Arka menarik napas dalam-dalam lalu menghembusnya perlahan. Lelaki itu duduk dengan kepalanya yang tertunduk juga tangannya yang menutupi wajah. Rasa perih akibat tamparan Ruth di pipinya entah mengapa menembus ke ulu hati lelaki itu. Rasanya Arka ingin sekali memberi pelajaran untuk dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia membiarkan kedua sisi pipi Ruth basah? "Kamu juga bakalan anggap anakku sebagai pembawa sial?" Arka berdecak. Meringis layaknya seorang narapidana yang menyesali setiap hal yang telah dilakukan. Semenjak melangkahkan kaki keluar dari kamar hotel, kalimat itu terus terngiang-ngiang di kepalanya. Seolah sengaja berlama-lama untuk tetap tinggal di pikiran Arka. Arka mendongak. Mengacak rambutnya dengan kasar tanpa menghiraukan angin-angin yang berhembusan ke sana kemari.

