22. Titik Kebenaran Tersembunyi

1019 Kata
Terlihat tiga orang lelaki tampan duduk melingkar di sudut ruangan perawatan Zyrach. Mereka saling berpandangan dengan ekspresi yang sulit diartikan, lalu salah satu dari mereka tampan menunjukkan sebuh video yang baru saja didapatkan dari seseorang. “Ini video dashcam siapa?” tanya Rafif mengernyit penasaran. “Kebetulan pada hari kejadian ada salah satu mobil patrol yang belum masuk parkiran. Jadi, gue yang melihat hal tersebut langsung mencari mobil itu,” jawab Lizian menunjukkan hasil tangkapan layar di mana ia mendapatkan siluet bagian depan mobil yang tertangkap kamera pengawas. “Kerja bagus, Lizian. Kamu benar-benar teliti,” celetuk Jarvis tersenyum tipis, lalu menatap sang adik dengan pandangan sendu. “Apa lagi yang lo temuin, Zian?” tanya Rafif mengalihkan perhatian Jarvis membuat lelaki itu langsung menatap ke arah seorang lelaki yang terlihat sibuk memasukkan ponselnya. “Untuk sekarang gue belum menemukan petunjuk apa pun, tapi kalau hasil nomor plat ini ditemukan. Gue akan langsung ngasih tahu kalian,” jawab Lizian menyandarkan tubuhnya lelah. Sudah seharian penuh lelaki itu bergelut dengan banyak kasus, termasuk kasus pembunuhan yang sempat terbengkalai akibat kepergian Rafif. Tentu saja hal tersebut menjadi beban tersendiri bagi Lizian yang terbiasa bekerja dengan sahabatnya. Di tengah merilekskan tubuh, tiba-tiba ponsel dari salah satu mereka berdering membuat ketiganya saling berpandangan. Kemudian, terhenti pada Rafif yang sama sekali tidak bergerak. “Bukan ponsel gue,” celetuk Lizian memperlihatkan layar gelap di tangannya. Sedangkan Perwira Jarvis hanya menggeleng, lalu meletakkan benda pipih tersebut di atas meja. Kini hanya tinggal milik Rafif yang belum ditunjukkan. Membuat lelaki itu mengembuskan napasnya berat. Ia sudah tahu siapa pelaku di balik deringan ponselnya, karena yang memiliki nomor ponselnya hanya segelintir orang. “Halo, Kak!” sapa Rafif bangkit dari tempat duduknya menjauhi ruang perawatan. Sontak Jarvis yang awalnya tengah memejamkan mata langsung melebar seketika, lalu menatap langit-langit kamar yang berwarna putih. Akan tetapi, lelaki itu diam-diam memperhatikan punggung Rafif yang lebar sembari berbicara melalui ponsel dengan volume lebih kecil. Sedangkan Lizian yang sudah menduga bahwa itu adalah Regina pun tersenyum tipis. Nyatanya wanita itu masih tetap sama seperti dulu. Anggun sekaligus cantik. Membuat jantungnya tanpa sadar berdebar pelan. Hal tersebut mengundang tatapan tidak suka dari Jarvis yang menyadari senyuman tanpa sadar dari seorang lelaki di sampingnya. Ia bisa menduga bahwa tidak hanya dirinya saja yang menyukai Regina, melainkan Lizian. “Zian, apa kamu menyukai Regina?” tanya Jarvis datar sekaligus dingin. Mendengar pertanyaan itu, Lizian pun tersadar, lalu menatap seorang lelaki tampan di sampingnya dengan kerutan dahi mulus yang lebih dalam. “Perwira Jarvis, apa kau menyukai Regina?” tanya Lizian balik. Dengan tegas, Perwira Jarvis menjawab, “Iya. Aku menyukainya.” “Hah? Pandangan pertama?” Lizian tidak bisa menyembunyikan aura keterkejutannya menatap sesosok lelaki dewasa yang ada di hadapannya. Namun, sayang sekali tiba-tiba Rafif sudah kembali dari panggilan teleponnya membuat lelaki itu duduk seperti semula sembari menatap dua lelaki di hadapannya yang tampak sedikit aneh. “Apa yang kalian bicarakan? Mengapa menatapku seperti itu?” tanya Rafif penasaran. “Enggak ada,” jawab Lizian menggeleng pelan. “Oh ya, tadi Kakak lo yang