3. Romanticism 3.50

1489 Kata
Arka mengerutkan alis menatap Ruth. Di matanya, gerak-gerik perempuan itu terlihat begitu meresahkan. "Kenapa?" "Berhenti dulu." Segera Arka menepikan mobilnya ke pinggir jalan. Ruth melepas sabuk pengamannya lalu membuka kaca mobil. "Kalau ga nyaman di dalam mobil kita keluar aja dulu," ujar Arka. Lelaki itu ikut melepas sabuk pengaman yang dikenakan lalu menoleh menatap Ruth. Ruth tidak menjawab. Ia juga tidak menoleh ke arah Arka. Nyeri di perutnya terasa kian menjadi-jadi. Membuat suasana hatinya yang memang sudah buruk menjadi tambah lebih buruk. "Kamu tunggu di sini sebentar," ucap Arka. "Hm." Arka membuka pintu kabin mobil. Beranjak meninggalkan Ruth sendirian di sana. Selagi Arka pergi entah ke mana, Ruth juga membuka pintu kabin mobil. Saat ini yang dibutuhkan Ruth hanyalah udara segar. Bahkan perempuan itu nampak enggan beranjak dari jok kursi mobil. Ruth menghela napas lalu menyandarkan tubuhnya ke jok kursi mobil. Helaan napas perempuan itu terdengar begitu berat. Sungguh, Ruth merasa benar-benar seperti orang bodoh. Bisa-bisanya ia tidak mengenali hal yang sangat harus diwaspadainya. "Ruth." Panggilan dari Arka membuat Ruth kembali duduk dengan tegak. Perlahan, perempuan itu mendongak menatap Arka yang kini berdiri tepat di hadapannya. Arka merunduk. Berusaha menyamakan posisinya dengan Ruth. Lelaki itu tersenyum pada Ruth sembari memberinya obat mujarab andalan rakyat +62. Minyak kayu putih. Ruth membalas senyuman Arka dengan senyumannya yang begitu tipis. Hingga Arka tidak yakin apakah Ruth benar-benar membalas senyumannya atau tidak. Ruth mengambil alih benda itu. Ia mengusap beberapa tetes minyak kayu putih ke pangkal hidungnya. "Jam berapa?" Ruth berujar pelan. Sepertinya rasa nyeri di perut perempuan itu benar-benar membuat energinya terkuras. "8.24." Arka menjawab seadanya lalu kembali masuk ke mobil. Lelaki itu berinisiatif menyelimuti Ruth dengan selimut merah muda yang biasanya dipakai oleh adik perempuan lelaki itu. Arka mengambilnya dari jok kursi belakang. "Biar kamunya ga masuk angin," ucap Arka. "Kamu mau minum? Atau mau makan apa? Tadi pas di restoran kamu 'kan belum sempat makan." "Makannya nanti aja. Kalau dipaksain takutnya malah ...." Arka mengangguk paham. Ia beralih mengambil air mineral yang baru saja dibeli. "Minum?" Ruth mengangguk. Arka membuka tutup botol air mineral itu lalu memberikannya pada Ruth. Ruth meneguk air mineral tersebut dengan perlahan. Ia hanya meminumnya beberapa teguk. Ruth menutup pintu kabin mobil, menyandarkan tubuh ke jok kursi mobil lalu memejamkan mata. "Kamu kok baik banget? Padahal lagi ga ada orang tua kita juga." Ruth membuka mata, menoleh menatap Arka. "Aku yakin, kamu pasti tau kalau aku ga setuju sama perjodohan itu." "Aku juga yakin, kamu pasti tau kalau aku juga ga setuju sama perjodohan itu." Arka tersenyum masam. "Tapi ya mau gimana lagi? Susah juga nolak maunya Mama." "Emang kamu ga punya pacar gitu? Yang bisa kamu kenalin sebagai calon istri ke mama kamu." "Emang kamu punya?" Telak. Ruth dibuat bungkam hanya dengan satu pertanyaan itu. Ia mendelik ke arah Arka. "Aku sempat denger obrolan Mama sama Papa. Katanya kita bakalan nikah bulan depan." Ruth terperanjat. Matanya tampak kian melebar. "Serius?" Arka mengangguk mengiyakannya. "Ada ga sih cara supaya perjodohan ini batal?" Ruth menghela napas, memijit pelipisnya yang terasa sakit. "Kira-kira berapa persen kamu bisa ngebatalin perjodohan kita?" tanyanya. Arka menaikkan kedua bahu. "Kayaknya sih cuma 0.01%. Mengingat ketatnya peraturan Papa. Kamu?" "-0.01%. Mungkin kalau aku nolak, namaku bakal dicoret dari KK." Ruth berdeham, menatap Arka penuh sangsi. "Namamu ... Arka, 'kan?" Untuk sesaat, Arka terdiam. Lelaki itu tampak takjub menyadari sifat Ruth yang begitu tak acuh. "Iya. Arka Ravindra. Kuharap kamu ga lupa lagi sama namaku," ujarnya. * Getaran gawai milik Karina membuat lamunan Ruth buyar. Ruth meraih benda elektronik itu dari atas meja lalu memberikannya pada Karina. "Kak, ada yang telepon nih." Karina buru-buru mengambil gawai miliknya lalu berlari pelan ke luar rumah. "Kebiasaan banget si Kakak, Bun. Dari dulu sampe sekarang telat mulu. Dipecat baru tahu rasa Kak Karin," ucap Ruth. Pandangannya masih terfokus ke arah Karina yang tampak kesusahan memakai sepatu hak tinggi. Padahal tinggal pakai saja, tetapi tampaknya itu bukan hal yang mudah bagi Karina saat ini. "Hus! Omonganmu itu ...," Bunda menarik kursi lalu duduk di hadapan Ruth. "Gimana semalam pas dianterin Arka? Arka baik ga sama kamu?" Alis Ruth bertaut menatap Bunda. "Semalam ya gitu. Dia anterin aku pulang." "Arka baik sama kamunya?" Bunda kembali bertanya menanyakan hal yang sama. Ruth dibuat tambah heran. Bukannya Bunda sangat mendukung hubungannya dengan Arka? "Baik sih. Kenapa, Bun?" Bunda menghembuskan napas pelan. Wanita itu nampak lega mendengar jawaban dari si bungsu. "Bunda." "Bunda cuma khawatir aja. Sebenernya, Bunda merasa bersalah sama kamu, Nak. Kali ini Ayah sama Bunda egois banget, 'kan? Maksain kamu supaya nikah sama Arka. Bunda cuma ga mau apa yang dialami Karina keulang di kamu. Bunda dan Ayah ga mau kalian kenapa-napa." Ruth terdiam lama. Alasan itu sama sekali tidak pernah terbesit di pikirannya. "Tapi ... andaikan kamu bener-bener ga mau sama Arka, kasih tau Bunda ya. Gimanapun juga, kebahagiaan kamu, hal apa yang kamu inginkan lebih penting." Ruth hanya tersenyum sebagai respon untuk Bunda. Sementara Bunda tampak canggung. Wanita itu beranjak dari kursinya. "Bunda mau ke rumah sebelah sebentar." Bunda menoleh menatap Ruth. "Tadi kamu bilang mau ketemu Laura, gak jadi?" Akhirnya Ruth ikut beranjak dari sana. Ia berjalan menghampiri Bunda. "Jadi kok, Bun." Ruth tersenyum. "Soal perjodohanku sama Arka ... Boleh ya kuomongin lagi sama Arka? Liat nanti gimana, kalau batal ... Bunda janji jangan marahin aku. Jangan sakit juga." Bunda terkekeh. Tangannya terulur mengusap surai rambut Ruth. "Oke. Bunda janji." Ruth memeluk erat Bunda. "Uh, sayang Bunda deh." "Bunda juga ga sayang Ruth." "BUNDA!!" * "Jadi gimana, Ruth? Tampan dan mapan gak calon suami lo?" Ruth berdecak mendengar pertanyaan tidak bermutu dari sahabatnya. "Yang lo tau cuma tampan dan mapan doang ya, Ra." Laura, perempuan berambut pendek itu tertawa keras. "Temenan sama lo bisa gila gue lama-lama." Ruth berdecak melihat kelakuan Laura. "Becanda doang, Ruth. Cuma becanda." Laura bersedekap dengan sebelah tangannya yang menopang dagu. "Jadi? Setelah Tante Laras ngomong begitu ... lo berubah pikiran? Pasrah aja gitu sama perjodohan lo?" Ruth terdiam sesaat. "Kayaknya sih iya. Pasrah aja gue mah. Lagi pun lagi jomblo juga." "Bentar deh. Bentar." Laura mendelik pada Ruth. "Emang lo pernah gak jomblo? Setau