Bab 4

1044 Kata
Senin pagi Mama, Mbak Ita dan Fardan pada pulang dari Semarang. Tapi Papa tak pulang bersama mereka. Kata Mama, Papa masih akan berada di Semarang, karena ada urusan keluarga besar yang harus diurusnya. Sorenya, baru saja aku pulang kuliah, Mama minta diantarkan ke mall. Banyak yang mau dibeli, katanya. Memang Mama sering mengandalkanku nyetirin mobilnya, meski dia bisa nyetir sendiri. Bahkan Papa juga terkadang suka minta disetirin oleh ku. "Kalau gitu aku mau mandi dulu, ya Mam," kataku minta izin kepada ibu tiri ku. "Iya mandi dulu deh. Makan malam sih nanti aja di mall, sambil temenin mama makan." "Siap Mam," sahut ku, lalu bergegas masuk ke dalam kamar ku. Dan masuk ke dalam kamar mandi pribadiku. Setelah mandi, kukenakan celana jeans dan baju kaus berwarna biru tua. Lalu mengambil kunci mobil Mama yang tergantung di atas lemari kecil ruang keluarga. Mesin mobil Mama kupanaskan beberapa menit, kemudian kukeluarkan dari garasi. Mama pun muncul di teras depan dan melangkah ke pintu mobil sebelah kiri depan. Sesaat kemudian aku sudah meluncurkan mobil Mama di jalan aspal. Lalu terdengar suara Mama di samping kiri ku. "Sam... di mall itu kan ada hotel. Pintu liftnya juga ada di dekat tempat parkir kan?" "Iya. Emangnya kenapa Mam?" aku balik bertanya. "Nanti pada waktu mama belanja, kamu cek in aja di hotel itu. Ada suatu hal penting yang ingin mama sampaikan. Tapi mama ingin menyampaikannya dalam keadaan tenang, jangan sampai ada orang ikut dengar." Meski heran kuiyakan saja perintah ibu tiri ku itu. Lalu Mama memberikan sejumlah uang untuk membooking kamar hotel itu. Setibanya di parkiran mall langganan Mama itu, kami berpisah. Mama masuk ke mall, sementara aku melangkah ke pintu lift yang menuju hotel itu. Untuk mela ksanakan tugas dari Mama. Setelah mendapatkan kamar yang diinginkan, aku pun menghubungi Mama lewat hape ku. Untuk melaporkan nomor kamar yang sudah dibooking atas nama ku. "Ilya. Dalam seperempat jam juga mama udah selesai belanjanya dan langsung ke situ," sahut Mama di speaker hape ku. Aku pun rebahan di bed, sambil menunggu Mama datang. Sementara pintu kamar hotelnya sengaja tidak dikunci, supaya Mama bisa langsung masuk nanti. Sebenarnya akKu penasaran juga. Vasalan apa sebenarnya yang ingin Mama sampaikan nanti? Sedemikian penting dan rahasiakah sehingga harus menyewa kamar hotel segala? Ah.. mudah-mudahan saja Mama bukan mau menanyakan masalah Mbak Ayu. Kalau hal itu yang ditanyakannya, pasti aku akan sulit menjawabnya. Tak lama kemudian Mama masuk, sambil menjinjing kantong plastik besar. "Kok cepat sekali belanjanya Mam?" tanya ku sambil memperhatikan Mama yang saat itu mengenakan celana corduroy biru tua dan blouse putih ditutup sweater biru tua juga. "Kan sudah dipesan sejak seminggu yang lalu. Keburu berangkat ke Semarang, pesanannya baru bisa diambil sekarang. Nih ada t-shirt buat kamu juga," kata Mama sambil menyerahkan t-shirt import yang merknya paling kusukai. "Hehehee... terima kasih Mam," sambutku sambil merentangkan t-shirt itu, Mama sendiri beli apa aja tuh?" "Pakaian dalam semua," sahut Mama sambil mengeluarkan isi kantong plastik besar itu. Isinya memang beberapa buah beha dan beberapa c*****************a. Dan... di depan mata ku, Mama melepaskan celana corduroy, sweater dan blouse putihnya. Degdegan juga aku melihatnya. Terlebih setelah Mama melepaskan behanya, mungkin karena mau mencoba beha barunya. Tapi tidak... Mama malah bertolak pinggang di depanku, dalam keadaan cuma bercelana dalam. Memamerkan sepasang buah dadanya yang tampak masih bagus, mungkin karena pandai merawatnya. "t***k mama masih bagus kan?!" cetus Mama sambil mengangkat kedua buah dadanya. "Ma... masih.. ba.. bagus sekali Mam," sahut ku tergagap. Karena sesungguhnyalah sepasang buah d**a ibu tiri ku itu... merangsang sekali. Mama tersenyum ceria. Lalu menarik tangan kanan ku dan menempelkan telapaknya di buah d**a kiri Mama, "Peganglah... remas juga boleh... biar kamu tahu kalau buah d**a mama masih kencang... "Iii... iya Mam... sahut ku tersendat lagi. Sambil memegang buah d**a yang agak montok itu tapi tidak segede buah d**a Mbak Ayu. "Remaslah... jangan takut-takut," kata Mama sambil menatap ku dengan bola mata bergoyang perlahan. Aku pun meremasnya seperti yang diminta oleh Mama. Wow... ternyata buah d**a Mama lebih kencang daripada buah d**a anaknya ( Mbak Ayu). Tapi tentu saja aku tak berani mengatakan masalah Mbak Ayu. Karena masalah itu sudah menjadi rahasiaku juga. "Seperti buah d**a gadis remaja," ucap ku," Diapain Mam? Apakah diisi silicone?" "Iih, nggak. Mama sih cuma rajin minum jamunya aja. Mmm... kamu seneng sama buah dada mama?" "Se...seneng Mam. Tapi campur takut... " Takut apa?" "Takut ketahuan Papa." "Kan sekarang kita hanya berduaan di sini. Papa seminggu lagi baru pulang dari Semarang. Santai aja... apa pun yang terjadi di sini, jadikan rahasia kita berdua aja," kata Mama sambil memeluk ku, sehingga aku semakin degdegan karena sepasang buah dadanya itu bertempelan ketat dengan d**a ku. "Sekarang jawab sejujurnya, mama ini menarik gak bagimu?" tanya Mama sambil merapatkan pipinya ke pipi ku. "Mama cantik dan sangat menarik," sahut ku jujur, seperti yang dimintanya. "Kamu juga makin gede makin ganteng Sam ," bisik Mama dengan tangan merayap ke celana jeansku... dan menurunkan ritsletingnya... membuat ku semakin berdebar-debar, dengan napas semakin tak beraturan. Terlebih lagi setelah tangan Mama menyelinap ke balik celana dalam ku.. lalu terasa menggenggam batang kemaluan ku yang memang sudah ngaceng berat ini...! "Wow... punyamu sudah keras gini Sam... " Mama mendorongku sampai terhempas ke atas kasur... sementara tangannya masih memegang batang kemaluan ku yang semakin tegang ini. "Mama... oooh... aku... aku...." "Stttt... jangan heboh... makanya kamu diajak ke hotel ini, mama sedang membutuhkan sentuhan laki-laki... itulah hal penting yang mama maksudkan tadi di mobil, " Mama berjongkok di depanku sambil menurunkan celana jeans dan celana dalam ku, sampai terlepas dari kaki ku. Aku mulai mengerti apa yang Mama inginkan. Bayang-bayang wajah Papa pun mulai menjauh dari pelupuk mata batin ku. Memang aku sendiri bingung pada awalnya. Karena aku teringat janjiku pada Mbak Ayu. Bahwa aku akan benar-benar menyetubuhinya setelah ia mendapatkan pil anti hamil. Namun sebelum janji itu dilaksanakan, Mama sudah mendahuluinya. Adakah orang lain yang mengalami kisah seperti ini? Entahlah. Yang jelas Mama memasukkan batang kemaluan ku ke dalam mulutnya, o00, lupalah aku pada segalanya. Terlebih lagi setelah Mama melepaskan celana dalamnya, lalu melanjutkan aksinya, mengoral batang kemaluan ku dengan lincahnya. Aku cuma terlentang pasrah. Membiarkan Mama berbuat sekehendak hatinya. Dan jelas... permainan lidah dan bibir Mama ini... luar biasa enaknya... ! Pada suatu saat, Mama berjongkok sambil memegang rudal ku yang diarahkan ke celah kue apemnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN