Diandra duduk di kursi yang biasa dipakai nya untuk melukis. Di meja tidak jauh dari nya ada kopi dan roti bakar kesukaan nya. Diandra beberapa bulan ini membiarkan rambutnya panjang tidak di potong. Jadi tampak terlihat seperti seniman yang cuek terhadap dirinya sendiri. Ketukan pintu mulai terdengar di kamar itu. Disertai suara yang sudah tidak asing lagi bagi Diandra. Dia adalah suara putri semata wayangnya yaitu Sifa. "Papa! Ada tante Desma," sedikit teriakan dari Sifat disertai ketukan ke pintu kamar yang dijadikan tempat untuk mengekspresikan segala hasil karya Diandra yaitu karya seni lukis. "Masuk saja, sayang! Pintunya tidak dikunci kok," kata Diandra dengan suara keras. Seorang wanita yang berparas cukup cantik dengan body yang sangat berisi masuk ke kamar yang dijadikan untu