nelepom?” Rafif mengangguk singkat. “Biasa. Dia suka nelepon temenin tidur. Kakak gue agak trauma kejadian di mana rumah hampir aja dibobol oleh orang. Jadi, setiap gue enggak di rumah, dia selalu merasa khawatir.” “Wajar, Raf. Namanya juga perempuan, pasti ada rasa takutnya kalau sendiri. Apalagi rumah lo lumayan besar, ‘kan? Gue rasa dia juga akan cemas kalau sewaktu-waktu ada yang bersembunyi di balik loteng.” “Jangan ngaco!” Rafif tertawa pelan, lalu menatap sesosok lelaki dewasa di hadapannya. “Perwira Jarvis, aku ingin kembali ke kantor. Apa kamu baik-baik saja sendirian di sini?” “Iya, tidak masalah. Kamu bisa kembali menyibukkan diri,” jawab Jarvis mengangguk singkat. Setelah itu, Rafif dan Lizian pun berpamitan. Mereka berdua tentunya tidak bisa selalu berada di rumah sakit. Sebab, ada banyak kasus yang harus diselesaikan. Apalagi Rafif yang baru saja berganti kasus dan sekarang sudah sering melewatkan banyak rapat. Jelas saja lelaki itu harus mengejar ketertinggalannya, termasuk mencari celah kesalahan yang telah dilakukan oleh timnya sendiri. Karena Veera sudah memberi kabar bahwa kasusnya mengalami banyak perkembangan. Kini keduanya sudah berada di mobil jeep milik Rafif, dan mulai menjalankan benda tersebut keluar dari parkiran bawah tanah rumah sakit. Tanpa mereka sadari ternyata ada seseorang yang berdiri di balik pilar lobi memperhatikan keduanya keluar. Seorang lelaki kaya yang menjadi bos banyak perusahaan, termasuk salah satu lab terkenal. Namun, sayang sekali lab tersebut tidak ada yang bisa mencarinya, selain dirinya sendiri. Membuat tidak sedikit media asing penasaran dan ingin bekerja sama mengembangkan banyak hal. “Kamu sangat menarik, Rafif. Entah apa yang terjadi padamu di kehidupan sebelumnya, aku semakin tertarik untuk menjadikanmu sebagai targetku selanjutnya,” gumam Theo tersenyum miring sembari terus memperhatikan laju mobil jeep tersebut. Sementara itu, di sampingnya terdapat seorang lelaki yang selama ini menjadi pengikut setianya, Ethan. Lelaki tersebut sama sekali tidak merasa aneh sekaligus penasaran apa yang menyebabkan bosnya menjadi sangat tertarik pada adik karyawannya sendiri. “Bos, ini sudah malam. Apakan langsung ke hotel?” celetuk Ethan mengingatkan bosnya agar tidak terlalu lama berada di sini. Sebab, mereka berdua datang ternyata hanya untuk memastikan stok obat yang dimiliki masih tersedia. “Tidak. Langsung saja ke lab. Aku ingin melihat keadaan di sana,” tolak Theo melenggang pergi begitu saja sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Di sela keduanya melangkah menuruni anak tangga menuju mobil yang sudah berada di lobi, tiba-tiba ponsel milik Theo berdering pelan membuat Ethan yang memegangnya langsung mengkode pada lelaki itu untuk mengangkat telepon terlebih dahulu. Theo mengangguk singkat, lalu mengambil alih ponsel tersebut sembari membungkuk masuk ke dalam mobil. Kemudian, menempelkan benda pipih tersebut di telinganya dengan sempurna. Sedangkan Ethan terlihat sibuk berbicara dengan beberapa pengawal yang berada di luar, sebelum akhirnya lelaki itu ikut masuk ke dalam menjadi supir pribadi sang bos. Meninggalkan pengawal yang membungkuk hormat mengantarkan kepergian sang bos. “Halo, sayang! Apa yang kamu lakukan?” sapa Theo lembut sembari tersenyum tipis membuat Ethan yang berada di depan mengerti, lalu memasang pembatas antara dirinya dan sang bos. Memberikan ruang privasi untuk lelaki itu berbincang dengan pacarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN