5. Drama Pagi Hari

1022 Kata
Setelah mendapat panggilan tersebut, Rafif mendadak terdiam membisu sembari menatap gedung pencakar langit yang berada di hadapannya menampilkan suatu karya begitu indah. Lampu kerlap-kerlip hasil sewaan para penggemar musik hallyu itu membuat Rafif sedikit kagum. Karena mereka begitu royal kepada idol-nya sendiri. Namun, pikiran Rafif bukanlah mengarah pada ke sana, melainkan pada sebuah panggilan yang beberapa saat lalu mengarah pada dirinya. Dengan cepat, ia kembali menatap nomor panggilan tersebut tanpa nama. Hal tersebut membuat Rafif mengernyitkan keningnya penasaran, lalu saat dirinya hendak menelepon nomor sang pemanggil itu tiba-tiba sebuah pemberitahuan pesan baru timbul di atas layar ponsel milik Rafif. “Salam kenal dari partner baru lo, Grubby dan Beryl,” gumam Rafif membaca pesan tersebut. Tentu saja banyak sekali pertanyaan yang muncul di benaknya. Salah satunya adalah tentang dirinya yang diberikan cuti selama beberapa minggu setelah bergelut pada penyidikan yang cukup licik. Karena sang pelaku terus saja menghancurkan barang bukti dan membuat alibi cukup kuat. Namun, lama-kelamaan memikirkan hal tersebut membuat mata Rafif semakin berat membuat lelaki itu memutuskan masuk kembali ke dalam apartemen. Tak lupa ia mengunci balkon tersebut, meski unit berada di lantai 30. Menandakan mustahil perampok dan maling masuk ke dalam. Sesampainya di kamar, Rafif langsung membanting tubuhnya sendiri ke atas kasur, lalu mematikan pendingin ruangan yang terus berjalan sejak siang tadi. Sebab, cuaca Kota Metronomus sangat panas akibat pemanasan global. Tidak sampai menunggu lama. Akhirnya Rafif pun masuk ke dalam alam mimpi yang sudah kesian kalinya. Namun, tetap saja lelaki itu memiliki ketakutan tersendiri yang tidak mudah diceritakan oleh siapa pun. Keesokan harinya, Rafif pun terbangun akibat suara alarm yang berada di atas nakas. Membuat lelaki itu bangkit dan merenggangkan tubuhnya sembari menatap sejuknya area perkotaan yang padat penduduk. Lelaki tampan yang baru saja menyelesaikan aktivitas paginya itu pun turun ke bawah. Sampai penglihatannya terpaku pada punggung seorang wanita tengah bergelut dengan kompor. Tentu saja uap yang menggumpal cukup besar itu hampir membakar unit mereka tinggali. “Apa yang lo lakuin, Kak!?” pekik Rafif berlari dengan cepat menarik mesin penghisap uap agar tidak mengacaukan aroma dapur apartemen tersebut. “Gue lagi buat sarapanlah,” jawab Regina begitu percaya diri sembari memperlihatkan makanan yang berada di tangannya hampir berwarna hitam. “Astaga, biar gue aja,” ucap Rafif mengambil alih semua pelaratan memasak itu, lalu membawa tubuh Regina untuk duduk di mini bar yang berada tidak jauh dari tempat memasak. “Lho, Fif, kok gue malah di bawa ke sini!” protes Regina menggeram kesal. “Lebih baik lo jangan masuk dapur lagi, Kak. Bukannya udah ada sarapan yang datang ke sini?” balas Rafif mengangguk mantap, lalu kembali melakukan kegiatan sang kakak yang sempat hancur. “Tadinya gitu, tapi pas gue mau pesan makanan tiba-tiba pihak apartemen bilang kalau sarapan yang mereka sediakan tidak bisa terpenuhi pagi ini,” keluh Regina mengembuskan napasnya kesal. “Kenapa?” tanya Rafif penasaran. “Katanya sih, dapur mereka kehilangan satu koki akibat kecelakaan lalu lintas semalam,” jawab Regina tersenyum kecut. “Bagaimana keadaan koki tersebut?” “Yang gue dengar, kokinya langsung dibawa ke rumah sakit. Jadi, seluruh koki di apartemen memutuskan untuk jenguk koki itu. Sehingga pagi ini kita harus masak sarapan sendiri.” Rafif meringis pelan mendengar perkataan Regini yang begitu percaya diri. Tentu saja ia takut pada seorang wanita yang hidupnya sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di dapur, selain minum dan makan. “Ya udah biar gue aja yang buat. Kalau lo terus-terusan di dapur, kita bakalan kehilangan unit apartemen ini,” ucap Rafif jujur. “Kenapa? Lo kekurangan uang?’ tanya Regina polos. “Karena lo bakar!” jawab Rafif penuh emosi, lalu tanpa mengindahkan apa pun ia kembali melanjutkan masak-memasak untuk sarapan pagi ini. Sedangkan Regina yang tidak diperbolehkan membantu pun hanya diam merebahkan kepalanya menatap sang adik angkat begitu dewasa, Bahunya lebar dengan punggung kokoh dibaluti seragam ala kepolisian yang begitu rapi. Keduanya benar-benar terlihat seperti pasangan suami-istri yang saling menjaga satu sama lain. Meskipun pada kenyataannya mereka berdua adalah kakak beradik dengan salah satu dari mereka hasil anak angkat yang diasuh secara suka rela oleh orang tuanya. Sudah dua puluh tahun lalu kejadian di mana orang tuanya menemukan Rafif berada di luar garasi dengan keesokan paginya orang tua dari bocah laki-laki itu ditemukan bersimbah darah beserta luka tusukan cukup banyak. Namun, sayang sekali kasus tersebut harus mengalami penahanan akibat tidak adanya saksi dan bukti semakin lama semakin tidak terlihat. Akibatnya kasus pembunuhan keji itu harus berakhir membuat Rafif hidup dalam penyesalan sekaligus dendam yang tidak bersudah. Menjadikan dirinya sebagai anggota kepolisian demi mengangkapkan kasus keluarganya sendiri. “Tumben lo berangkatnya mirip orang kerja,” celetuk Regina memecahkan keheningan. “Maksud lo apa, Kak?” tanya Rafif membalikkan tubuhnya sembari membawa dua piring berisikan nasi goreng telur, lalu menaruh salah satu piring tersebut tepat di depan sang kakak. “Ya, biasanya lo ‘kan mirip pengepul sampah. Pulang larut malam, dan berangkat saat dini hari tiba,” jawab Regina jujur sembari menyuapkan nasi goreng spesial buatan adiknya yang selalu terasa lebih baik dibandingkan ketika dirinya memasak. “Itu lebih baik daripada lo setiap pulang selalu aja mabuk dan meracau tentang mantan kekasih lo yang enggak berguna itu,” sungut Rafif mendesis pelan. Regina mengerucutkan bibirnya kesal. “Gue emang bodoh bangat, Fif. Bisa-bisanya suka sama cowok macam dia. Udah nyia-nyiain, tapi tetap aja gue pertahanin. Sampai hati gue rasanya kaku ngelihat dia selingkuh dan main sama cewek lain.” “Makanya, Kak, mulai sekarang lupain itu cowok. Lagi pula di luar sana masih banyak yang mau sama lo. Apalagi pengusaha, tajir, cantik, lo bisa dapatin yang lebih baik daripada dia,” imbuh Rafif terdengar tidak suka sekaligus terus mendesak sang kakak untuk melupakan ba*jingan  yang tidak tahu diri. “Lo ngomongnya enak, Bang. Lah gue yang jalaninnya ribet. Belum tentu gue dekat sama cowok lain lupain dia. Kalau misalnya malah tambah rindu gimana? Lo juga yang repot,” balas Regina mengembuskan napasnya kasar. Rasanya perbincangan pada sarapan kali ini cukup berat membuat ia merasa nasi goreng buatan Rafif begitu pedas. “Ngomong-ngomong, nasi goreng hari ini kok lumayan pedas, ya?” celetuk Rafif mengalihkan pembicaraan membuat sang kakak menaikkan alis kanannya tidak percaya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN