“Jadi, Kakak memutuskan untuk mencari calon istri?”
“Apa ucapanku masih kurang jelas?” Pria berjas hitam menghela napas. “Nenek ingin melihatku menikah sejak lama. Aku tidak bisa membiarkan Nenek terus berharap. Bukankah lebih baik mencari pasangan hidup sekarang? Toh, pada akhirnya aku akan menikah.”
“Tapi Kak Keenan, ini adalah sebuah pernikahan. Mana bisa Kakak sembarangan memilih wanita untuk dinikahi.”
“Karena itu, aku memintamu untuk mengumpulkan data-data wanita yang mungkin cocok untuk menjadi istriku.” Keenan mengubah posisi duduknya menghadap Bayu. “Bagaimana? Apa kamu sudah menemukan kandidat yang tepat untuk calon istriku?”
“Aku sudah mencarikan Kakak beberapa kandidat.” Bayu menyerahkan sebuah map pada Keenan. Sungguh! Dia masih belum mengerti kenapa Keenan perlu melakukan ini.
Keenan membaca sederet nama dan informasi mengenai wanita yang dikumpulkan oleh Bayu. Keningnya mengerut begitu menemukan beberapa nama yang tidak asing. Dia mendongak dan menatap Bayu yang tersenyum terlalu lebar. Pria itu bahkan bisa melihat giginya yang berjajar rapi.
Kepala Keenan berdenyut-denyut. Dia meletakkan map pemberian Bayu, lalu memijat pelan pelipisnya beberapa kali. Helaan napas kembali lolos dari mulutnya. Mencari istri tidak semudah bayangannya. Dia tahu persis itu. Apa lagi selama ini dia tidak bermaksud untuk menjalin hubungan dengan siapa pun.
Bukannya tidak pernah mengenal cinta. Sejak dulu, Keenan sudah sering mendapat pengakuan cinta. Hanya saja, dia tidak pernah berpikir untuk berpacaran. Baginya, hal itu merupakan sesuatu yang tidak penting. Cinta hanya sebuah jalinan yang bisa mengganggu konsentrasi belajar dan bekerja.
“Bukankah itu hanya daftar para karyawan wanita kita?”
“Itu ... aku pikir Kakak bisa memperhatikan mereka dulu. Ada beberapa karyawan yang cukup menarik, kan?” Bayu berhenti tersenyum saat Keenan menatapnya tajam. “Tapi tenang saja. Aku juga punya beberapa kandidat dari luar,” ujarnya sambil menyerahkan map lain pada Keenan. Dia mengerjap saat Keenan mulai membaca.
“Bagaimana? Ada yang menarik perhatian Kak Keenan?”
Entahlah. Sejujurnya, Keenan sendiri tidak tahu ingin mencari calon istri yang seperti apa. Dia hanya ingin menuruti keinginan sang nenek yang sudah lama sakit. Jika bukan karena ini, dia juga tidak mau repot-repot berhubungan dengan makhluk bernama wanita. Dia menghela napas, lantas bersandar di kursi kebesarannya.
Sang Nenek, Marwa, merupakan wanita yang sangat Keenan sayangi. Sejak kecil, dia lebih banyak menghabiskan waktu dengannya. Orang tuanya teralu sibuk bekerja sehingga jarang berada di rumah. Dia juga lebih suka mendengarkan permintaan Marwa dibandingkan papa mamanya. Saat diminta menikah oleh ibunya, dia menentang dengan tegas.
Sekarang keadaannya berbeda. Akhir-akhir ini, Marwa selalu mendesak Keenan memperkenalkan wanita padanya. Dia sempat menganggap hal itu sebagai gurauan. Namun, semakin hari, Marwa semakin sering membahasnya. Jadi, dia mengambil keputusan untuk mencari wanita yang sesuai menjadi pendamping hidupnya.
“Menurutmu, apa tidak masalah meminta salah satu karyawan kita untuk menjadi istriku?”
“Kenapa tidak? Bukankah dengan begitu, Kakak lebih mudah mengontrol dia?” Untuk kali ini, Keenan setuju dengan pemikiran Bayu.
“Jadi, di antara mereka, siapa yang kamu pilih?” Bayu tersenyum. Dia mengambil map di atas meja, membukanya, lalu meletakkan kembali di tempat semula.
“Bukankah dia pilihan yang cukup baik?” Bayu menunjuk sebuah foto.
Tentu saja Keenan tahu siapa gadis berambut panjang itu. Dia merupakan karyawan terbaik yang dimilikinya. Meski baru bekerja di perusahaannya, dia bisa melihat potensi besar yang ada dalam diri gadis tersebut. Entah bagaimana dia bisa dikeluarkan dari pekerjaan sebelumnya. Padahal dia sangat cerdas dan teliti.
Meski tidak pernah mengobrol secara pribadi, dia sangat mengenal semua karwayannya. Ini karena di setiap penerimaan karyawan baru, dia mengambil bagian sebagai salah satu pewawancara. Jadi, dia sendiri yang memutuskan siapa yang pantas bekerja sama dengannya di masa depan. Tidak heran jika dia mengenal wanita yang sekarang ditunjuk oleh Bayu.
“Achiera Adinata? Manajer keuangan kita?” Bayu mengangguk.
“Bukankah Kakak selalu memuji kinerjanya yang baik?”
“Dia memang karyawan yang baik,” ujar Keenan sambil memperhatikan foto Achiera.
“Bukankah dia terlihat cantik?” Keenan mengalihkan pandangannya pada Bayu yang menaik-turunkan alis sambil menampilkan senyum menggoda.
“Kamu suka Achiera?” Bayu meringis sambil mengusap tengkuk. “Kalau kamu menyukainya, kenapa malah menyodorkan padaku?”
“Aku hanya kagum. Lagi pula, dia terlalu serius untukku. Dia lebih cocok menjadi pasangan Kak Keenan. Sama-sama tekun bekerja dan yang pasti, dia tidak memiliki pacar.”
“Sepertinya sejak awal kamu sudah memilih dia. Benar, kan?”
“Kenapa? Kakak tidak menyukainya?”
“Apa aku orang yang mudah menyukai seseorang sepertimu?”
Pertanyaan itu sudah pasti jawabannya. Bayu juga tidak bermaksud memberi jawaban karena tidak mau berdebat. Dia melirik Keenan yang kembali bersandar di kursi sambil menyilangkan kedua tangan. Kalau mau jujur, Keenan merupakan orang yang paling dia kagumi. Keenan sangat sempurna di matanya.
Sebagai saudara dan rekan kerja, Bayu sudah sangat memahami Keenan. Sepupunya itu, selain pintar, dia juga tampan. Dengan sikap yang cenderung dingin, banyak orang justru menyukainya. Hanya saja, dia sangat keras kepala. Saat sudah memutuskan sesuatu, dia tidak akan berhenti. Dia bahkan sempat berdebat hebat dengan orang tuanya karena sikapnya itu.
“Jadi, bagaimana? Aku sudah menyelidiki Achiera belakangan ini. Dia selalu menjadi peringkat pertama selama sekolah. Sama seperti Kakak, kan?” Keenan mangut-mangut. “Dia sudah menjadi yatim piatu sejak usia empat tahun. Orang tuanya meninggalkan dalam sebuah kecelakaan. Sekarang, dia tinggal bersama bibi dan sepupunya.”
“Bagaimana dengan keluarganya?”
“Dari yang aku tahu, sepupunya sangat baik. Tapi ... bibinya sedikit keras padanya.”
“Apa tepatnya maksud kamu dengan sedikit keras?”
“Sebenarnya bibi dan ibu Achiera adalah saudara tiri. Hubungan mereka tidak terlau baik. Karena Achiera tidak memiliki keluarga lain, dia terpaksa mengasuh keponakannya itu.”
“Dia masih memiliki hati nurani,” komentar Keenan.
“Iya. Tapi aku dengar dia selalu menuntut Achiera dalam berbagai hal. Aku rasa itu sebabnya dia sempurna dalam berbagai hal. Dia sudah terbiasa menjadi pribadi terbaik di mata sang bibi,” kata Bayu. Matanya setengah menerawang selama mengatakan itu. Bayangan Achiera yang bekerja dengan tekun melintas di kepalanya.
“Kehidupan yang cukup berat,” gumam Keenan.
Kehilangan orang tua sejak kecil pasti membuat Achiera menanggung beban berat. Apa lagi harus hidup dengan orang yang tidak menyukai ibunya. Keenan tiba-tiba penasaran, bagaimana Achiera melewati hidupnya selama ini. Apa dia menderita karena menahan semua tekanan dari bibinya?
Sekali lagi, Keenan melihat infomasi mengenai Achiera. Usia mereka hanya terpaut satu tahun. Tidak begitu buruk. Dengan tinggi seratus lima puluh delapan, mungkin tidak akan terlalu timpang dengannya. Rambut panjang wanita itu juga cukup bagus. Prestasinya selama belajar dan bekerja juga sangat baik.
Mungkin Keenan harus mempertimbangkan hal ini dengan baik. Masalahnya, bagaimana dia bisa mendekati Achiera? Memang, di kantor tidak ada larangan berpacaran. Akan tetapi, dia merasa aneh jika harus berhubungan dengan karyawannya secara pribadi seperti ini. Meski belum pernah gagal dalam hal apa pun, dia meragukan dirinya dalam hal ini.
“Dia punya mantan pacar?”
“Nah, itu kabar baiknya. Satu lagi kesamaan Kakak dengan Achiera. Dia tidak pernah pacaran. Sejak dulu, dia hanya sibuk belajar dan bekerja. Bagaimana? Semakin cocok dengan Kakak, kan?” Keenan melirik Bayu sekilas.
Apa terlalu banyak kesamaan dengan pasangan merupakan hal baik? Keenan tidak yakin. Orang tuanya memiliki sifat yang sama persis dan mereka selalu berdebat sepanjang waktu. Mungkinkah dia juga akan mengalami hal seperti itu?
“Apa itu adalah hal baik?”
“Setidaknya Kakak harus punya persamaan dengan orang yang ingin Kakak dekati, kan?”
“Ucapanmu cukup masuk akal. Jadi, bagaimana caranya mendekati Achiera?”
“Soal ini, aku juga sudah merencanakan beberapa hal. Kakak bisa mengajaknya makan atau memberikan hadiah agar dia terkesan.”
“Kenapa aku merasa itu lebih mirip dengan menyuap seseorang?”
“Kakak memang sedang menyuap dia agar mau jadi calon istri Kakak,” ucap Bayu menegaskan. Dia mengepalkan tangan kanan untuk menyemangati Keenan.
Walaupun membenarkan apa yang dikatakan oleh Bayu, Keenan merasa ada yang salah dalam hal ini. Dia tidak memiliki pengalaman mendekati wanita mana pun. Sepertinya dia hanya bisa mengandalkan Bayu dalam urusan percintaan. Sepupunya itu cukup sering berganti pacar sejak duduk di bangku sekolah menengah.
Yang membuat Keenan sedikit ragu adalah bisakah dia mendekati Achiera tanpa disadari oleh orang lain? Bukan apa-apa. Hal seperti ini sangat rentan. Dia tidak ingin mendengar gosip aneh mengenai bos yang merayu karyawan. Apa lagi kalau Achiera sampai menolak. Harga dirinya bisa hancur berkeping-keping.
Lebih baik berjaga-jaga sebelum memulai misi pendekatan. Pertama-tama, dia harus memastikan jika Achiera bukan orang yang suka bergosip. Melihat bagaimana kepribadian wanita itu, Achiera terlihat lebih tertutup. Jadi, sepertinya tidak masalah. Langkah kedua, dia akan mengirimkan beberapa hadiah tanpa nama sebelum mengajaknya makan bersama.
