10. Kontrak Nyawa

1021 Kata
“Rafif, lo baik-baik aja, ‘kan?” tanya Veera berlari kencang tepat ketika dirinya baru saja memarkirkan mobil. Tujuan gadis cuek itu hanya pada Rafif yang berdiri memang ekspresi kebingungan. Sedangkan rekan kerja lainnya menatap Rafif lega, lalu pandangan mereka semua terpaku pada beberapa perban yang terbalut sempurna di lengan lelaki itu. “Gimana keadaan lo?” tanya Franky dengan nada informal membuat Rafif mengernyit sesaat. Veera yang seakan tahu wajah kebingungan itu pun berbisik tepat di telinga Rafif, “Jawab aja. Kalau semua orang di sini ngomong informal, tandanya lo udah diterima.” Dahi lebar nan mulus itu mengernyit dalam, lalu menatap Franky yang belum mengalihkan perhatiannya membuat Rafif mengangguk kaku. “Cuma luka kecil aja, Bang. Tadi sempat diobati sama Zyrach waktu perjalanan di sini.” “Hah? Zyrach? Adiknya Perwira Jarvis, ‘kan?” sahut salah satu personil yang tidak diketahui namanya. “Iya,” jawab Rafif kaku. Entah kenapa ia merasa salah menjawab pertanyaan dari ketua timnya, “Di mana dia sekarang?” tanya salah satu personil lagi. “Laporan sama Lizian di ruangan Pak Andri,” jawab Rafif dengan jujur. Kemudian, tanpa aba-aba kedua personil yang sempat bertanya pada Rafif itu pun berlari saling mendahului. Karena bisa dikatakan Zyrach adalah penyemangat bagi kantor polisi yang hanya dihuni oleh seorang lelaki. Sementara itu, Franky yang melihat kekonyolan bawahannya hanya mengembuskan napasnya panjang. Dirinya paling dewasa di antara semua rekan kerja pun tidak bisa melakukan banyak hal, selain tetap mengawasi mereka dengan baik. Satu per satu dari mereka pun melenggang pergi, termasuk Rafid dan Veera yang memutuskan untuk melangkah bersama. Mereka berdua sudah tidak terlalu canggung seperti tadi membuat Rafif menjadi sedikit nyaman. Walaupun lelaki itu masih terlihat canggung akibat sapaan yang kurang hangat tadi. Sebab, Rafif masih saja merasa tidak nyaman, meski rekan kerjanya sudah sedikit lebih baik. “Rafif, ke sini sebentar!” pinta seseorang dari kejauhan. Veera mengernyit bingung melihat Lizian yang jarang sekali keluar dari ruangan. Bahkan di samping lelaki itu terdapat seorang gadis cantik dengan menatap ramah. “Lo duluan ke ruangan ya, Ra. Gue mau nyamperin Lizian dulu,” pamit Rafif berlari kecil menghampiri sahabatnya. Tanpa menunggu lama Rafif pun sampai di hadapan Lizian yang memegang sesuatu di tangannya. Lelaki itu tampak mengkode pada Rafif untuk masuk ke salah satu ruangan kosong yang berada di lantai bawah. Tempat yang biasa digunakan untuk menginterogasi. Sesampainya di dalam ruangan, Lizian yang masih berada di ambang pintu sebelum akhirnya lelaki itu menguncinya dengan rapat. Agar tidak ada satu pun yang bisa masuk ataupun mencari informasi, selain tiga orang yang berada di dalam. Tentu saja kedatangan Zyrach yang bisa dikatakan jarang sekali itu pun mengundang banyak pertanyaan. Salah satu Rafif, ia hanya mengenal gadis itu ketika dirinya sedang melakukan pelantikan. “Ada apa, Zian? Lo kelihatannya misterius gitu,” tanya Rafif penasaran. Sedangkan Zyrach hanya tersenyum tipis sembari mengeluarkan sesuatu dari dalam tas miliknya dan memperlihatkan pada Rafif. “Semalam, uhm ... atau beberapa hari yang lalu lo dapat telepon dari seseorang?” tanya Zyrach membuka percakapan sembari menatap Rafif dengan kedua tangannya terlipat di atas meja menandakan mereka dalam keadaan serius. “Iya, dari nomor asing,” jawab Rafif jujur. Beberapa lembar kertas tampak disodorkan oleh Zyrach sembari tersenyum tipis, lalu berkata, “Lo menjadi anggota terpilih dari anggota BIN.” “Hah? Anggota terpilih gimana? Bukannya gue tetap jadi detektif?” tanya Rafif bingung. Lizian tersenyum geli, lalu menjawab, “Iya, Raf. Telepon nyasar yang lo cerita sama gue itu berasal dari BIN.” “Apa maksud semua ini? Gue benar-benar enggak mengerti.” Rafif mengernyit dalam, lalu menerima sodoran kertas dari Zyrach, dan mulai membacanya dengan seksama. “Sebenarnya, semua telepon itu udah direncanakan,” timpal Zyrach. “Gue masih belum paham sama apa yang terjadi. Kenapa mereka nelepon gue? Padahal jelas-jelas masih ada anggota lebih berbakat,” ucap Rafif menggeleng antara percaya atau tidak percaya. “Gimana keputusan lo, Raf?” pungkas Lizian menatap sahabatnya penuh. “Gue masih bingung, Zian. Apalagi pas bertepatan banget gue baru pindah departemen. Rasanya sedikit enggak etis kalau gue langsung pindah gitu aja,” balas Rafif menggeleng pelan sembari mengembuskan napas panjang. Sementara itu, di sisi lain terdapat sebuah ruangan serba hitam dan merah terhiasi patung-patung hewan buas yang begitu besar. Menjadi pemandangan tersendiri bagi seorang lelaki yang memegang putung rokok sembari menatap tanpa ekspresi ke arah depannya. “Pimpinan Vald, maafkan kami telah lalai menjalankan tugas,” sesal enam orang yang kini telah berlutut sembari menunduk dalam tanpa berani mengangkat kepalanya sama sekali. “Kami tidak akan melepaskannya begitu saja lagi,” timpal enam orang itu lagi. Namun, semua perkataan itu malah disambut senyuman miring yang masih terselip sebuah rokok menyala. Lelaki berwajah tampan nan kejam itu bangkit dari tempat duduknya, lalu melangkah dengan tenang sembari mengambil putung rokok tersebut sembari menyelipkan di antara sela jemari. Sebuah tangan kekar nan besar itu mendarat sempurna di pipi enam orang tersebut secara bergantian. Membuat mereka memejamkan matanya merasakan perih sekaligus nyeri dalam waktu bersamaan. Bahkan mereka bisa merasakan rasa asin tercampur anyir yang berasal dari darah. Tidak puas hanya dengan tamparam, seorang Theo Vald Rasendriya itu pun menendang bahu mereka satu per satu hingga tersungkur ke belakang. Bahkan dentuman yang berasal dari kepala bersentuhan langsung itu pun di dengar oleh seluruh orang yang terdapat di ruangan tersebut. “Siapa lelaki yang kalian lepaskan itu?” tanya Theo mengernyit penasaran sembari membersihkan kedua tangannya dari cipratan darah yang melekat sempurna. “Kami tidak tahu, Bos. Tapi, dia terlihat masih baru,” jawab salah satu dari mereka mulai mengangkat kepalanya secara perlahan. “Kalau begitu, selidiki dia sampai dapat!” titah Theo menaruh lap kotor tadi pada seorang pelayan lelaki yang menunduk hormat. Kemudian, ia melenggang pergi begitu saja diikuti dengan tujuh pengawal yang berbaris rapi bersama tangan kanan sekaligus penasihat pribadi Theo. Tentu saja orang kepercayaan seperti itu tidak mudah ditembus, apalagi sampai mengkhianati. Sebab, semua orang yang pernah bekerja dengan Theo memiliki sebuah perjanjian tersendiri, yaitu ketika kontrak habis, maka nyawa mereka yang akan menjadi bayarannya. Sehingga jarang sekali ada bawahan Theo bisa keluar hidup-hidup. Meskipun pada akhirnya akan tetap merenggang nyawa akibat kelicikan lelaki itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN