu nama gadis itu di dalam sakunya.
Dapat.
Alexia Maurellin Gilbert
Niel tersenyum kecut, dari namanya saja gadis ini sudah terlihat dari keluarga berada.
Apa Niel harus menghubungi gadis itu?
Dengan berat hati akhirnya Niel mengirim pesan ke nomer ponsel yang tertera di kartu nama itu.
"Bukankah tidak sopan meninggalkan anggota keluarga yang baru saja sampai di rumah?." pertanyaan pria paruh baya itu menghentikan langkah kaki cantik Alexia.
Gadis itu menoleh dan tersenyum lebar.
Anggota keluarga yang mana? Batinnya bertanya sendiri.
"Apa perlu ku bunuh dia agar musnah dari daftar keluargaku?." sang ayah menatap tajam putrinya, sekeras apapun Leon dalam memperingati Alexia, tetap saja putri kesayangannya itu mampu membalas dengan lebih keras. Tidak ada kata kalah bagi Alexia, begitulah dirinya.
"Jaga mulutmu Xia, ada ibumu di sini." Alexia menatap Gema sambil berdecih.
"Mana mungkin ibuku hidup lagi, kalaupun mungkin wajah ibuku tidak akan seperti wanita ini."
Leon hampir saja melemparkan vas bunga yang ada di hadapannya, namun dengan cepat Alexia membaca pikiran Leon.
"Kalau vas kesayanganku sampai pecah, akan ku buat kepala Gema menjadi seperti vasku juga." Leon berhenti, dia menatap Gema penuh rasa bersalah atas sikap putrinya. Gema menggeleng sambil tersenyum, dia sudah biasa menghadapi sikap nona mudanya itu.
"Masuklah ke kamarmu Xia, kau pasti lelah."
"Tidak ada pelayan yang memberi perintah pada majikannya." jawab Xia tajam, dia kemudian melenggang pergi meninggalkan ayah serta ibu tirinya di ruang keluarga.
"Maafkan aku Gema." Leon menggenggam tangan Gema lembut.
"Xia tidak membenciku, Xia hanya memang terlahir seperti itu. Dia tidak menyukai semua orang, bukan hanya aku." jawab Gema, Leon tersenyum dia bersyukur bisa menikahi Gema dengan segala kesabarannya.
Di dalam kamarnya Xia terus memandangi hamparan hutan dari balkon, rumah mereka benar benar seperti kastil mewah di tengah hutan. Namun Alexia menyukainya, menurutnya suasana yang tenang seperti ini bisa membuka pemikiran yang lebih jernih. Namun dia lagi lagi berdecih, suasana seperti ini tidak ada gunanya untuk sang ayah, otaknya masih saja berfikiran dangkal.
Xia melihat ke bawah, ada Galen di sana dengan beberapa orang orangnya. Xia mengambil gelas berisikan minuman keras yang baru saja di teguknya.
Dia memegang gelas itu membidik kepala Galen, senyuman girang tak lepas dari bibirnya.
"Ayo bersiap. Bunyinya akan seperti apa?." dia berharap lebih dari gelas yang akan di jatuhkannya itu.
"Apa mungkin kepalanya akan pecah? Ah pasti menyenangkan kalau dia memiliki kekurangan seperti itu."
Salah satu bodyguard Galen yang menyadari tingkah Alexia langsung berteriak dan mendorong Galen menjauh saat melihat nona mudanya menjatuhkan gelas tepat lurus ke arah kepala tuan mudanya, gelas itu berakhir di lantai pekarangan rumah mereka.
Galen lumayan terkejut dia langsung menatap Alexia kesal, sedang gadis itu membalas dengan senyuman lebar.
"Anda baik baik saja Tuan?." Galen mengangkat tangan sebagai jawaban, andai saja orangnya tidak cepat pasti hari ini dia akan berakhir di rumah sakit. Meskipun gelas itu tidak terlalu besar, namun dari ketinggian itu memungkinkan kepala Galen bisa mengalami keretakan.
"Ah sayang sekali kenapa harus tidak kena." keluh Alexia berekspresi lesu, dia tampak begitu santai padahal di sini yang di permainkannya adalah nyawa seseorang.
Galen tidak menjawab, dia hanya menatap gadis yang sudah menjadi saudara tirinya itu dengan tatapan tajam.
"Besok bisa kita coba lagi, tenang saja kau jangan terlalu kecewa." tawanya menggelegar tanpa malu kemudian berjalan masuk ke dalam kamarnya, setelah mempermainkan keselamatan seseorang dia bahkan tidak merasa takut atau cemas.
Memang gadis tidak berperasaan, bisa bisanya dia bermain main dengan nyawa seseorang seperti itu.
Galen tidak pernah tau dia itu di lahirkan oleh manusia atau mungkin malah di lahirkan oleh salah satu iblis dari muka bumi ini, sikap dan sifatnya sama sekali tidak pernah mencerminkan kalau dia adalah manusia.
Galen memang sudah mengenal Alexia dari kecil, dia tidak berubah sama sekali bahkan semakin bertumbuh dewasa semakin bengis pula sifatnya. Dunia yang keras adalah alasan utama mengapa dia membentuk pribadi yang keras, dia tidak bisa menjadi sosok gadis lemah lembut seperti idaman laki laki.
"Saya masuk."
Galen meninggalkan tempat kejadian perkara, dia masuk untuk mengganti pakaian kerja.
_
_
_
"Sudah berubah pikiran ternyata." Alexia menyesap kopi hitam yang di pesannya.
Daniel menatap wanita di depannya penuh penasaran, siapa dia dengan mudahnya menawari dirinya pekerjaan padahal wanita itu belum mengenalnya sama sekali.
"Jangan terlalu lama memandangiku, ada saatnya kau bisa memandangi wajahku sepanjang malam." Niel menelan ludah kasar, wanita ini benar benar berbeda, dia tidak punya rasa malu ataupun canggung saat berhadapan dengan orang baru.
"Aku butuh pekerjaan." Niel mulai bicara.
"Aku tau." jawab Alexia cepat, logikanya saja Niel sudah menghubungi dirinya artinya pria ini sedang membutuhkan pekerjaan.
"Posisi apa yang kau suka?." tanya Alexia sambil menaikkan alisnya sebelah, pikirannya sudah berkelana jauh saat menanyai posisi pada Niel.
"Apapun aku bisa menerimanya."
"Kalau begitu aku suka di atas." wajah Daniel memerah, senyuman lebar tercetak jelas di wajah Alexia.
Pria ini, sangat menggemaskan.
"Belum pernah bercinta?." tiba tiba Niel berdehem, apakah ini termasuk interview kerja?
Menurut Alexia iya, ini termasuk interview kerja.
"Waaah, belum pernah?." imbuh Alexia dengan nada kagum, jaman sekarang sangat sulit mencari pria yang masih menjaga keperjakaannya, iya tidak?
"Pertanyaan macam apa itu." protes Niel sembari meminum air putih di gelasnya.
Alexia tertawa renyah, dia kemudian menyentuh rambut Niel lembut, matanya mengarah ke manik abu indah Niel.
"Kita bisa lakukan itu untukmu bagaimana?."
Niel lagi lagi menepis tangan Alexia, dia sebenarnya sangat tidak nyaman dengan pertanyaan diluar nalar dari sang calon bos.
"Aku butuh pekerjaan, jangan mempermainkanku." tegas Niel lagi, Niel memang tipikal pria yang tidak mudah tersentuh, dia sangat pendiam. Situasi semacam ini membuatnya sangat canggung.
"Aku tidak mempermainkanmu, aku ingin mengajakmu bermain bersama, hanya itu."
Alexia menyilangkan kedua tangannya, kali ini dia harus mulai berfikir posisi apa yang memungkinkan Niel tetap berada di sampingnya selama bekerja.
"Baiklah, cukup jadi bodyguardku. Lindungi aku, jangan sampai ada orang lain yang berani menyentuhku, kecuali dirimu." lagi lagi senyuman lebar memenuhi bibir Alexia, belum pernah Alexia seantusias ini dengan seorang pria.
Daniel mengangguk paham, meskipun mungkin sedikit sulit namun akan tetap di lakukannya agar dia bisa melunasi semua tunggakkan yang di tinggalkan ayahnya.
"Kau bisa mulai besok, alamat rumahku akan ku kirim nanti." Alexia berdiri meninggalkan Niel, sudah cukup hari ini bertemu dengan pria spesial itu.
Niel memandangi kepergian Xia melalui kaca, gadis itu masuk ke dalam mobil audi hitam nan mewah. Gadis kelas atas, aku Niel.
-
-
-
-
-
Daniel melambaikan tangannya ke arah gadis yang kini tengah duduk di pinggiran kursi taman, menanti dirinya datang.
"Sudah lama?." tanya Niel, gadis itu menggeleng pelan.