“Kamu benar sekali. Jadi, apa yang paling Achiera sukai?”
“Berdasarkan informasi yang akurat, dia sangat suka membaca novel. Kakak bisa menghadiahi dia nove-novel terbaru yang dia sukai. Ini daftar penulis yang disukainya. Dia menyukai cerita romantis.” Bayu memainkan sebelah mata.
Kening Keenan berkerut. Dia merasa sangat asing dengan semua nama yang tertulis di sana. Sampai sekarang, dia tidak pernah menyukai buku sejenis itu. Menurut pria itu, membaca buku fiksi tidak sesuai dengan citranya. Lagi pula, dia lebih suka menonton film dibandingkan harus membaca berlembar-lembar kertas.
“Sepertinya sekarang aku sudah menemukan perbedaan di antara kami.”
“Perbedaan membuat kita lebih mengerti pasangan kita.” Keenan menoleh pada Bayu.
“Jadi, baik perbedaan maupun persamaan, sangat penting dalam sebuah hubungan?”
“Tentu saja. Di dunia ini, tidak ada orang yang sama persis. Pasti ada yang membedakan. Sama seperti kesukaan Achiera terhadap novel. Kakak juga harus tahu bagaimana rasanya membaca buku fiksi.”
“Aku ... tidak perlu membaca novel kesukaannya, kan?”
Pikiran Keenan melayang pada setumpuk buku yang menceritakan mengenai cinta. Belum apa-apa saja dia sudah merinding. Dia melempar daftar penulis yang dibacanya tadi. Membeli novel bukan masalah. Namun, jika harus membaca, dia mungkin tidak akan sanggup melakukan. Bagaimana ini?
“Ayolah, Kak. Bukankah hanya novel? Setidaknya baca satu atau dua untuk memahami dunia Achiera. Ini dinamakan perjuangan untuk meraih cinta.”
“Perjuangan meraih cinta?” ulang Keenan. Dia mencibir. “Aku pernah dengar kalau dalam sebuah hubungan, kita harus saling menerima sifat pasangan kita.”
“Itu kalau Kakak dan Achiera saling tertarik,” ujar Bayu. “Masalahnya, Kakak yang ingin mendekati Achiera. Kakak perlu alat tempur, kan?”
Tidak ada gunanya menyangkal. Keenan tahu jika perkataan Bayu benar. Ini bukan apa-apa. Selama bisa membuat neneknya bahagia, dia bisa melakukan pengorbanan apa saja. Termasuk membaca novel demi bisa mendekati Achiera. Mungkin tidak seburuk kelihatannya. Coba saja dulu.
“Kamu punya rekomendasi novelnya?”
“Aku juga sudah menyiapkannya.” Bayu memberikan map terakhir yang dipegangnya. “Beberapa di antara pernah aku baca dan ceritanya cukup bagus. Aku menandainya dengan warna merah untuk novel yang aku rekomendasikan.”
“Baiklah. Kamu cukup ahli dalam hal ini.”
Jemari Keenan menelusuri setiap judul yang tertulis. Seperti dugaan, dia tetap tidak mengerti apa yang tertulis di kertas itu. Bayu juga tidak banyak membantu. Dari dua lembar kertas yang diberikan, semuanya nyaris bertanda merah. Yang benar saja. Mungkin sebaiknya dia pergi ke toko buku sendiri untuk mencari tahu.
Keenan tidak menyangka akan ada waktu di mana dia harus mencoba menyukai hal-hal yang tidak disukai. Dulu, dia berkoar-koar hanya akan melakukan apa pun yang dia sukai. Sepertinya sekarang dia sedang mendapat hukuman karena pernah menyombongkan diri mengenai hal ini. Baiklah. Dia akan melakukan yang terbaik untuk membahagiakan sang nenek. Pria itu tidak pernah tahu jika beberapa jam kemudian akan memiliki kesempatan untuk mendapatkan Achiera.