Tubuh Virghi tersentak ke depan saat tahu mobil yang ditumpanginya mengerem mendadak.
"Apa yang terjadi?" tanya Virghi terperanjat. "Kamu menabrak sesuatu?"
"Maaf, Pak! Saya tidak lihat ada nona itu!" sahut sopir bernama Dery.
Kissia membungkuk untuk memunguti brosurnya yang berceceran setelah sebelumnya dia terkapar dan keningnya menghantam jalan. Dia berdiri dan menoleh ke arah mobil yang ditumpangi Virghi.
"Maaf Nona, kamu tidak apa-apa?" tanya Dery dengan wajah bersalah.
"Tidak," jawab Kissia sambil menggelengkan kepala.
Virghi menoleh dan matanya bertatapan dengan Kissia selama beberapa detik.
"Kemari," suruh Virghi datar sembari menggerakkan jari telunjuknya, mengisyaratkan kepada Kissia agar mendekat ke mobilnya.
Kissia bergeming, khawatir jika dia dituntut pertanggungjawaban sedangkan yang lecet justru dahinya akibat terbentur tadi sementara mobil yang menabraknya mulus-mulus saja.
Sorot mata Virghi mendesak Kissia untuk maju mendekat.
"Ini untuk berobat," kata Virghi sembari mengulurkan beberapa lembar uang kertas ke arah Kissia. "Lain kali hati-hati kalau jalan."
Kissia bergeming di depan jendela mobil Virghi.
"Kenapa? Kurang?" tanya Virghi dengan sebelah alis terangkat. Dia menambahkan beberapa lembar uang lagi dan menaruhnya di antara jemari Kissia yang sedang memegang tasnya.
"Tidak perlu," tolak Kissia sambil mendorong tangan Virghi menggunakan tas yang dipegangnya. Setelah itu dia berjalan pergi dari hadapan Virghi tanpa sepatah katapun.
Ekor mata Virghi melirik kepergian Kissia tanpa berusaha mencegahnya.
"Jalan sekarang," perintah Virghi kepada Dery.
"Baik, Pak!" Dery terperanjat, kemudian buru-buru menginjak pedal gas dan mobil melaju pergi sesuai perintah sang majikan.
Kissia langsung menghentikan taksi yang lewat di depannya ketika dia tiba di sebuah jalan besar.
"Duh ..." rintih Kissia sambil memperhatikan keningnya yang lebam menggunakan kamera ponsel ketika dia sudah duduk nyaman di dalam taksi. Kissia harus tetap pergi ke panti asuhan tempat dirinya tinggal sebelum diadopsi keluarga Helvin.
"Nona yakin mau ke panti asuhan itu?" tanya sopir taksi dari tempat duduk depan.
Kissia cepat-cepat meratakan anak rambutnya ke keningnya untuk menyamarkan lebam, setelah itu dia membenarkan ucapan sopir taksi.
"Memangnya ada apa, Pak?" tanya Kissia ingin tahu.
"Kalau tidak salah, panti asuhan itu sudah tutup beberapa tahun yang lalu." Sopir taksi menjelaskan sambil terus mengemudi.
Kissia termenung, dia akan tetap pergi ke sana karena sudah telanjur berada di jalanan. Setidaknya dia harus tahu kenapa dia bisa berada di panti asuhan itu.
Setibanya di lokasi, Kissia melihat bangunan tak terurus dengan pagar ilalang yang mengelilinginya. Banyaknya lapisan cat yang mengelupas di sana sini membuatnya yakin bahwa panti asuhan telah telantar lama tanpa ada petugas yang merawatnya.
Tepat beberapa meter dari pintu gerbang yang digembok dengan rantai besi, Kissia mendongak dan melihat papan lusuh dengan tulisan "Panti Asuhan Tebar Kasih" yang huruf-hurufnya sudah tak utuh lagi.
"Nona, argonya terus berjalan!" Sopir taksi mengingatkan.
"Sebentar!" sahut Kissia sembari mengamati papan nama panti selama beberapa saat.
Selanjutnya Kissia masuk kembali ke taksi yang masih menunggu.
"Antar saya ke rumah, Pak." Kissia meminta sambil menyebutkan alamat rumah orang tua angkatnya.
Setibanya di kamar, Kissia meraih tasnya dan mengambil ponsel untuk mencari informasi lebih jauh tentang sejarah panti asuhan Tebar Kasih. Namun, hanya ada secuil informasi yang tertera di setiap website yang Kissia temukan di antaranya tanggal panti asuhan didirikan dan waktu operasinya, tapi tidak ada penjelasan lebih rinci tentang sebab ditutupnya bangunan itu hingga menjadi terbengkalai.
Kissia memejamkan kedua matanya rapat-rapat dan membayangkan kembali kejadian saat dirinya terserempet mobil pria itu.
“Kenapa malah terbayang sama dia sih
...” Seketika Kissia menggelengkan kepalanya dan meletakkan ponsel itu ke atas meja.
“Kiss!” Terdengar suara Feli memanggil adik angkatnya. “Sini bantu aku!”
Kissia cepat-cepat berjalan pergi mendatangi Feli sebelum kakak angkatnya itu meradang karena lama menunggu.
“Kenapa, Kak?” sambut Kissia buru-buru, dia tercengang melihat Feli menenteng banyak tas belanjaan di tangan.
“Kamu tidak lihat kalau aku kerepotan?” ketus Feli sembari melesakkan semua belanjaannya ke tangan Kissia. “Bawa ke kamarku, jangan sampai ada yang jatuh atau aku akan minta ganti rugi sama kamu.”
“Tapi ...” Kissia ingin memprotes saat setidaknya lima tas belanja dipasrahkan kepadanya begitu saja. Namun, Feli tidak mendengarkan dan langsung pergi meninggalkan Kissia sendirian di halaman.
***
“Sudah sampai, Pak.” Dery menoleh menatap Virghi setelah mobil yang dikemudikannya menepi di halaman kantor klien Giordano.
“Oke,” angguk Virghi sembari memasukkan kembali beberapa map yang dia pelajari secara kilat selama dalam perjalanan termasuk lembaran uang yang berserakan di sampingnya. Saat dia akan turun, Dery dengan sigap membukakan pintu mobil untuknya.
“Silakan masuk, Pak.” Petugas keamanan kantor menyambut dengan ramah setelah Virghi memperkenalkan diri dan tujuannya datang ke perusahaan. Selanjutnya seorang CEO yang bersangkutan muncul dan mengantarnya ke ruang rapat yang ada di lantai tiga.
“Bagaimana perjalanannya, Pak?” sapa pria sepantaran Virghi yang mengenakan setelan jas resmi berwarna biru dongker. “Lancar?”
“Ada sedikit kendala, tapi tak masalah.” Virghi menyahut basa-basi itu sambil tersenyum singkat tak lebih dari dua detik lamanya.
Pria itu mengangguk sopan dan tidak bicara lagi selama lift melaju ke lantai tiga.
Setibanya di ruang rapat, beberapa orang peserta meeting berdiri dan menyambut Virghi yang baru saja bergabung.
“Maaf kalau saya terlambat,” ucap Virghi saat dia dipersilakan duduk oleh klien Gennaro yang bernama Kevin.
“Anda datang tepat waktu,” sahut Kevin segera. “Baiklah, kalau begitu kita bisa mulai rapatnya sekarang. Anda bawa semua berkasnya, Pak?”
Virghi menganggukkan kepala.
“Sebelumnya saya ikut berduka atas musibah yang menimpa Pak Gennaro,” kata Kevin ketika Virghi sibuk mengeluarkan map yang akan mereka bahas dalam rapat.
“Terima kasih Pak, kakak saya sudah ditangani dengan baik dan semoga cepat pulih.” Virghi menimpali dan mengeluarkan setumpuk map lalu membagikannya kepada para peserta rapat.
Virghi duduk menyandarkan punggungnya dan membuka mapnya sendiri, saat seorang peserta rapat tiba-tiba bersuara:
“Maaf Pak Virghi, ada brosur yang terselip di map ini.”
Beberapa orang yang ada di ruangan itu menoleh ke arah pemilik suara, termasuk Virghi.
“Brosur apa, Pak?” tanya Virghi sambil mengernyit. “Saya tidak menyelipkan brosur apa pun yang tidak ada hubungannya dengan rapat hari ini.”
Betapa kagetnya Virghi saat orang itu mengulurkan beberapa lembar brosur sembari tersenyum simpul.
"Anda ingin kuliah lagi, Pak?”
Virghi menerima brosur itu dengan kening berkerut, tapi dia berusaha tidak menganggap serius gangguan kecil ini. Setelah itu Virghi segera membawa suasana santai tersebut ke dalam rapat yang sesungguhnya.
“Antar aku ke rumah sakit,” suruh Virghi ketika rapat sudah selesai.
“Baik, Pak.” Dery mengangguk sambil membukakan pintu mobil untuk Virghi.
Sesaat kemudian mobil yang dikemudikan Dery melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit tempat Giordano dirawat. Dan Virghi sudah duduk bersandar dengan nyaman di mobil sembari memandangi beberapa lembar brosur yang tiba-tiba saja ada padanya.
Virghi jadi berpikir, apakah brosur-brosur ini milik perempuan tadi?
Bersambung –