Happy reading.. * * * Lidia mengangguk. Dengan anggun ia menyesap minuman anggur yang ada di gelasnya. Hal itu tak luput dari penglihatan Agus. ‘Sial! Bahkan melihatnya menikmati anggurnya saja membuatku tergoda.’ Umpat pria itu membatin. “Jadi, apa tindakan kita selanjutnya? Hahh.. Aku tak sabar ingin melihat wajah wanita miskin yang penuh kesombongan. Berubah menjadi panik dan ketakutan seperti waktu itu.” Ucap Lidia. “Kita tidak akan berdiam diri seperti ini sepanjang hari kan? Bicaralah, Gus. Jangan diam aja dong.” Lanjut Lidia dengan suara yang luar biasa menggoda. Sengaja bersikap manja pada pria di sebelahnya itu. ‘Doble s**t!! Telinga ku harus diobati. Bagaimana mungkin mendengar suara wanita ini saja membuatku langsung menegang. Pasti karena masih ada pengaruh obat perang