"Baru 5 menit. Ada apa Niel? Kenapa kau tampak begitu senang?." Niel tiba tiba memeluk teman dekatnya, gadis bernama Savana itu membalas pelukan Niel senang.
"Aku sudah mendapatkan pekerjaan yang layak." mata Savana berbinar, dia ikut senang dengan berita itu.
"Benarkah? Wahh hebat, aku senang sekali. Kau akan bekerja di mana?." Niel mengeluarkan kartu nama milik bosnya.
Mata Savana membulat ketika melihat nama yang terpampang di sana.
"Kau akan bekerja dengan nona Xia? Wah hebat sekali." Niel tidak paham, kenapa Savana juga mengenal wanita itu.
"Kau mengenalnya?." Savana mengangguk, memangnya siapa yang tidak mengenal pewaris tunggal G Corporation itu.
"Dia termasuk the most beautiful girl kelas atas, dia wanita sosialita yang sangat pemilih. Kau sangat beruntung Niel." Daniel tersenyum, otaknya kini sedang berfikir keras. Memikirkan apa alasan wanita itu tanpa pikir panjang memintanya untuk bekerja dengannya.
"Ku rasa kau akan menerima gaji yang fantastis Niel." Niel sebenarnya juga merasa bersyukur karena pekerjaan yang dia dapatkan, dia merasa wanita itu tidak buruk sama sekali.
♠
Alexia menatap aquarium baru yang tiba tiba muncul di ruang keluarga mereka, Xia sangat tidak menyukai aquarium, menurutnya tidak ada yang bagus dengan meletakkan aquarium di dalam rumah.
"Siapa yang meletakkan benda ini di sini!." beberapa pelayan mendunduk takut, salah satu dari mereka memberanikan diri menjawab pertanyaan nona besar mereka.
"Ttuuan Galen nona."
Mendengar nama Galen, Xia semakin tidak menyukai aquarium itu.
"Buang!." perintahnya tegas, mereka langsung buru buru mendekat ke arah aquarium untuk menyingkirkan benda yang paling tidak di sukai nona besar mereka.
"Tunggu." suara Galen dari puncak tangga membuat mereka semua menoleh, pria itu kemudian menuruni anak tangga satu per satu.
"Itu punyaku, kau tidak boleh menyentuhnya sembarangan." ucap Galen memperingati, Xia tersenyum sengit. Dasar tidak tahu diri, siapa dia sampai berani mengatakan yang ada di rumah ini adalah miliknya.
"Rumah ini milikku, jika tidak senang silahkan pergi dengan ibumu." Galen tersenyum, tangannya di masukan ke dalam saku celananya, menambah kesan maskulin.
"Adikku ternyata galak sekali." Xia yang sudah jengah akhirnya memilih mengacaukan aquarium itu.
Dia menceburkan tangannya, mengambil ikan ikan yang ada di dalamnya dan menjatuhkan ikan ikan tersebut ke lantai.
"Ambil ini ikanmu bukan? Ambil." ucap Xia sambil terus mengambil ikan lain. Galen menggertakkan giginya geram.
"Kau tidak boleh menyiksa ikan seperti itu!." peringat Galen keras, Alexia menanggapi dengan senyuman lebar sampai sampai bibirnya seperti akan robek.
"Aku bahkan tidak segan segan menyiksamu, lalu untuk apa aku memikirkan ikan ikan tidak berguna ini?." setelah ikan yang di dalam aquarium habis, dia menatap ikan ikan itu dengan tatapan syahdu menipu.
"Ah katamu mereka butuh air untuk hidup, aku tidak pernah setengah setengah dalam bekerja."
Xia mendorong aquarium itu sampai jatuh dan pecah berkeping keping, kini ruangan itu sudah tidak berbentuka lagi. Air mengalir kemana mana akibat ulah Alexia.
"Aku akan membuatmu seperti ikan itu jika kau melakukan hal sesuka hatimu lagi di rumahku!." Xia melangkah pergi, menuju kamarnya.
Galen menatap punggung Xia sampai gadis itu menghilang dari pandangannya, begitu sulitnya Xia menerima dirinya dan juga sang ibu sebagai anggota keluarga mereka. Galen paham pasti sangat sulit namun seharusnya Xia harus mulai membuka hati atas kehadiran mereka.
"Bersihkan ruangan ini sebelum ayah dan ibu kembali." titah Galen pada para pelayan, mereka mengangguk patuh.
Galen pergi keluar menuju gazebo di taman rumah mereka.
-
-
-
-
Seperti biasanya keluarga besar Gilbert selalu makan malam bersama, suasana makan malam selalu saja canggung karena Alexia yang tidak pernah mau membuka suara ketika berada di meja makan. Gema mengambilkan daging untuk Xia, begitu daging itu jatuh di piringnya Xia langsung meletakkan sendok serta garpunya.
Gema menatap suaminya bimbang, Leon menghela nafas lelah. Di tatapnya putrinya itu lekat lekat.
"Lanjutkan makanmu Xia." pandangan Xia langsung mengarah pada Gema, ibu tirinya. Gema selalu saja tidak mendengarkan apa pun yang di katakan Xia, membuat gadis itu terlampau jengah untuk mengingatkan Gema akan posisinya.
"Sudah berapa kali ku katakan,,,
"Xia coba hargai ibumu." Xia melempar piringnya sembarangan, bunyi pecahan kaca terdengar jelas, dia memang paling hobi dalam urusan memecahkan kaca.
"Ibuku sudah mati, apa masih kurang jelas? Bahkan ku rasa ayah juga ikut dalam acara pemakamannya."
Tatapan Xia berubah tajam pada sang ayah, Leon selalu memaksa dirinya untuk menyukai Gema, Leon begitu tidak tahu terimakasih. Dengan Xia membiarkan Gema tinggal di rumah mereka saja itu sudah suatu keberuntungan, namun tampaknya Leon masih saja ingin bersikap serakah.
"Maaf kan ibuku Xia."
Ucap Galen menengahi, Galen menatap ibunya sendu.
"Aku tidak bicara denganmu, jangan ikut campur."
Alexia semakin menjadi, dengan Galen membuka suara saja sudah membuat keadaan semakin kacau.
"Xia, maaf kan ibu." Gema berucap lirih.
"Kau! Jangan pernah berusaha menjadi ibu untukku! Cukup satu ibu saja yang membuat hidupku sulit, aku tidak pernah menyukai kata ibu dalam hidupku. Paham!."
Xia berdiri dari duduknya kasar, decitan kursi nyaring membuat mereka awas dengan pergerakan Alexia.
Leon menatap putrinya bersalah, dia tau putrinya begitu tertekan dengan keadaan ini dan juga masa lalu namun dia tetap saja memaksakan keinginannya agar Xia mengakui Gema sebagai ibu sambungnya.
"Maaf kan sikap Xia, dia selalu saja begitu." pinta Leon tidak enak hati pada sang istri.
Gema tersenyum lembut.
"Tidak apa apa, aku tau bagaimana perasaan Xia saat ini. Mungkin dia hanya tidak ingin mengingat nyonya lagi, karena itu akan membuat luka di hatinya datang kembali."
Galen melamun, dia sebenarnya tidak tega melihat Xia yang memiliki pengalaman buruk dengan ibunya sendiri, mungkin itu memang faktor utama mengapa Xia tidak mau dan tidak bisa menerima Gema sebagai ibu.
"Aku sudah selesai, aku ke kamar dulu ayah, ibu." Galen memilih menyusul Xia, Leon dan Gema mengangguk membiarkan Galen pergi.
Galen menaiki anak tangga satu per satu, menuju lantai dua tempat dimana kamarnya dan kamar Xia berada. Sesampainya di depan pintu kamar Xia, Galen mengetuk meminta izin masuk.
Tuk tuk tuk
Pintu kamar Xia langsung terbuka, menampilkan pemilik kamar yang memang tidak pernah merubah mimik wajahnya lebih ceria.
"Apa lagi."
Tanya Xia ketus pada Galen.
"Apa kau baik baik saja?." Xia melengos, dia tidak percaya Galen yang selama ini bersikap cuek dan tidak mau tau tiba tiba saja menanyakan keadaanya.
"Aku selalu baik baik saja, kau tidak perlu tau keadaanku jadi pergi!." Galen mengulas senyum tipis, dia lega mendengar Xia baik baik saja meskipun dalam tebakan Galen, Xia hanya tidak mau menunjukkan sisi lemahnya sebagai rival.
"Bagus, aku hanya tidak ingin orang yang selama ini menentang dan membenciku terlihat lemah sebelum berperang."
Xia berdecih, bisa bisanya Galen berbicara omong kosong seperti itu.
"Berkaca lah, kurasa kau harus tau siapa yang paling lemah di antara kita berdua."
Blam
Pintu kamar itu langsung tertutup rapat, Galen tersenyum miring. Wanita memang selalu saja tidak mau di anggap lemah, meskipun benar benar dalam keadaan yang lemah.