Setelah pertemuan itu, Seno tidak langsung pulang. Ia berdiri di balkon lantai tertinggi gedung perusahaannya, menatap lalu lintas Jakarta yang tak pernah benar-benar berhenti. Di bawah sana, hidup terus berjalan, tanpa menunggu siapa pun menyelesaikan urusannya dengan masa lalu. Di tangannya, ponsel bergetar pelan. Nama Inggrid masih tertera di layar sejak beberapa menit lalu, panggilan yang tak kunjung ia jawab. Bukan karena tak ingin bicara, melainkan karena ia belum tahu kata apa yang pantas diucapkan setelah semuanya terurai begitu telanjang. Di sisi lain kota, Inggrid duduk di dalam mobilnya, parkir di pinggir jalan yang dipenuhi pohon flamboyan. Jarinya masih gemetar di atas setir. Ia baru saja keluar dari gedung itu, meninggalkan tempat di mana kebenaran akhirnya berdiri tegak, d

