Rengga POV. Aku lirik Sinta yang menghindari tatapanku setelah tragedy bersejarah dalam hubungan kami terjadi, apalagi kalo bukan ciuman terus jadian. Lalu setelah itu aku menjalankan mobilku keluar area Senayan. Aku pikir tidak aku saja yang mesti menguasai debar jantungku, tapi Sinta juga, jadi aku diam. Eh malah kami keterusan diam. “Yang!!, diam saja sih, kenapa?” tegurku tidak suka suasana hening kami yang canggung. “Hah?” jawabnya begitu menoleh setelah menatap keluar jendela mobil trus. “Kamu kenapa diam aja” ulangku. “Apa tadi, Yang?, kamu?” ejeknya. Aku tertawa. “Kan kita udah pacaran sekarang, jadi sayang akulah, masa mau elo gue, gak sopan amat” gurauku. Sinta tertawa. “Hadeh…Neneng jadi lemas abang panggil sayang. Melted….” jawabnya bergurau juga. Aku terbahak lalu de