gue lo belum pernah tuh sama yang namanya pacaran. Jatuh cinta aja lo belum pernah." Ruth menyengir. Menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Memang, hanya Laura-lah yang paling tahu seluk-beluk tentang pahit-manisnya kehidupan Ruth. "Si Arka-Arka itu baik 'kan sama lo?" Laura kembali bertanya. "Sejauh ini sih baik. Aih, belum tau juga gue. Baru ketemu sekali doang soalnya. Takutnya 'kan ya, Ra ... kalau seandainya gue jadi nikah sama dia, dianya malah berubah kayak psikopat. Ngeri banget kan, Ra? " Laura mengangguk beberapa kali. Memang itu terdengar terlalu dilebih-lebihkan, tapi tidak ada salahnya juga 'kan untuk lebih waspada? Lebih-lebih lagi Ruth sama sekali tidak tahu seluk-beluk lelaki yang akan menjadi pasangan hidupnya. "Yang penting—" "Ruth?" Atensi keduanya teralihkan kala mendengar panggilan untuk Ruth. "Eh? Arka?" Ruth mengernyit. "Ngapain di sini? Ada urusan ya?" Arka tertawa pelan mendengar pertanyaan Ruth. "Padahal semalam aku udah kasih tau kalau aku yang punya restoran ini." Ruth meringis. Kembali merutuki dirinya di dalam hati. Sementara Laura menahan malu memiliki sahabat yang kelewat cuek seperti Ruth. Bisa-bisanya Ruth tidak menghiraukan hal sepenting itu? Huh. Ingin rasanya Laura meruqiyah Ruth. "Aku boleh gabung?" tanya Arka sembari menatap Ruth dan Laura bergantian. "Boleh kok. Boleh banget malah," ujar Laura sembari mempersilakan duduk lelaki berkulit putih itu. "Duduk aja di sana. Di sebelahnya Ruth. Biar gue bisa nilai kira-kira kalian sejoli atau enggak," lanjut Laura. Ruth mengumpati Laura dalam hati. Ia dibuat tambah kesal karena Arka benar-benar duduk di sebelahnya. "Gue Laura Adiva. Sahabatnya Ruth dari entah kapan. Intinya kita udah lama menjalin hubungan persahabatan. Lo?" Laura nampak menaikkan sebelah alisnya menatap Arka. Arka melirik menatap Ruth. "Aku ngenalin diri sebagai siapanya kamu nih, Ruth? Temen? Pacar? Tunangan?" "Calon suami." Ruth berdecak, menatap galak Arka. "Lagi pun ngapain tanya-tanya sih? Harus banget gitu nanya soal ini sama aku?" Arka menggaruk tengkuknya yang tak gatal lalu meminta maaf pada Ruth. Dari dahulu sampai sekarang Arka memang bukan ahlinya dalam berkomunikasi dengan orang-orang yang baru dikenal. Diam-diam Laura nampak tersenyum puas. "Kalian lucu banget tau ga? Gemes banget ih nonton keuwuan kalian. Cepet-cepet nikah deh. Udah dapet restu dari gue juga," ujar perempuan itu. Ruth terperangah mendengar hal tersebut. Nampaknya Laura menyepelekan hal yang dianggap Ruth sebagai taruhan hidup masa depannya. Laura berujar dengan begitu santai seolah tidak memiliki beban apapun. "Berisik, Laura." Ruth mendengus. Arka tertawa pelan melihat interaksi Ruth dengan Laura. "Aku permisi. Kalian pasti mau ngomongin banyak hal juga." Arka beranjak dari kursinya. Baru sejenak, langkah lelaki itu terhenti lalu menoleh menatap Ruth. "Oya, pesanannya jangan lupa dibayar ya. Ga ada acara gratis-gratisan walaupun aku calon suamimu, Ruth." Ruth terperangah mendengar hal itu. Ia benar-benar tidak menyangka seseorang seperti Arka yang kelihatannya baik hati serta tidak pelit itu malah bersikap sebaliknya. Dugaannya salah. Ekspekstasi Ruth benar-benar hancur. Ternyata Arka tidak sebaik yang dipikirkannya. Sementara Laura nyaris kehabisan napas karena asyik menertawai nasib sahabatnya, Ruth.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN