Keluarga bahagia mungkin impian bagi semua orang. Disayang orang tua penuh dan memiliki banyak perhatian yang dimiliki sama seperti Rafif. Ia jelas sama sekali tidak kekurangan kasih sayang apa pun, karena memiliki orangtua yang harmonis dan satu pengasuh baik hati.
Namun, rasanya itu belum lengkap kalau ia tidak memiliki kasih sayang dari paman kesayangan, yaitu Ethan. Memang bisa dikatakan lelaki itu datang beberapa kali mengunjungi dirinya membawa banyak sekali mainan, tetapi tidak untuk sekarang.
Sudah tiga hari lamanya Ethan tidak lagi datang. Mungkin sejak sang ayah memenangkan sebuah tender bersama lelaki itu. Sehingga mengundang banyak sekali pertanyaan dari Rafif kecil yang sudah merindukan Ethan.
“Papah, apa Paman Ethan enggak datang ke sini lagi?” tanya Rafif pada sang ayah yang tengah duduk di kursi taman sembari menikmati kopi hitamnya.
“Sepertinya enggak, Rafif. Paman Ethan baru saja memenangkan sebuah tender. Mungkin sekarang lagi berpesta bersama teman-temannya,” jawab Ayah Rafif tersenyum penuh pengertian.
“Mengapa menang tender tanpa mengajak kita juga, Pah? Padahal Papah yang memberikan kesempatan itu untuk mendapatkan banyak uang,” celoteh Rafif kecil semakin penasaran.
“Jangan berkata seperti itu, Rafif. Papah melarang kamu untuk enggak berprasangka buruk apalagi sampai pamrih kepada keluarga sendiri,” sanggah Ayah Rafif melarang sang anak untuk tidak berkata buruk sehingga menimbulkan banyak pertanyaan.
“Maafkan aku, Pah,” sesal Rafif menundukkan kepalanya membuat lelaki dewasa yang masih tampan itu menghela napas panjang.
Tak lama kemudian, datanglah seorang wanita dewasa berpakaian blouse polos berwarna merah dengan kerah kecil mengelilingi lehernya. Di sisi wanita itu terlihat seorang pengasuh yang biasa menjaga Rafif kecil tengah membawa keranjang berisikan banyak belanjaan untuk stok makanan persiapan sewaktu-waktu dibutuhkan.
“Rafif, apa yang sedang kamu lakukan di situ, Na? Ayo, masuk! Sudah hampir gelap,” celetuk Ibu Rafif menatap sang anak tengah bersama suaminya.
Sejenak anak kecil tampan nan cerdas itu menatap sang ayah dengan ekspresi sedikit takut membuat kerutan penasaran terlihat dari wajah Ibu Rafif yang merasa ayah dan anak itu terlibat sedikit perkelahian.
“Pergilah, Papah akan menyusul kalian berdua,” titah Ayah Rafif tersenyum hangat.
“Baik, Papah!” balas Rafif bersemangat, lalu berlari ceria menghampiri sang ibu yang tersenyum lebar.
Sedangkan Si Mbok yang datang untuk membantu pengasuh Rafif membawa barang tersebut pun ikut tertawa bahagia. Tidak ada yang merasa terbebani bekerja di bawah Keluarga Osm. Apalagi mereka sangatlah baik sehingga jarang sekali terdengar kemarahan, kecuali Rafif melakukan kesalahan dan membuat sang ibu memarahinya.
“Mbok, tolong nanti bawakan cangkir ini, ya? Saya mau ke dalam,” pinta Ayah Rafif tanpa menghilangkan nada kehormatan di sana. Seakan ia menghormati pembantunya sendiri yang sudah lanjut usia.
“Baik, Tuan Besar Osm. Nanti akan Mbok bawa,” jawab Si Mbok dengan tersenyum lebar sembari mengangguk mengiakan.
Setelah itu, Keluarga Osm yang tengah merasakan sebuah kehangatan di ruang keluarga pun tidak sedikit terdengar suara celotehan dari Rafif. Ia menceritakan semua pengalamannya selama bersekolah bersama teman-teman kompleks yang tidak jarang dekat juga dengan keluarganya.
Semua yang ada di sana terlihat begitu bahagia dengan gelak tawa penuh kekeluargaan terdengar hingga keluar. Bahkan tidak sedikit pengasuh Rafif merasa mempunyai sebuah keluarga lagi ketika dirinya memutuskan menjadi pengasuh. Walaupun jarang sekali merasa kerepotan, sebab Rafif sudah lumayan besar untuk tetap diasuh oleh seseorang.
“Mah, tadi waktu aku di sekolah ‘kan Mbak hampir aja nabrak orang,” adu Rafif kecil membuat pengasuhnya mendelik berpura-pura tidak terima.
“Heh, Rafif! Kamu itu, ya?” ancam Mbak.
Sedangkan Ibu Rafif yang mengetahui kejahilan Rafif pun tersenyum geli, lalu menjawab, “Oh iyakah? Bagaimana bisa itu terjadi?”
“Jadi, Mbak tadi ‘kan menjemputku di depan kelas, lalu ada orang di belakangnya juga yang sedang menunggu salah satu temanku. Pas aku keluar bersama teman-teman, Mbak malah mundur dan menginjak kaki laki-laki yang di belakang itu,” celoteh Rafif tersenyum malu-malu sembari menutup mulutnya menghindari tatapan sang pengasuh yang mulai kesal, tetapi ia tahu itu hanya pura-pura saja.
“Benar, Mbak?” ucap Ibu Rafif menatap pengasuh anaknya dengan geli.
Sontak gadis yang hampir menginjak usia matang pernikahan itu pun menggeleng cepat. “Enggak, Bu. Tadi itu cuma kesalahan kecil aja enggak sampai seperti yang dibilangin Rafif. Ada-ada aja nih! Masa Mbak disuruh pacaran sama dia.”
Rafif yang mendengar pengasuhnya mengatakan kesalahan pun langsung berlari dan membungkam mulut gadis itu, lalu berbisik, “Mbak jangan aduin perkataanku tadi dong. Nanti Papah marah.”
Namun, sayang sekali mereka berdua benar-benar layaknya kakak beradik yang selalu saja ada sebuah pertengkaran dilakukannya membuat seisi rumah terkadang merasa pening sekaligus terhibur mendengar suara Rafif dan pengasuhnya bersahut-sahutan.
“Rafif, Papah dengar lho,” sahut sang ayah membuat anak laki-laki itu meringis pelan.
“Enggak, Pah. Jangan percaya sama Mbak,” elak Rafif berusaha membela diri.
“Bohong, Tuan! Rafif nakal sekali kalau di sekolah,” potong pengasuh anak laki-laki itu cepat.
Akhirnya, perdebatan pun tidak bisa dihindarkan membuat sang ibu Rafif menghela napas panjang. Jika dibiarkan terus berdebat memang tidak akan ada habisnya. Apalagi sifat sang anak dan pengasuhnya cukup sulit disatukan membuat ia harus segera melerai mereka berdua sekaligus sang suami yang mulai terpengaruh.
“Rafif, sudah cukup. Mbak, tolong ajak dia untuk tidur. Besok masuk harus sekolah lagi,” sela Ibu Rafif disambut tatapan bingung oleh ketiganya.
“Mamah, ini masih jam delapan malam. Aku bukan anak bayi,” protes Rafif tidak percaya melihat ibunya benar-benar menyuruh tidur sangat cepat.
“Kamu memang bayi, Rafif. Ayo, Mbak temani tidur!” ajak sang pengasuh sedikit mengejek sembari mengulurkan tangannya. Seakan perdebatan tadi tidak merenggangkan hubungan mereka berdua.
Mau tak mau Rafif pun menyambut uluran tangan dari pengasuhnya untuk segera tidur. Meninggalkan beberapa anggota keluarga yang masih bersantai bersama.
Namun, tidak ada yang tahu kalau malam kumpulan mereka akan menjadi malam terakhir bersama. Karena tepat di jam sepuluh malam tiba-tiba sebuah p*********n terjadi. Sesosok lelaki berpakaian hitam datang menghabisi Keluarga Osm lengkap dengan pembantu dan pengasuh Rafif.
“Tolong!!!” jerit seorang wanita membuat Rafif kecil yang mendengarnya langsung terbangun.
Anak laki-laki berpakaian piyaman berwarna putih dengan motif polkadot itu pun terduduk di tempat tidur sembari menatap ke arah pintu kamarnya yang tertutup rapat menandakan sang pengasuh masih menguncinya dari luar. Salah satu kebiasaan yang dilakukan oleh orang tua Rafif agar menjadi dirinya dari keadaan darurat sekalipun.