Bab 8: Pertolongan Pertama

2016 Kata
“Wah, ramai sekali,” ujar Melly melihat sekeliling. “Ini malam minggu. Bukannya sudah biasa, ya, kalau taman ini ramai gini?” Melly mangut-mangut mendengar perkataan Achiera. Dia menyapukan pandangan ke semua penjuru taman. Para pedagang berjajar rapi di bagian pinggir. Banyak sekali jenis makanan yang bisa dijumpai di sini. Mulai dari makanan berat sampai sekadar camilan sederhana semacam keripik. Penjual minuman juga tidak kalah banyaknya. Ada cukup banyak kerumunan di taman. Beberapa anak kecil bermain bersama orang tua mereka. Adanya sudut untuk anak-anak membuat taman dipenuhi celotehan. Ayunan, jungkit-jungkit, dan perosotan menjadi hiburan mereka. Di titik-titik tertentu, ada banyak bangku yang bisa digunakan untuk duduk dan bersantai. “Pemandangannya buat jomlo kayak kita meronta-ronta.” Melly menunjuk beberapa pasangan yang duduk bersama. Achiera menghela napas. “Kalau gitu enggak usah dilihatin. Lagian kita ke sini buat beli kue terang bulan kesukaan kita. Atau kamu mau cari pacar?” Achiera mendekat pada Melly. “Coba perhatikan. Banyak cowok cakep di sini.” Apa yang dikatakan Achiera tidak salah. Sejak turun dari mobil, Melly sudah memperhatikan hal itu. Memang banyak pria tampan di sini. Mulai dari usia remaja sampai usia matang. Wajah Melly berubah menjadi cerah. Dia mulai memperhatikan semua pria yang berada di jarak terdekat darinya. Matanya memancarkan sinar terang yang membuat Achiera mencibir. Sementara Melly tertarik pada sekelomok pria yang berbincang di tengah taman, Achiera menengadahkan kepala. Malam ini, langit bertabur bintang yang sangat indah. Cahaya bulan purnama menambah keindahan mata yang memandang. Cuaca cukup bersahabat. Dia memejamkan mata untuk menikmati embusan angin yang menghampiri. Berada di tempat seperti ini benar-benar membuat Achiera bisa tersenyum bebas. Saat berada di luar rumah, dia bisa mengekspresikan diri dengan baik. Tidak seperti di rumah yang penuh dengan sandiwara. Dia tidak perlu merasa canggung karena sikap Nila yang suka menyindir. Dia juga tidak perlu berpura-pura tersenyum di hadapan Falisha. Bukan berarti Achiera tidak bahagia saat berada di rumah. Baginya, Nila dan Falisha adalah segalanya. Namun, berada di luar seperti sekarang membuat wanita itu merasakan kehadiran dirinya sendiri. Dia tidak pernah tahu jika tinggal dengan keluarga Nila sangat berat. Meski begitu, dia tetap bersyukur karena masih memiliki keluarga di dunia ini. “Kok, malah bengong. Mikirin bos kita, ya?” Melly mengedipkan mata, lalu menyenggol pundak Achiera beberapa kali dengan sengaja. Achiera memutar bola mata. “Kenapa aku harus mikirin dia?” Achiera menyilangkan tangan, lalu menghadap pada Melly yang mengerutkan kening melihat kelakuan sang sahabat. “Kenapa kamu selalu bahas dia? Kayaknya kamu sengaja ngingetin aku kalau dia sekarang satu-satunya calon yang bisa aku kenalkan sama Bibi dan Kak Falisha.” “Memang kenyataannya gitu, kan? Sekarang kamu enggak tanya-tanya lagi soal cowok yang suka sama kamu. Bukannya dalam hati kamu sudah milih dia?” Bibir wanita berambut panjang mengerucut. Dia memperbaiki blouse biru yang dikenakannya malam ini, lalu menghela napas. Matanya tertuju pada sepasang flat shoes putih yang senada dengan rok linen panjangnya. Mungkin apa yang didengarnya barusan memang benar. Dia sebenarnya sudah memilih Keenan, tetapi belum mau mengakui. Lagi pula, baru kemarin Keenan memberikan waktu sebulan. Kalau Achiera menerima tawaran ini sekarang, bukankah harga dirinya akan tercoreng. Jadi, dia memutuskan untuk mengulur waktu dan selama itu dia akan berusaha menghindari Keenan. Dia tidak akan menemuinya kecuali untuk urusan pekerjaan. “Aku benar, kan?” Melly kembali menyenggol pundak Achiera. Kali ini cukup keras sampai sang sahabat mengaduh dan melotot padanya. “Maaf. Terlalu bersemangat.” “Sejujurnya aku memang mikir gitu. Tapi aku juga ragu, apa kami bisa jadi pasangan seperti orang lain. Aku enggak pernah menganggap pernikahan sebagai permainan, Mel. Tapi keadaan ini buat aku seolah bermain-main sama ikatan suci ini.” “Kalau kamu merasa kayak gitu, kenapa masih mau ngelakuinnya?” “Memangnnya ada alasan apa lagi selain buat bahagiain bibiku dan Kak Lisha?” Melly menekan kedua pundak Achiera. Dia tersenyum sambil memandangi sahabat dekatnya itu. “Bisakah kamu berhenti mikirin kebahagian mereka sebentar saja? Bibimu hanya kebetulan jadi walimu karena dia satu-satunya keluargamu yang tersisa. Dia memang sangat berjasa dalam hidup kamu. Tapi kamu sudah ngelakuin banyak hal buat mereka. Kamu bahkan berjuang buat dapat beasiswa dan bekerja ini itu buat nabung. Pada dasarnya, kamu sudah menghidupi dirimu sendiri. Kamu tahu itu, kan?” Kalimat panjang Melly membuat Achiera tersenyum. Dia tahu apa maksud sang teman. Ini juga bukan pertama kalinya dia mendengar perkataan itu. Entah sudah berapa kali Melly menyadarkannya. Bagaimana kehidupannya selama ini, dia sangat mengerti. Namun, dia tetap tidak bisa mengabaikan Nila dan Falisha. Jika saja saat itu Nila tidak menerima, Achiera mungkin akan berakhir di pinggir jalan sebagai gelandangan. Atau kalau beruntung, dia bisa tinggal di panti asuhan yang cukup nyaman. Jadi, meski mengalami banyak tekanan di keluarga Nila, dia tidak bisa mengabaikan keluarganya. Dia bukan orang yang tidak bisa mengenang budi. “Mana mungkin aku enggak tahu. Tapi kamu juga tahu, kan, kenapa aku masih bertahan di sana?” Melly menatap Achiera dengan wajah mengkerut. “Tetap saja. Pernikahan bukan sesuatu yang bisa dipaksakan. Kenapa kamu enggak bisa jujur saja sama mereka? Lagian, Kak Lisha pasti ngerti.” “Kak Lisha sudah banyak berkorban buat aku. Dia jaga aku selama ini. Kalau pengorbananku kali ini bisa buat Kak Lisha bahagia, aku bakalan senang banget. Lagian, aku bisa belajar buat jatuh cinta sama suami aku nanti, kan?” “Maksudnya kamu bakal belajar jatuh cinta sama Pak Keenan?” “Kenapa balik lagi ke Pak Keenan? Aku enggak nyebutin nama, kan?” “Tapi kamu bakal nikah sama dia,” kata Melly berkeras. Achiera memandang tak percaya pada Melly yang mengatakan omong kosong itu. “Siapa bilang kalau aku bakal nikah sama dia?” “Hati kamu.” Melly menunjuk d**a Achiera dengan keyakinan penuh. Saat berkata akan belajar jatuh cinta, Achiera sama sekali tidak memikirkan Keenan. Dia hanya merasa jika mencintai butuh sebuah proses yang cukup panjang dan berliku. Mungkin setelah menghabiskan waktu bersama setiap hari, dia bisa mulai menyukai pasangan yang dipilihnya. Bukankah itu sangat mungkin terjadi? Akan tetapi, setelah mendengar perkataan Melly, pikiran Achiera mulai kacau. Jika pria yang dipilihnya Keenan, apa dia bisa jatuh cinta? Entahlah. Keenan bukan orang yang sulit untuk disukai. Dia memiliki banyak hal yang bisa menarik kaum hawa. Meski begitu, apa dia bisa benar-benar menyukai Keenan sebagai pasangan? Membayangkan akan menghabiskan hari-harinya dengan Keenan membuat hati Achiera berdesir. Dia meletakkan tangan di dadanya yang bergemuruh. Bisa dia rasakan kalau wajahnya mulai menghangat. Refleks, dia menangkup wajah dengan kedua tangan. Matanya terpejam untuk beberapa saat. “Mukamu sampai merah gitu. Hati-hati nanti kamu benaran suka sama Pak Keenan.” Achiera cepat-cepat tersadar dari lamunan. Dia memberi tatapan peringatan pada Melly. “Sepertinya kamu butuh pacar biar enggak ngerecoki percintaanku.” “Cie ... cie ... percintaan, ya? Kayaknya aku benar, nih.” “Soal apa?” Achiera mendelik saat Melly malah tertawa. Kenapa dia merasa jika sikap Melly hari ini sangat menyebalkan. Padahal dia ke taman untuk menenangkan diri. Melly berhasil merusak suasana indah yang dia bayangkan. “Terus saja pura-pura. Apa kamu tahu kalau di kening kamu sekarang sudah tertulis nama Pak Keenan?” Secepat kilat, Achiera menyingkirkan tangan Melly yang hendak menjangkau wajahnya. Dia mendelik saat Melly tertawa lagi. “Aku mau ke toilet. Mau muntah,” ucap Achiera. Tawa Melly justru semakin keras. beberapa orang yang ada di sekeliling mereka mulai memperhatikan. Merasa kekesalannya sudah sulit untuk dikendalikan, Achiera berjalan cepat menuju kamar mandi seorang diri. Dia bahkan tidak menghiraukan panggilan Melly. Sahabatnya itu entah bagaimana seakan berada di pihak Keenan. Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya. Dulu, meski Achiera hanya seorang diri, Melly selalu berdiri di pihaknya. Achiera menoleh ke belakang saat tidak lagi merasakan kehadiran Melly. Dia tersenyum, lalu melanjutkan langkah menuju kamar mandi. Meski taman sangat ramai malam ini, tetapi tempat yang dituju Achiera justru sangat sepi. Wanita itu menoleh ke sana sini. Dia menghela napas begitu sadar jika dia hanya sendirian. Tangan Achiera sudah memegang kenop pintu saat mendengar teriakan anak kecil. Dia menoleh untuk melihat situasi di sekelilingnya. Merasa terpanggil, dia mencari sumber suara. Bola matanya nyaris melompat keluar saat menyaksikan seorang anak kecil yang dipukuli oleh pria dewasa di dekat kamar mandi. Keberanian muncul dalam diri Achiera. Dia berlari ke arah anak itu dan berdiri di hadapan si pria besar. Tatapan tajam pria berkaos hitam itu tidak membuatnya mundur. Meski sekarang mulai ketakutan, dia tidak bisa membiarkan anak kecil itu terluka. Dia menoleh untuk memastikan keadaan sang anak. “Kamu tidak apa-apa?” tanya Achiera Sang anak tersenyum. Achiera memperhatikan beberapa lebam yang ada di wajah anak itu, lalu kembali berpaling pada si pelaku. “Kenapa Bapak melakukan ini? Dia hanya anak kecil.” “Apa hubungannya dengan kamu? Dia tidak mau memberi aku uang, jadi aku memberinya sedikit pelajaran. Jadi, sebaiknya kamu tidak usah ikut campur.” “Bapak memukuli anak-anak. Bagaimana bisa saya tidak ikut campur? Apa Bapak tidak tahu kalau hal ini bisa membuat Bapak ditangkap polisi?” “Kamu mengancamku?” Pria itu tertawa. Dia melebarkan mata dan berniat untuk melayangkan pukulan pada Achiera. Pikiran Achiera kosong saat melihat gerakan tangan pria itu semakin dekat. Dia memejamkan mata dengan cepat begitu merasa akan segera terkena pukulan. Bukankah hanya sebuah pukulan? Mungkin tidak akan sesakit perkiraannya. Meski belum pernah dipukul sebelumnya, dia yakin kalau bisa bertahan. Sudah beberapa saat berlalu, tetapi Achiera tidak juga merasakan pukulan yang dinantikannya. Perlahan, dia membuka mata. Dia terkejut saat ada orang lain yang menahan tangan pria kasar itu. Dilihat dari belakang, dia sepertinya mengenal pria berkemeja putih yang ada di hadapannya. Jantung wanita itu berdebar. “Apa kamu tahu kalau pada jam seperti ini akan ada penjaga yang patroli di sekitar sini?” Suara itu sungguh sangat dikenal oleh Achiera. Dia menggeser posisinya untuk melihat sosok itu dengan lebih jelas. Matanya membelalak saat melihat wajah tampan Keenan yang terlihat sangar. Dia menelan ludah. Kebetulan macam apa ini? Bagaimana bisa Keenan tiba-tiba muncul di waktu yang tepat begini? “Kamu siapa lagi? Ini tidak ada urusannya denganmu atau wanita itu,” gertak pria kasar. “Lebih baik kamu pergi. Saya sudah menghubungi keamanan dan mereka sedang menuju ke sini. Kalau kamu tidak mau mendapat masalah, menjauh dari wanita itu.” Keenan menyentak tangan si pria dengan kasar. Dia masih menatap tajam pengganggu itu. Kedua tangannya mengepal di sisi kanan kiri. Sepertinya dia siap bertarung jika sang pria tidak bersedia pergi. Sebelum pergi, si pria sempat mengarahkan telunjuknya pada Keenan. Namun, dia berlalu tanpa mengatakan apa pun. Dalam hati, Achiera bersyukur saat melihat si pemukul pergi. Dia tidak perlu menyaksikan perkelahian di depan wajahnya. Untuk meredakan debaran jantungnya yang menggila, dia mengembuskan napas berulang kali. Dia mengerjap saat Keenan menoleh dan menatapnya dalam diam. Mereka hanya saling tatap tanpa kata. “Apa kamu tidak tahu betapa berbahayanya itu?” “Tapi saya tidak bisa diam saja melihat anak kecil ini dipukuli.” “Setidaknya panggil keamanan atau seseorang. Bagaimana kalau tadi tidak ada yang menolongmu?” Achiera menelan ludah. Dia bisa membayangkan dirinya terkapar karena dipukuli oleh pria tadi. Itu memang sedikit mengerikan. “Saya akan mengingatnya lain kali,” ujar Achiera sambil menunduk. “Masih berencana ada lain kali? Apa kamu bercanda, Achiera?” Achiera mendongak. Dia bisa melihat kekhawatiran di mata Keenan. Kenapa ini? “Baiklah. Ini yang terakhir kalinya,” ujar Achiera dengan wajah ditekuk. “Apa kamu ... baik-baik saja?” Achiera mengangguk. “Bagaimana dengan kamu, Nak? Kamu juga baik-baik saja? Lukamu cukup parah. Saya antar ke rumah sakit saja.” “Tidak perlu. Saya obati di rumah saja. Ayah memang sering marah begitu. Saya sudah terbiasa. Terima kasih untuk bantuannya.” Baik Achiera maupun Keenan terdiam mendengar kenyataan itu. Keenan berdeham. Sementara Achiera memalingkan wajah. “Setidaknya saya harus memastikan kamu baik-baik saja. Kalau tidak segera diobati, mungkin wajah kamu akan bengkak besok. Ibu kamu ...” “Ibu sedang sakit, jadi saya harus segera pulang.” “Saya antarkan. Atau ... begini saja. Saya punya beberapa obat luka di mobil. Saya ambilkan dulu. Setelah itu, kamu bisa pulang dan mengobati luka di rumah.” “Baiklah. Sekali lagi terima kasih.” Keenan tersenyum. Belum pernah sekalipun Achiera melihat senyum Keenan setulus itu. Ternyata bosnya itu cukup heroik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN