Malam itu berlanjut dengan langkah-langkah pelan menuju kamar. Tidak ada kata yang diucapkan, tapi udara di antara mereka terasa lebih padat, sarat oleh perasaan yang sejak tadi ditahan. Lampu kamar hanya menyisakan cahaya redup dari lampu tidur, menciptakan bayangan lembut di dinding. Inggrid duduk di tepi ranjang, melepas jam tangannya perlahan. Seno berdiri beberapa langkah di depannya, menatapnya tanpa berkedip, seolah sedang menghafal setiap detail wajah istrinya. Tatapan itu membuat Inggrid kembali merasa gugup, seperti perempuan yang baru pertama kali jatuh cinta. “Kenapa lihatnya begitu?” tanya Inggrid pelan. “Karena aku nggak pernah bosen, karena aku terus b*******h,” jawab Seno jujur. “Biasanya semuanya bergerak cepat. Tapi kamu… bikin aku ingin pelan.” Jantung Inggrid mengha

