Kissia tidak dapat menutupi mendung yang menyelimuti wajahnya setelah buku-buku dan dokumen penting miliknya dibakar Helvin di depan mata kepalanya sendiri.
"Sayang, bersemangatlah!" seru Ivanka yang tidak tega melihat Kissia bermuram durja. "Kamu masih muda, jalan kamu masih panjang."
Kissia menarik napas panjang.
"Aku tahu, Bu. Tapi rasanya aku nggak bisa terima saat ayah tega membakar semua mimpiku ..." ratap Kissia tanpa daya.
Ivanka mengusap-usap bahu putri angkatnya, dia juga sama tidak berdayanya dengan Kissia dalam menghadapi ketegasan Helvin.
"Pertemuan kalian dengan kedua putra Pak Alanzo Rico akan dilangsungkan akhir minggu ini," kata Helvin memberi tahu saat semua anggota keluarga berkumpul di meja makan untuk santap malam.
Kissia enggan berkomentar soal hal ini. Namun, Feli langsung memekikkan rasa antusiasnya terhadap kabar berita yang disampaikan oleh sang ayah.
"Aku akan mempersiapkan diriku sebaik mungkin untuk menyambut pertemuan dengan dua putra terhormat itu!" ucap Feli dengan wajah berseri-seri.
Kissia diam saja dan memilih untuk mengunyah makanannya tanpa bersuara sedikitpun.
"Kamu harus tampil sempurna, jangan sampai membuat malu ayah." Helvin menimpali.
"Tentu saja enggak, Yah!" geleng Feli bersemangat. "Aku kan sudah menunggu pertemuan ini sejak lama. Semoga Pak Giordano benar-benar sudah pulih sehingga bisa segera bertemu dengan adikku Kissia."
Feli melirik Kissia yang duduk nyaris tanpa ekspresi di depannya, Helvin terbatuk sebentar dan ikut memandang putri angkatnya.
"Kissia, kamu sebaiknya juga harus mempersiapkan dirimu sebaik mungkin. Bersikaplah manis dan jangan bikin masalah," ujar Helvin dengan nada tegas.
Ivanka langsung menyambar cepat.
"Aku kenal betul bagaimana Kissia." Dia mendelik ke arah Helvin.
"Ibu, sudah ...." Kissia menggelengkan kepala, dia tidak ingin ada keributan panjang hanya karena Ivanka membelanya.
"Aku hanya mengingatkan putri angkat kita," sahut Helvin beralasan. "Kita akan lihat apakah Kissia persis seperti yang kamu katakan tadi, Ivanka."
Sementara orang tuanya berdebat, Feli lebih memilih untuk membayangkan hal yang indah-indah saat hari pertemuan itu tiba. Terlebih dia sudah tahu seperti apa wajah Virghi meskipun hanya lewat sebuah foto.
Mendadak Feli teringat Giordano, tunangannya yang asli. Sebenarnya Giordano sama sempurnanya seperti Virghi, tapi kecelakaan hebat yang sempat dia alami membuat Feli merasa ragu apakah Giordano bisa pulih seperti semula.
Menurut Feli akan jauh lebih aman jika dia menukar posisinya dengan Kissia sehingga adiknya itulah yang akan bertunangan dengan Giordano.
"Kissia, bersemangatlah!" Ivanka selalu mengatakan hal itu setiap kali melihat wajah murung Kissia yang berselimut mendung. "Kamu tidak harus menuruti semua yang ayah kamu katakan, jadilah diri kamu sendiri."
Kissia yang sedang melipat baju-bajunya di depan lemari, menoleh memandang ibu angkatnya.
"Kalau begitu nggak masalah kan kalau aku nggak datang ke pertemuan itu?" tanya Kissia penuh harap, meskipun itu jelas tidak mungkin.
"Kissia, untuk hal ini kamu harus tetap datang." Ivanka menyarankan. "Bukan apa-apa, sepertinya ayahmu masih marah soal tes universitas itu. Jadi ibu tidak mau ayahmu semakin marah kalau kamu sampai tidak datang ke pertemuan dengan putra Pak Alarico."
Kissia menghentikan gerakan tangannya dan memandang Ivanka.
"Sepertinya Ibu benar, aku nggak punya pilihan selain datang ke pertemuan itu." Kissia menarik napas panjang. "Siapa tahu ... calon tunanganku itu seperti yang Ibu harapkan, mau bantu aku mendapatkan izin dari ayah untuk bisa kuliah."
Ivanka mengangguk menyemangati.
"Selalu ada jalan kalau kamu yakin, Sayang." Dia membelai kepala Kissia, kemudian mencium keningnya cukup lama.
***
Kediaman keluarga Alanzo Rico sedang didekor habis-habisan dalam rangka acara pertemuan kedua pasangan calon tunangan yang diadakan akhir minggu ini.
Alanzo sudah sering mengingatkan kedua putranya untuk menyempatkan waktu setidaknya dua jam untuk menghadiri pertemuan itu.
"Kalian juga harus tampil sempurna besok malam," kata Alanzo mengingatkan saat Giordano dan Virghi baru saja meletakkan sendok di atas piring. "Jangan sampai kalian mempermalukan ayah di depan koneksi ayah."
Giordano mengernyitkan keningnya.
"Aku jadi penasaran, secantik apa mereka itu. Apa Ayah nggak mau menunjukkan fotonya sebentar padaku?" tanya Giordano sambil memandang ayahnya. "Minimal kasih tahu aku siapa namanya."
Alanzo tersenyum singkat.
"Nama dan foto tidak terlalu penting," komentarnya tenang.
Kali ini, Virghi memutuskan unjuk suara.
"Terserah Ayah, tapi aku nggak mau kalau harus membeli kucing dalam karung." Dia berkata angkuh.
"Kamu ini bicara apa," tegur Levina. "Tunangan kamu itu manusia, bukannya kucing."
Alanzo memandang Giordano dan Virghi bergantian.
"Tentu saja kalian akan melihat langsung seperti apa calon tunangan kalian besok malam," katanya sependapat. "Ayah juga tidak sembarangan memilih calon menantu, kalian tahu kan seperti apa keluarga kita di mata masyarakat?"
Giordano menganggukkan kepala.
"Aku kira ini semacam perjodohan balas budi," komentarnya. "tapi aku lega karena Ayah tetap mempertimbangkan soal kualitas."
"Tentu saja," sahut Levina sebelum Alanzo membuka mulutnya. "Sebagai orang tua, ayah dan ibu ingin kalian mendapatkan calon istri yang sesuai."
"Aku tahu," angguk Giordano paham.
Hari demi hari berlalu dengan cepat, Kissia sedikit terkejut saat Feli mengajaknya untuk pergi ke salon kecantikan beberapa jam sebelum pertemuan dengan calon tunangan mereka.
"Jangan salah paham dulu," ujar Feli ketika dia melihat mata Kissia sedikit berbinar di depan koleksi baju-baju branded di hadapannya. "Aku nggak mau kamu tampil memalukan di pertemuan nanti, karena itu juga akan membuat aku dan ayah kita malu. Jadi karena salon di sini menyediakan baju-baju bagus, kamu bisa sewa satu hari. Ayah juga kasih kita uang untuk dandan di salon ini."
Kissia mengangguk saja.
"Terima kasih, Kak." Dia menyahut dan memilih dress dengan model sopan sesuai anak seumurannya sementara Feli melenggang pergi untuk mempercantik diri.
Kissia berpesan kepada pegawai salon untuk merias wajahnya dengan natural dan sesuai umur karena dia tidak ingin didandani seperti wanita dewasa kebanyakan. Permintaannya ini sempat mengundang ejekan dari Feli yang menganggapnya kuno dan tidak mengerti fashion.
"Calon tunangan kita itu tentunya sudah dewasa dari kita dan pasti mereka lebih suka wanita matang," komentar Feli sok tahu.
"Aku kan memang belum dewasa," balas Kissia dari sudut bibirnya. "aku masih delapan belas tahun."
Ketika Kissia dan Feli selesai mempercantik diri di salon, mereka berdua segera kembali ke rumah.
"Cantiknya anak-anak ibu," sambut Ivanka ketika Kissia dan Feli tiba di rumah. "Feli, ayah mencarimu tadi."
"Aku akan ke ruang kerja ayah," angguk Feli sambil meneruskan langkah.
Ivankq lantas menoleh memandang Kissia.
"Ibu suka melihat penampilan kamu seperti ini," komentarnya. "Sederhana tapi cantik."
Kissia tersenyum dalam kegugupannya.
"Bu, apa aku harus datang ke pertemuan ini?" tanya Kissia seakan meminta pertimbangan lain.
"Kissia, apa maksud kamu? Kita pernah bicara soal ini sebelumnya," jawab Ivanka gusar. "Ayahmu bisa saja masih marah, ibu tidak mau dia mencari alasan untuk semakin marah sama kamu."
Kissia terdiam membisu, mau tidak mau dia terpaksa ikut serta dalam pertemuan dengan calon tunangannya.
Bersambung –